
Jakarta, 14 Agustus 2025 — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tengah mengalami tekanan serius akibat penurunan pasokan gas ke pelanggan industri. Gangguan dikarenakan pemeliharaan tak terencana di hulu migas dan belum terpenuhinya suplai LNG alternatif menyebabkan beberapa industri di Jawa Barat harus mengatur pemakaian hingga 50 persen dan menghentikan produksi sementara.
Situasi ini memicu beragam respon dari kalangan industri dan pemerhati energi yang mengedepankan kritikan membangun sekaligus dukungan solusi. PGN terus berupaya menangani masalah dengan mengimbau penghematan dan memacu percepatan pengadaan LNG domestik.
“PGN sedang menghadapi ujian berat dalam menjaga pasokan gas di tengah tantangan pemeliharaan tak terduga dan perlambatan produksi hulu. Namun, perusahaan harus meningkatkan transparansi dan kecepatan respons agar kerugian industri bisa diminimalisasi,” ujar Romadhon Jasn, pemerhati energi dan kebijakan energi nasional.
PGN memang bergantung pada gas pipanisasi yang mengalami penurunan pasokan, sehingga LNG menjadi sumber alternatif yang jauh lebih mahal dan kompleks pengelolaannya. Menurut Romadhon, “Kenaikan harga LNG menuntut adanya strategi jangka panjang yang holistik, termasuk diversifikasi energi dan investasi infrastruktur gas secara signifikan untuk menjamin pasokan yang andal dan berbiaya efisien.”
Langkah PGN menggenjot pengadaan LNG domestik patut diapresiasi sebagai solusi krisis jangka pendek, namun pendekatan reaktif tidak cukup. “PGN dan pemerintah perlu menyusun roadmap pengembangan sumber gas baru dan penguatan infrastruktur yang berkelanjutan agar tidak terus bergantung pada LNG mahal,” kata Romadhon.
Selain itu, regulasi dan koordinasi pemangku kepentingan menjadi kunci. Pengaturan harga gas harus menyeimbangkan kepentingan industri sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan nasional. “Pemerintah wajib hadir aktif dalam menyelaraskan kebijakan supaya efisiensi energi dan daya saing industri tetap kuat,” imbuh Romadhon.
Krisis ini sekaligus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi rantai pasokan energi gas nasional. “Investasi inovasi dan peningkatan kapasitas secara menyeluruh sangat dibutuhkan agar industri energi tak lagi mudah goyah menghadapi perubahan pasar dan gangguan pasokan,” ucapnya.
Dukungan masyarakat dan industri penting agar PGN dapat mengelola transisi ini dengan baik. “Perlu diapresiasi ruang manajemen risiko yang diberikan untuk PGN, tapi juga harus diawasi agar kebijakan dan pengelolaan berjalan transparan dan adil,” pungkas Romadhon.
Ke depan sinergi antara pemerintah, perusahaan energi, dan pelaku industri akan menentukan kemajuan ketahanan energi gas nasional. “Semoga PGN bersama stakeholder dapat mewujudkan pasokan energi yang stabil, terjangkau, dan berkelanjutan demi kemajuan bangsa,” tutup Romadhon Jasn.





