
Tangerang, — Ratusan pelari dari berbagai komunitas memenuhi area Cotta Haus, Kota Tangerang, Sabtu (11/10/2025) pagi. Mereka datang bukan sekadar untuk mengejar waktu atau mencatat rekor pribadi, tetapi untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan bermakna: memungut sampah di sepanjang lintasan lomba. Acara bertajuk Rerun Road to PLN Electric Run 2025 ini menjadi simbol gerakan baru, bahwa olahraga bisa menjadi ruang edukasi ekologis.
Kegiatan yang digagas oleh PLN bersama sejumlah mitra komunitas ini merupakan bagian dari persiapan menuju PLN Electric Run 2025, ajang nasional yang menggabungkan olahraga, kesadaran energi bersih, dan tanggung jawab sosial. Sebelum lomba dimulai, panitia membekali peserta dengan kantong plastik besar serta alat penjepit sampah. Setiap langkah peserta menjadi bagian dari pesan moral: berlari tak harus meninggalkan jejak kotor di bumi yang sama-sama kita huni.
Suasana pagi itu begitu kontras di satu sisi terlihat semangat pelari yang antusias, di sisi lain masih tampak sisa-sisa kebiasaan lama masyarakat yang abai terhadap kebersihan. Melalui kegiatan ini, PLN ingin mengajak masyarakat memahami bahwa transisi menuju energi bersih tak cukup dengan membangun pembangkit hijau, tetapi juga harus disertai perubahan perilaku yang bersih. Inilah bentuk nyata kolaborasi antara aksi sosial, olahraga, dan tanggung jawab lingkungan.
Direktur Eksekutif Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menyampaikan apresiasi terhadap langkah PLN yang mampu mengemas edukasi lingkungan dengan cara yang inspiratif dan inklusif. “PLN menunjukkan bahwa menjaga bumi bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, tanpa menggurui, tetapi menumbuhkan kesadaran kolektif,” ujar Romadhon Jasn, Minggu (12/10)
Ia menilai kegiatan ini adalah contoh konkret bagaimana perusahaan negara dapat memainkan peran penting dalam membangun budaya publik yang peduli terhadap lingkungan. “Transisi energi bukan sekadar mengganti batu bara dengan tenaga surya, melainkan mengganti cara pandang manusia terhadap bumi yang selama ini dianggap tak terbatas,” kata Romadhon Jasn.
Di sepanjang rute, peserta tampak memunguti berbagai jenis sampah: dari bungkus makanan hingga puntung rokok yang berserakan di trotoar. Beberapa warga menonton dan memberi tepuk tangan, sementara sebagian lain justru membuang bungkus minuman ke jalan di depan para pelari. Ironi kecil itu menjadi pengingat bahwa kebersihan bukan urusan lomba, tapi tanggung jawab harian yang belum menjadi kebiasaan.
Romadhon menilai, inisiatif seperti ini harus menjadi model bagi program CSR di Indonesia, karena berdampak langsung pada perilaku sosial masyarakat. “Kegiatan seperti Rerun Electric Run ini membangun kesadaran nyata, bukan sekadar seremonial foto bersama usai kegiatan,” tuturnya.
Ia juga melontarkan terhadap sikap sebagian orang yang masih menganggap remeh masalah sampah dan kebersihan lingkungan. “Kita sering bicara tentang dekarbonisasi global, tetapi lupa menunduk memungut sampah yang kita jatuhkan sendiri,” ucap Romadhon.
Kegiatan Rerun Road to PLN Electric Run 2025 akhirnya menjadi lebih dari sekadar ajang olahraga. Ia menjelma sebagai simbol perubahan cara berpikir: bahwa tanggung jawab sosial dimulai dari langkah kecil, dari kesadaran sederhana yang dilakukan bersama. “Kalau setiap langkah manusia bisa membawa kesadaran, maka Indonesia akan benar-benar terang bukan hanya karena listrik PLN, tetapi karena kesadaran moral warganya,” tutup Romadhon Jasn.





