VISIONER.ID, JAKARTA: Disahkan di Jakarta pada tanggal 8 Juli 2003 oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 8 Juli 2003 oleh Sekretaris Negara Republik Indonesia Bambang Kesowo.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78).
Dalam Undang Undang tentang penyelenggaraan pendidikan ini memegang beberapa prinsip , yakni pendidikan diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
Pendidikan kita hari ini dengan segala infrastruktur yang tersedia justru persoalan moralitas menjadi semakin memprihatinkan. Kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap murid, maupun sebaliknya, murid terhadap guru, menjadi pemandangan keseharian hampir di berbagai daerah. Demikian juga dengan fenomena tawuran atau perkelahian antar pelajar seakan menjadi ekstra kurikuler bagi pada anak didik. Peristiwa demi peristiwa memprihatinkan ini, semakin hari bukan semakin berkurang, namun semakin bertambah.
Dalam memperingati hari pendidikan nasional tahun 2017 ini, Sekjend Pengurus Besar Anak Muda Indonesia (PB-AMI) Al Ghazali Musaad menilai bahwasanya pendidikan kita sudah tidak lagi berakar pada filosofi para pendidik bangsa ini. Ironisnya adalah justru filosofi pendidikan yang digagas para pendidik kita dipakai oleh negara lain, sehingga menjadi maju, sementara kita meninggalkan filosofi pendidik kita sendiri.
Seperti kita ketahui negara Finlandia merupakan salah satu negara yang dinobatkan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), melalui penelitiannya sebagai negara peringkat pertama dalam sistem pendidikan. Survey yang dilakukan oleh OECD mengukur siswa di bidang sains, membaca dan matematika. Hebatnya Finlandia bukan hanya unggul dalam bidang pendidikan formal, tetapi unggul juga dalam bidang pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya Finlandia berhasil membuat semua siswanya menjadi lebih cerdas.
Untuk mencapai peringkat pertama terbaik di dunia Finlandia menerapkan filosofi sebagai berikut; pertama, menempatkan standardisasi pendidikan secara proporsional, dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara mengatakan Jangan menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak bisa diseragamkan. Perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi.
Kedua, Kesetaraan berpengaruh besar pada kinerja pendidikan. Sedangkan Ki Hadjar Dewantara Rakyat perlu diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mendapat pendidikan berkualitas sesuai kepentingan hidup kebudayaan dan kepentingan hidup kemasyarakatannya.
Ketiga, Standardisasi kaku dan berlebihan adalah musuh kreativitas, karenanya peserta didik di Finlandia tidak dijejali dengan PR yang memberatkan, demikian juga dengan berbagai ujian yang membebani. Dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara sudah menjelaskan Anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, tak mungkin pendidik “mengubah padi menjadi jagung”, atau sebaliknya.
Keempat, anak harus bermain. Di Finlandia peserta didik datang ke sekolah tidak dibebani dengan beban pikiran pelajaran, namun peserta didik datang ke sekolah sangat menikmati, sebab di sekolah mereka bisa bermain dengan leluasa. Dalam hal ini peserta didik di Finlandia, bermain di sekolah namun dalam koridor belajar, jadi belajar dikemas dalam bentuk bermain. Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan hal ini yaitu bermain adalah untutan jiwa anak untuk menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani.
Dari pemaparan di atas terjadi sebuah ironi yang sangat mencolok. Negara maju dengan peringkat pendidikan yang pertama di dunia menggunakan filosofi Bapak Pendidikan Indonesia yang telah diungkapkannya berpuluh tahun yang lalu. Sementara kita bangsa Indonesia, sebagian mungkin sudah tidak tahu lagi siapa Bapak Pendidikan Indonesia, apalagi mempelajari dan mengkaji pemikiran-pemikirannya yang sangat dalam.
Tak berlebihan kalau kita pada hari ini melihat situasi dan kondisi pendidikan kita, kita harus mengembalikan filosofi pendidikan kita sebagaimana yang telah digariskan oleh Bapak Pendidikan Indonesia itu sendiri yaitu Bapak Ki Hadjar Dewantara
Sekjend AMI mengharapkan Hari Pendidikan Nasional 2017 Pemuda indonesia harus ikut mambangun pendidikan nasional. Kaum intelektual mestinya turut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mendorong kualitas pendidikan indonesia menjadi lebih baik di tahun-tahun yang akan datang. (Vis/TE)

