Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum divonis kurungan selama 14 tahun dan denda 5 miliar rupiah oleh hakim Mahkamah Agung (MA). Vonis ini memicu kontra dari Perhimpunan Magister Hukum Indonesia (PMHI). Fadli Nasution, Ketua PMHI mengatakan, konferensi pers yang digelar MA terkait vonis yang dijatuhkan kepada Anas sebagai cara untuk menarik dukungan dan persetujuan publik.
“Aneh, kalau MA justru menggelar konferensi pers yang khusus untuk mengomentari vonis Anas, apakah setiap ada vonis MA diadakan konferensi pers seperti itu?” kata Fadli. Vonis yang dijatuhkan MA menurut Fadli cukup aneh, karena dua pengadilan sebelumnya memberikan hasil yang tidak bulat. Pada pengadilan pertama, menurutnya, terdapat perbedaan pendapat antara hakim yang memutuskan perkara hingga vonis dijatuhkan, sedangkan pada pengadilan Tinggi Jakarta, hukuman Anas Urbaningrum malah dikurangi menjadi 7 tahun, dan beberapa asetnya yang tidak terbukti terkait kasus dikembalikan.
“Kalau MA menganulir putusan Pengadilan Tipikor dan PT DKI karena dianggap keliru, seharusnya ada sanksi kepada majelis hakim yang memutusnya,” kata Fadli. Di sisi lain, Anas Urbaningrum sendiri sangat kecewa dengan keputusan hakim Mahkamah Agung. Ia mengatakan, vonis tersebut telah menghancurkan keadilan, dan melukai kebenaran dan kemanusiaan. “Palu hakim kasasi berlumuran darah oleh nafsu menghukum yang menyala-nyala,” kata Handika Honggo Wongso, kuasa hukum Anas di Jakarta.
Anas PK Vonis Hakim Mahkamah Agung
Menanggapi jatuhnya vonis, Anas sendiri, menurut kuasa hukumnya menginginkan langsung diambil langkah untuk peninjauan kembali (PK). Langkah peninjauan kembali ini diambil Anas sewaktu ditemui tim kuasa hukumnya di rutan, menganggap keputusan hakim memporak-porandakan keadilan. Anas sendiri dikabarkan cukup terkejut dengan hasil bandingnya tersebut, ia semula mengira hakim Mahkamah Agung bisa mengoreksi keputusan-keputusan hakim sebelumnya, tapi ternyata menurut anas, hakim Mahkamah Agung malah menunjukkan sikap sadisme terhadap keadilan.
“Putusan kasasi malah lebih tidak adil, makin bikin susah tapi keluarga akan tetap tabah dan terus mendukung Mas Anas untuk melakukan upaya hukum supaya mendapat keadilan,” kata Handika. Mengutip pernyataan dari loyalis Anas yang tergabung di akun twitter @sahabat_anas yang disebarkan melalui pesan blackberry messenger, Anas mendoakan supaya tiga hakim yang memutus perkaranya semakin tenar.
“Semoga Pak Artidjo Alkostar makin tenar, Pak MS Lumme makin kece, Pak Krisna Harahap makin mantan. Tenar, kece dan mantap di atas kuburan keadilan,” tulis mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam itu.






