
Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana membantah anggapan bahwa menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan menggunakan makanan ultra-prosesed food (UPF).
Dadan menjelaskan, selama Ramadan makanan MBG memang dirancang agar tidak cepat basi karena sebagian besar siswa berpuasa. Namun, ketahanan makanan tersebut tidak berarti menggunakan produk ultra-proses.
“Untuk Ramadan, makanan yang kami berikan tidak yang cepat rusak, tapi tidak yang ultra-proses,” ujar Dadan di rapat dengar Komisi IX, Selasa (20/1).
Ia mencontohkan, sejumlah produk olahan sederhana masih diperbolehkan selama memenuhi standar gizi dan keamanan pangan. Produk tersebut antara lain abon, telur rebus, telur pindang, serta makanan olahan masyarakat yang mampu bertahan hingga 12 jam.
“Misalnya abon masih boleh, telur rebus, telur pindang, atau produk olahan masyarakat yang bisa tahan sampai 12 jam,” katanya.
Dadan juga menjelaskan skema distribusi MBG selama Ramadan pada dasarnya sama seperti tahun sebelumnya. Di daerah yang mayoritas penduduknya menjalankan ibadah puasa, makanan tetap dibagikan di sekolah.
“Ramadan seperti tahun lalu, di daerah yang mayoritas puasa, makanan akan diberikan di sekolah,” ujarnya.
Makanan tersebut kemudian dibawa pulang oleh siswa untuk dikonsumsi saat berbuka puasa di rumah. Skema ini diterapkan agar manfaat gizi tetap diterima tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa.
Sementara itu, di daerah yang mayoritas masyarakatnya tidak menjalankan puasa, pelayanan MBG tetap berjalan seperti biasa. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap menyalurkan makanan untuk dikonsumsi di sekolah.
“Di daerah yang mayoritas tidak puasa, pelayanan SPPG berjalan seperti biasa,” terang Dadan.
BGN menegaskan, penyesuaian menu dan pola distribusi selama Ramadan dilakukan tanpa mengurangi prinsip dasar MBG, yakni penyediaan makanan bergizi, aman, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di berbagai daerah.


