Jakarta, IndonesiaVisioner-. Prahara internal selama satu tahun lebih yang dialami partai Golkar, mestinya harus menjadikan momentum MUNASLUB menjadi titik balik untuk meninggalkan keterpurukan yang dialami akhir-akhir ini. Sebab, konflik tidak terlalu menguntungkan bagi keberlangsungan roda organisasi politik sebesar Golkar.
Hal ini disampaikan oleh Mohamad Zein El, Wasekjen Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) di Cikini, Jakarta (13/4/2016).
Zein Whiel dimikian biasa disapa, mengemukakan, akibat konfilik internal ini mengakibatkan Golkar menerima hasil buruk di Pilkada serentak baru-baru ini, ditambah lagi dengan stigma miring yang sering dialamatkan ke Golkar sebagai partai yang hanya diisi oleh figur-figur gemar memperebutkan kekuasan.
“Semua ini akibat tidak adanya soliditas. Padahal, perpecahan internal bisa menjadi ancaman serius bagi eksistensi partai golkar kedepan” sesal mantan Koordinator Bem Nusantara ini.
Foto: Mohamad Zein El
Whiel menambahkan, Apabila Munaslub tidak bisa melahirkan hasil untuk memacu kembali gerbong. Maka, Partai Golkar akan ketinggalan kereta dan itu akan mengakibatkan eksistensi partai Golkar sebagai partai besar dengan akar historis yang kuat terancam punah dihapus oleh sejarah.
“Hasil Munaslub besok akan menentukan apakah Golkar bisa keluar dari himpitan ini atau tidak” Tegas Whiel
Tekanan lebih besar pernah dirasakan partai Golkar pada permulaan Reformasi. Desakan pembubaran Golkar sebagai salah satu simbol hegemoni orde baru mengancam keberadaan Golkar. Ternyata, partai Golkar mampu membalik segala perkiraan, Golkar mampu keluar sebagai partai pemenang pada Pemilu 2004. Ini menjawab tuduhan bahwa Golkar hanya bisa menang ketika ada intervensi kekuasaan. Disamping variabel lain, kemenangan Golkar pada pemilu itu tak lepas dari figur ketua umumnya yaitu Akbar Tanjung. Akbar memiliki Kepiawaian dalam mengelola organisasi dan melembagakan faksi menjadi dasar dalam konsolidasi internal partai golkar dalam menghadapi terpaan badai. Sambung Whiel
Whiel juga menambahkan, belajar dari sejarah tersebut maka, saat ini Golkar perlu figur yang mampu merubah hambatan dan rintangan menjadi kesempatan. Dan sosok yang memimpin Golkar ke depan harus mampunyai akseptabilitas baik kedalam maupun keluar. Serta, sosok tersbut harus mampu meleburkan faksi-faksi yang ada dan meramunya menjadi motor penggerak partai dalam memenangkan hati rakyat.
“Merebut hati rakyat itu tidak gampang, sehingga pemimpin baru harus punya integritas dan track record yang jelas, satu lagi yang penting harus bersih juga dari segala permasalahan hukum” katanya
Dari semua kriteria Calon Ketua Umum Partai Golkar yang memiliki segala prasyarat tersebut adalah Dr. Ade Komarudin. Whiel juga menambahkan, Sosok ketua DPR ini dianggap mampu membawa perahu partai Golkar menuju khitahnya sebagai partai besar dan langganan pemenang Pemilu.
“Akom memiliki pengalaman panjang dalam internal Golkar, Karakter beliau juga merakyat, mantan aktifis mahasiswa, pokoknya Akom sangat layak mimpin Golkar” tambah pengacara muda ini.
Selain alasan itu, Akom juga lebih diterima oleh partai-partai lain, terbukti tidak terlalu ada aral saat Akom dimajukan Golkar menggantikan Setya Novanto sebagai ketua DPR. Tutup Whiel (MR. Vis)






