
Jakarta, (Visioner)– Ketua Jaringan Aktivis Nusantara (JAN), Romadhon Jasn, tak ragu memuji ketegasan Polri menghadapi ricuhnya aksi penolakan RUU TNI di Karawang, 25 Maret lalu. Baginya, Polri bukan sekadar penutup celah, tapi tiang penyangga ketika negara digoyang oleh mereka yang mengira kekacauan adalah kebebasan. “Polri tegas, itu fakta yang tak bisa dibantah. Tanpa mereka, kita cuma punya ilusi bernama demokrasi,” katanya kepada wartawan , Rabu malam, (26/3/2025)
Romadhon menyoroti apa yang terjadi di depan DPRD Karawang: demonstrasi yang bermetamorfosis jadi perusakan. “Pagar dirobohkan, pintu dirusak—ini bukan aspirasi, ini vandalisme berbaju perjuangan,” tegasnya. Ia mendukung penuh Kapolres Karawang AKBP Edward Zulkarnain yang menyebut pelaku sebagai “kelompok kriminal.” “Itu bukan tuduhan, itu realitas. Mereka yang merusak fasilitas negara adalah musuh logika, bukan pembela rakyat,” tambahnya.
“Demokrasi itu soal nalar, bukan otot. Ketika massa beralih dari dialog ke palu, mereka mengkhianati esensi kebebasan,” ujar Romadhon. Ia memandang tindakan Polri—dengan gas air mata dan water cannon—sebagai tameng yang menyelamatkan negara dari jurang anarki. “Kalau Polri tak berdiri tegak, yang tertawa adalah mereka yang siap jadikan republik ini pasar malam tanpa aturan,” katanya, dengan nada yang menggugat.
Ia tak segan menghajar ilusi para pendemo. “Mereka bilang tolak RUU TNI demi rakyat, tapi aksinya justru melukai rakyat. Ini kontradiksi mematikan: kebebasan yang memasung kebebasan,” ungkapnya.
Menurut Romadhon, aksi semacam ini adalah parasit yang bisa melumpuhkan demokrasi, terutama menjelang Lebaran saat stabilitas jadi harga mati.
Dukungan pada Polri, baginya, adalah sikap yang tak bisa ditawar. “Polri cari ambulans untuk tolong korban, bukan jebak demonstran seperti fitnah murahan itu. Mereka kerja di tengah chaos, tapi tetap pegang prinsip,” katanya, merujuk bantahan Edward soal hoaks ambulans. Koordinasi Polri-TNI, menurutnya, adalah bukti negara tak gentar pada provokasi.
“Polri harus tegas, tapi tak boleh sembarangan. Itu dialektika yang harus dijaga,” Romadhon memperingatkan. Ketegasan adalah alat untuk melindungi, bukan untuk menindas. “Kita butuh polisi yang jadi benteng, bukan algojo,” tambahnya, menawarkan keseimbangan di tengah sorakannya.
“Negara ini punya kita semua, bukan cuma mereka yang rusuh atas nama ideologi,” tutup Romadhon. Ia menyerukan Polri tetap tegak, sementara rakyat belajar membedakan suara dari keributan. “Kalau ini dibiarkan, demokrasi kita cuma jadi puing-puing yang dikira trofi oleh perusuh,” katanya, dengan nada yang menusuk hingga ke tulang.





