Spesialisasi dari ‘Pemimpin Senior’ Ini Adalah Menggalang Dana Dan Perekrutan Pejuang Baru
Tariq bin Tahar al-Harzi, seorang pemimpin senior Islamic State atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang memiliki kemapuan khusus dalam menggalang dana, merekrut pejuang baru dan juga memasok senjata untuk ISIS, terbunuh oleh serangan udara koalisi di Suriah, kata Pentagon seperti yang dikutip dari laman Antaranews.com.
Tariq Bin-al-Tahar Bin al Falih al-‘Awni al-Harzi, nama lengkap dari si pemimpin, diberitakan terbunuh di kota Shaddadi pada 16 Juni, kata juru bicara Pentagon Kapten Laut Jeff Davis. Saudaranya, Ali, yang juga seorang perekrut ISIS dan orang di balik serangan Benghazi pada tahun 2012, sudah terbunuh oleh sebuah serangan udara sehari sebelumnya.
Pentagon mengatakan Tariq Bin-al-Tahar Bin al Falih al-‘Awni al-Harzi “bertanggung jawab atas pergerakan manusia dan barang masuk ke Suriah dan Irak serta juga menggalang dana untuk merekrut pejuang dan memfasilitasi perjalanan rekrutmen baru.”
Dia juga bertanggung jawab dalam pencarian dan pengapalan senjata untuk ISIS dari Libya ke Suriah, selain membantu para pelaku bom bunuh diri. Pentagon menyebut kematiannya sebagai pukulan telak bagi ISIS.
“Kematiannya akan mempengaruhi kemampuan ISIS dalam mengintegrasikan para pejuang teroris asing ke pertempuran Suriah dan Irak, selain juga dalam perpindahan manusia dan perlengkapan di sepanjang perbatasan antara Suriah dan Irak,” kata Davis.
Sebelumnya, Pemerintah Amerika Serikat sempat menawarkan imbalan sebesar US$20 juta (Rp 260 miliar) bagi siapapun yang memiliki informasi mengenai empat pemimpin kelompok milisi ISIS. Yang salah satunya merupakan Tariq bin Tahar al-Harzi.
Keempat figur pemimpin kelompok ISIS yang diincar pemerintah AS adalah Abd al-Rahman Mustafa al-Qaduli, Abu Mohammed al-Adnani, Tarkhan Tayumurazovich Batirashvili, dan Tariq Bin-al-Tahar Bin al Falih al-‘Awni al-Harzi.
Tariq bin Tahar al-Harzi merupakan salah satu buronan lama Amerika Serikat. Dirinya adalah orang yang dianggap bertanggung jawab atas serangkaian serangan di Libya, yang menargetkan Kedutaan Besar Amerika Serikat di negara tersebut. (Syaifulloh Amir / DZ).
Baca: ISIS Rekrut Anggota Taliban, Perdamaian Afganistan Terancam


