
Jakarta,- Praktik penipuan lowongan kerja mengatasnamakan PT Pertamina (Persero) kembali merebak di media sosial. Dalam sebulan terakhir, setidaknya tiga varian hoaks rekrutmen beredar—dari klaim pendaftaran lewat WhatsApp, janji gaji Rp 4,5–8 juta per bulan, hingga tautan palsu di situs abal-abal . Ketiganya terbukti tidak benar, menimbulkan kerugian waktu, data pribadi, dan bahkan potensi finansial bagi ribuan pencari kerja.
Modusnya seragam: pelaku menyebar postingan lowongan “resmi” dengan logo Pertamina, menyertakan nomor WhatsApp rekrutmen, serta tautan pendaftaran palsu. Mereka memanfaatkan ketatnya persaingan pasar kerja dan kepercayaan publik terhadap BUMN. Padahal, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, menegaskan bahwa seluruh pengumuman resmi rekrutmen hanya melalui situs recruitment.pertamina.com dan kanal media sosial terverifikasi.
Masyarakat diimbau tidak tergiur tawaran cepat, “langsung wawancara via chat”, atau “tanpa dokumen resmi”. Polri melalui Tribrata News telah memublikasikan klarifikasi, sementara Komdigi (Kominfo) dan Saber Hoaks Jakarta menandai konten tersebut sebagai hoaks berlabel “fabricated content” . Masyarakat disarankan memverifikasi ke Pertamina Call Center 135 sebelum mengirim data pribadi.
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, mengapresiasi upaya kolaborasi antarlembaga dalam menangkal hoaks rekrutmen. “Regulator, Polri, dan BUMN sudah bergerak cepat memberi peringatan. Ini contoh sinergi literasi digital yang positif,” katanya, Rabu (25/6).
Meski demikian, gelombang hoaks belum mereda sepenuhnya. Pada beberapa forum PDF dan grup Telegram rekrutmen, tautan palsu terus dipertukarkan. Ada laporan warga yang terlambat mengonfirmasi, hingga mengirim KTP dan data keluarga ke oknum tak bertanggung jawab. Risiko pencurian identitas (identity theft) nyata mengintai.
Romadhon Jasn menekankan pentingnya edukasi publik. “Pertamina perlu proaktif kampanye ‘Waspada Hoaks Rekrutmen’ lewat video pendek, siaran pers berkala, dan kerja sama influencer literasi media,” tegasnya.
Selain itu, Gagas Nusantara merekomendasikan Pertamina mempermudah akses informasi resmi:
1. Menyematkan banner “Lowongan Resmi” di homepage utama recruitment.pertamina.com.
2. Melengkapi setiap portal karier BUMN dengan daftar domain resmi yang dikelola Pertamina.
3. Menyediakan chatbot verifikasi pendaftaran di situs dan aplikasi mobile BUMN.
Romadhon Jasn juga mendorong pembentukan “Satgas Hoaks Karier BUMN” yang melibatkan stakeholder, media, dan komunitas digital. “Tim ini bisa memonitor tren penipuan dan memberikan klarifikasi real time,” katanya.
Upaya pencegahan hoaks bukan semata tanggung jawab pemerintah atau BUMN, melainkan juga masyarakat. Mencermati sumber informasi, menggunakan kanal resmi, serta saling mengingatkan keluarga dan teman adalah langkah kecil yang berdampak besar. Literasi digital—kemampuan menilai kredibilitas konten—harus jadi kecakapan wajib di era serba cepat ini.
Dengan kombinasi transparansi kanal rekrutmen dan peningkatan literasi masyarakat, potensi kerugian akibat hoaks dapat diminimalkan. Gagas Nusantara optimistis, apabila semua pihak bergerak bersama, para pencari kerja akan terhindar dari penipuan, dan reputasi Pertamina sebagai BUMN terpelihara—serta proses seleksi karyawan berlangsung adil dan profesional.





