Maumereaumere, Indonesia visionser-. Kamis 19 Mei 2016, kelompok cipayung (GMNI, PMKRI dan PMII) melakukan aksi protes kepada PEMDA sikka karena ketiadaan dokter kandungan di RSUD TC. Hilers. Sekitar pukul 09:00 Wita organisasi yang tergabung dalam kelompok cipayung ini bergerak dari sekretariat masing-masing dan berkumpul di lapangan Kota Baru Maumere. Aksi diawali dengan persiapan barisan aksi masa yang dipimpin oleh koordinator aksi sdr. Marselinus Minggu dan Anom Mahesa. Di saat bersamaan aparat kepolisian resort Sikka sudah berjaga-jaga di gerbang keluar bagian barat lapangan kota baru.
Untuk menghindari pagar betis kepolisian, masa bersepakat untuk keluar melalui pintu gerbang bagian timur. Kejar-kejaran atau adu kecepatan antara para aktifis dan polisi pun terjadi. Polisi kemudian berhasil membentuk formasi pagar betis menutup pintu keluar lapangan Kota Baru. Seketika itu langsung terjadi dorong-dorongan di sana. Para aktifis cipayung kemudian mempertanyakan atas dasar apa polisi menghalangi masa aksi. Menurut polisi, aksi kali ini tidak memiliki ijin dari POLRES dan aksi kalian menghalangi peserta Tour de Flores (TDF).
Pada saat yang bersamaan, Kasat Intel POLRES Sikka sedang bernegosiasi dengan pimpinan masa aksi agar menunda waktu demonstrasi karena bertabrakan dengan event besar TdF. Negosiasi tidak mencapai hasil sebab pimpinan masa aksi diminta oleh para anggota aksi agar tidak perlu melakukan komunikasi.
Terkait dengan proses perizinan dari POLRES Sikka, sehari sebelum aksi tepatnya pada tanggal 18 mei 2016 surat pemberitahuan beserta foto coppy KTP penanggungjawab dan materai 6000 sudah diserahkan oleh cipayung ke POLRES. Bagi aktifis Cipayung, surat yang diberikan ke POLRES Sikka bersifat pemberitahuan sehingga tidak perlu surat izin. Karena merasa seperti dipermainkan polisi, selang satu jam kemudian masa aksi berlari ke pintu keluar sebelah barat bagian atas. Aktifis Cipayung pun kala cepat. Lagi-lagi mereka dihadang anggota polisi.
Merasa tujuan untuk membubarkan masa aksi belum tercapai, KAPOLRES, DANDIM dan DANLANAL turun langsung ke lapangan kota baru. Mereka kemudian mencari koordinator aksi, membujuknya agar membubarkan masa aksi. Melihat semangat aktifis cipayung yang bersikeras untuk bertemu dengan bupati sikka, bujukan dari mereka pun tidak membuahkan hasil. Aktifis kelompok Cipayung menilai bahwa ada kebutuhan mendesak di Nian Sikka yang segera dipenuhi oleh Pemda dan sudah banyak korban.
KAPOLRES akhirnya menghadap langsung dengan kelompok aksi yang jumlahnya kurang lebih 60 orang. Bapak KAPOLRES menawarkan kepada masa aksi untuk menunda proses audiens dengan Bupati sampai hari senin namun teman-teman cipayung tetap bersikeras untuk bertemu hari ini juga, (Kamis, 19 Mei).
Beberapa saat kemudian datanglah 2 mobil dalmas dengan anggota berjumlah sekitar 100 anggota yang lengkap memegang rotan dan bilah bambu langsung menerobos barisan polisi yang sedang membuat pagar betis dan memukul secara membabi buta seluruh masa aksi sehingga membuat para masa aksi lari terpencar. Polisi kemudian memukul dan melakukan pengeroyokan semua masa aksi yang sudah kalah jumlah. Para masa aksi dipukul bagaikan penjahat dan akibatnya teman-teman masa aksi menderita luka-luka dan ada juga yang patah tulang, yakni GMNI 4 orang, PMKRI 6 orang dan PMII 2 orang. Sementara itu aktivis perempuan yang berinisial M mendapat pelecehan seksual saat aksi berlangsung. Kapolres yang menyaksikan anggotanya menghajar masa aksi malah memilih diam. (AT- Vis)






