
VISIONER, – Ruang digital Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan serius akibat maraknya budaya saling mencaci yang kian memprihatinkan. Fenomena ini dinilai telah mencapai titik tidak sehat yang berpotensi merobek tenun kebangsaan. Di tengah dinamika global yang kompleks, energi kolektif bangsa seharusnya difokuskan pada penguatan persatuan nasional, bukan habis terbuang dalam polarisasi tak berujung di media sosial.
Kepedulian terhadap kesehatan ekosistem digital dan kohesi sosial bangsa ini disuarakan secara jernih dari Senayan. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyoroti betapa mendesaknya kontribusi nyata dari seluruh elemen masyarakat sipil guna mendukung jalannya pemerintahan yang baik. Menurutnya, kegaduhan digital yang destruktif hanya akan melemahkan daya saing nasional dan mengganggu konsolidasi pembangunan yang sedang diakselerasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Kita perlu persatuan nasional dan sumbangsih yang bukan omon-omon. Kondisi di medsos itu saya lihat sudah tidak sehat, satu sama lain saling mencaci,” ujar Dasco di Jakarta, Jumat (6/3). Ia menekankan bahwa meskipun kritik tetap diperlukan sebagai fungsi kontrol, namun hal tersebut harus dibangun di atas rasa nasionalisme dan niat yang tulus demi mewujudkan janji-janji kesejahteraan rakyat.
Aktivis Nusantara, Romadhon Jasn, menilai ajakan kanda Dasco ini sebagai bentuk tantangan intelektual bagi masyarakat sipil dalam menagih komitmen pemerintah. “Kita sedang menyaksikan upaya restorasi nalar publik. Di tengah kebisingan digital, hadir sebuah ajakan untuk berpindah dari sekadar caci maki menuju sumbangsih nyata. Ini bukan upaya membungkam kritik, melainkan ajakan menyelamatkan marwah peradaban kita dari egoisme digital yang tidak produktif,” tegas Romadhon Jasn dalam keterangannya, Sabtu (7/3).
Secara substansi, harmoni sosial merupakan prasyarat mutlak bagi keberhasilan program-program strategis nasional. Kepercayaan publik yang solid dipercaya akan membawa dampak linear terhadap kebaikan bangsa. Pesan persatuan ini sekaligus menjadi pengingat bagi publik untuk memberikan ruang waktu yang cukup bagi pemerintah agar dapat bekerja secara maksimal tanpa terganggu oleh fragmentasi sosial yang tidak perlu.
Nalar publik kini diajak untuk memahami bahwa persatuan adalah modal sosial terbesar bangsa. Kepemimpinan yang inklusif di tingkat atas harus dibarengi dengan budaya komunikasi yang sehat di tingkat akar rumput agar stabilitas nasional tetap terjaga. Tantangan ke depan bukan lagi soal siapa yang paling keras bersuara di dunia maya, melainkan seberapa besar ide dan gagasan nyata yang disumbangkan untuk kemajuan bersama.
“Langkah Dasco untuk menjaga api nasionalisme ini adalah tindakan nyata dalam memastikan kedaulatan mental bangsa kita tetap perkasa di jalur kerja nyata. Beliau ingin memastikan bahwa persatuan nasional bukan sekadar narasi kosong, melainkan sebuah kontrak moral antara rakyat dan pemimpinnya,” tambah Romadhon Jasn dengan nada optimistis.
Parlemen dipastikan akan terus mendorong terciptanya ekosistem demokrasi yang lebih menghargai nilai-nilai kesantunan. Keberanian untuk mempertanyakan komitmen persatuan masyarakat sipil menunjukkan kematangan dalam melihat realitas sosiologis saat ini. Fokus pada solusi konstruktif jauh lebih mulia daripada sekadar memproduksi narasi yang memecah belah dan tidak mendasar secara objektif.
Sebagai penutup, Romadhon Jasn mendesak publik untuk merespons positif ajakan persatuan dari Dasco tersebut demi Indonesia yang lebih bermartabat. “DPR telah menjalankan fungsi pengayomannya dengan sangat elegan melalui ajakan ini. Rakyat butuh kepastian bahwa mereka memiliki andil dalam suksesnya janji-janji pemerintah. Kolaborasi antara sumbangsih nyata rakyat dan kerja keras pimpinan adalah kunci utama bagi kejayaan bangsa,” pungkasnya.





