Visioner.id, Jakarta – Kredibilitas Badan Intelejen Negera akhir-akhir ini mulai pertanyakan publik. Berbagai kelalaian yang dilakukan pemerintah dan negara dinilai ada kesalahan intelejen saat memberikan informasi kepada negara.
Direktur Indonesia Visioner, Azhar Kahfi mengatakan, BIN yang saat ini dikomandani Sutiyoso telah lalai dan memalukan bangsa Indonesia. Terbaru, terkait pemilihan Archandra sebagai Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) yang ternyata memiliki dua kewarganegaraan.
“Ini merupakan kelalaian BIN. Harusnya BIN memberikan informasi disertai data yang faktual kepada presiden,” katanya, di Jakarta, Jumat (26/8/2016).
Dijelaskan Kahfi, melemahnya peran BIN tidak terlepas dari faktor kepemimpinan Sutiyoso. Pensiunan TNI yang kini juga memimpin PKPI itu dinilai sudah udzur alias lanjut usia.
“Sutiyoso sudah terlalu tua usianya sudah 70 tahun lebih. Sehingga kurang efektif untuk menjalankan operasi strategi intelejen, harus ada terobosan dengan memberikan wadah kepada generasi muda yang memiliki gagasan baru,” terang Kahfi.
Kahfi mengingatkan agar peran dan fungsi BIN dalam perkembangannya harus menguasai tujuh aspek perkembangan aspek globalisasi. Yakni, aspek ekonomi, politik, keamanan, lingkungan, kesehatan, sosial, kultural.
“Nah, Sutiyoso itu menggantikan Marciano Norman sebagai Kepala BIN bukan tindakan peremajaan, tapi justru penuaan yang syarat akan adanya akomodasi politik,” tegas dia.
Dikatakan Kahfi, dirinya sangat mendukung jika ada pergantian kepemimpinan di tubuh BIN. Kahfi menilai ada banyak opsi yang dimiliki presiden untuk menunjuk pengganti Sutiyoso.
“Saya sepakat jika ada pergantian. Siapa penggantinya saya kira presiden lebih cermat menentukan pilihan,” imbuhnya. (Es/Vis)






