Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Lemahnya Filosofi Pendidikan

by Aulia Rachman Siregar
Mei 3, 2017
in Opini
Reading Time: 3min read
Lemahnya Filosofi Pendidikan
0
SHARES
167
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

VISIONER.ID, JAKARTA: Disahkan di Jakarta pada tanggal 8 Juli 2003 oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 8 Juli 2003 oleh Sekretaris Negara Republik Indonesia Bambang Kesowo.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78).

Dalam Undang Undang tentang penyelenggaraan pendidikan ini memegang beberapa prinsip , yakni pendidikan diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.

Pendidikan kita hari ini dengan segala infrastruktur yang tersedia justru persoalan moralitas menjadi semakin memprihatinkan. Kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap murid, maupun sebaliknya, murid terhadap guru, menjadi pemandangan keseharian hampir di berbagai daerah. Demikian juga dengan fenomena tawuran atau perkelahian antar pelajar seakan menjadi ekstra kurikuler bagi pada anak didik. Peristiwa demi peristiwa memprihatinkan ini, semakin hari bukan semakin berkurang, namun semakin bertambah.

Dalam memperingati hari pendidikan nasional tahun 2017 ini, Sekjend Pengurus Besar Anak Muda Indonesia (PB-AMI) Al Ghazali Musaad menilai bahwasanya pendidikan kita sudah tidak lagi berakar pada filosofi para pendidik bangsa ini. Ironisnya adalah justru filosofi pendidikan yang digagas para pendidik kita dipakai oleh negara lain, sehingga menjadi maju, sementara kita meninggalkan filosofi pendidik kita sendiri.

Seperti kita ketahui negara Finlandia merupakan salah satu negara yang dinobatkan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), melalui penelitiannya sebagai negara peringkat pertama dalam sistem pendidikan. Survey yang dilakukan oleh OECD mengukur siswa di bidang sains, membaca dan matematika. Hebatnya Finlandia bukan hanya unggul dalam bidang pendidikan formal, tetapi unggul juga dalam bidang pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya Finlandia berhasil membuat semua siswanya menjadi lebih cerdas.

Untuk mencapai peringkat pertama terbaik di dunia Finlandia menerapkan filosofi sebagai berikut; pertama, menempatkan standardisasi pendidikan secara proporsional, dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara mengatakan Jangan menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak bisa diseragamkan. Perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi.

Kedua, Kesetaraan berpengaruh besar pada kinerja pendidikan. Sedangkan Ki Hadjar Dewantara Rakyat perlu diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mendapat pendidikan berkualitas sesuai kepentingan hidup kebudayaan dan kepentingan hidup kemasyarakatannya.

Ketiga, Standardisasi kaku dan berlebihan adalah musuh kreativitas, karenanya peserta didik di Finlandia tidak dijejali dengan PR yang memberatkan, demikian juga dengan berbagai ujian yang membebani. Dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara sudah menjelaskan Anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, tak mungkin pendidik “mengubah padi menjadi jagung”, atau sebaliknya.

Keempat, anak harus bermain. Di Finlandia peserta didik datang ke sekolah tidak dibebani dengan beban pikiran pelajaran, namun peserta didik datang ke sekolah sangat menikmati, sebab di sekolah mereka bisa bermain dengan leluasa. Dalam hal ini peserta didik di Finlandia, bermain di sekolah namun dalam koridor belajar, jadi belajar dikemas dalam bentuk bermain. Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan hal ini yaitu bermain adalah untutan jiwa anak untuk menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani.

Dari pemaparan di atas terjadi sebuah ironi yang sangat mencolok. Negara maju dengan peringkat pendidikan yang pertama di dunia menggunakan filosofi Bapak Pendidikan Indonesia yang telah diungkapkannya berpuluh tahun yang lalu. Sementara kita bangsa Indonesia, sebagian mungkin sudah tidak tahu lagi siapa Bapak Pendidikan Indonesia, apalagi mempelajari dan mengkaji pemikiran-pemikirannya yang sangat dalam.

Tak berlebihan kalau kita pada hari ini melihat situasi dan kondisi pendidikan kita, kita harus mengembalikan filosofi pendidikan kita sebagaimana yang telah digariskan oleh Bapak Pendidikan Indonesia itu sendiri yaitu Bapak Ki Hadjar Dewantara

Sekjend AMI mengharapkan Hari Pendidikan Nasional 2017 Pemuda indonesia harus ikut mambangun pendidikan nasional. Kaum intelektual mestinya turut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mendorong kualitas pendidikan indonesia menjadi lebih baik di tahun-tahun yang akan datang. (Vis/TE)

Tags: Filosofihari pendidikanpendidikan
Previous Post

NASIB PENDIDIKAN TINGGI INDONESIA

Next Post

FP BUMN : Pejabat rangkap jabatan komisaris bisa conflict of interest

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

TERPOPULER

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved