Jakarta, 3 September 2026 – Polda Metro Jaya merilis dua sketsa wajah terduga pelaku pengeroyokan yang menyebabkan pedagang cermin, Bambang Setyawan (59), tewas dalam kerusuhan usai aksi demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026) .
Sketsa tersebut dirilis dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Rabu (2/9/2026) . Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin mengatakan, sketsa dibuat berdasarkan keterangan 14 orang saksi serta analisis rekaman video, CCTV, dan konten media sosial yang terkait dengan peristiwa tersebut .
“Penyidik telah melakukan persesuaian antara keterangan saksi dan hasil analisis digital, didapatkan sketsa wajah yang mengarah kepada terduga pelaku pengeroyokan dan atau penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang,” ujar Iman.
Ciri fisik terduga pelaku pertama adalah laki-laki berusia 30-40 tahun dengan bentuk wajah oval, alis tipis, bibir tebal, hidung pendek, bola mata hitam, dan kulit cokelat . Sementara terduga pelaku kedua juga laki-laki usia 30-40 tahun dengan bentuk wajah kotak, hidung pesek, bibir bawah tebal, berkumis dan berjanggut, bola mata hitam, serta kulit cokelat
Polisi Bantah Keterlibatan Ormas
Iman menegaskan bahwa kedua terduga pelaku bukan bagian dari organisasi masyarakat (ormas) manapun . “Berdasarkan hasil penyidikan dan keterangan saksi yang kami peroleh di dalam proses penyidikan, kami belum menemukan adanya indikasi bahwa pelaku ini adalah merupakan anggota komunitas tertentu,” tegasnya .
Polisi juga menegaskan bahwa para pelaku pengeroyokan bukanlah peserta unjuk rasa yang menyampaikan aspirasi, melainkan perusuh yang datang untuk melakukan perusakan .
Dikritik Kriminolog, Polisi Tetap Sebar Sketsa
Keputusan polisi menggunakan sketsa wajah menuai kritik dari kriminolog sekaligus psikolog forensik Reza Indragiri Amriel. Menurutnya, sketsa berbasis ingatan saksi dalam situasi kritis rawan bias dan merupakan kemunduran dari pendekatan scientific crime investigation berbasis teknologi .
Meski demikian, polisi tetap menyebarkan sketsa ke publik dan terus melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku . Polisi juga berkomitmen mengusut aktor intelektual, penggerak, dan penyandang dana di balik kerusuhan tersebut .






