Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Penampakan CNG Merah Putih 3 Kg, Lebih Besar dari Gas Melon?

by Visioner Indonesia
Juli 4, 2026
in Energi, Migas
Reading Time: 4min read
Penampakan CNG Merah Putih 3 Kg, Lebih Besar dari Gas Melon?

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) diketahui telah menguji coba tabung gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) tabung 3 kilogram (kg) atau CNG Merah Putih.

Berdasarkan unggahan resmi Lemigas, tabung CNG 3 kg terlihat memiliki bentuk silinder dengan bagian bawah datar.

Pada bagian atas tabung, terlihat terdapat pegangan tangan atau hand guard berwarna merah yang menyatu dengan badan tabung.

Badan tabung memiliki warna putih dengan sejumlah lubang ventilasi berpola sarang lebah pada sisi samping. Lubang tersebut mengindikasikan adanya casing luar pada bagian tabung tersebut.

Lalu, katup atau valve dari tabung tersebut terlihat memiliki perbedaan mencolok dibandingkan dengan katup LPG 3 Kg. Kendati begitu, belum diketahui spesifikasi dari katup tabung CNG 3 kg.

Diameter atau ukuran dari tabung CNG 3 kg tersebut belum dipublikasikan oleh Lemigas. Namun, tabung berukuran 3 kg tersebut terlihat cukup mudah untuk diangkat atau dibawa masyarakat.

Jika dibandingkan dengan tabung LPG 3 Kg atau Gas Melon, tabung CNG 3 kg memiliki desain yang berbeda. Pada tabung LPG 3 Kg, struktur terdiri atas pegangan tangan atau hand guard, cincin leher atau neck ring, badan tabung berbahan baja, dan cincin kaki atau foot ring.

Adapun, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman sempat meninjau langsung fasilitas pengujian tabung yang berada di laboratorium Koordinator Pengujian Pengolahan Gas Bumi Lemigas.

Selain Laode, kunjungan tersebut turut dihadiri perwakilan dari PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN, PT Pertamina Patra Niaga, PT Gagas Energi Indonesia, PT Pindad, serta PT Genko.

Dalam kesempatan sebelumnya, Laode sempat mengungkapkan CNG Merah Putih bakal menggunakan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit serta fiberglass.

Laode juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.

Dia memastikan masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.

“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu. Nah, itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting,” kata Laode dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).

Laode juga menyebut Kementerian ESDM akan mengimpor 100.000 unit tabung CNG 3 kg dari China. Langkah tersebut dilakukan lantaran industri dalam negeri belum mampu memproduksi tabung CNG 3 kg.

“Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum,” ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/5/2026).

“Iya [impor dari China], seperti itu tahap awal ya,” tambahnya.

Di sisi lain, Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Indonesia (Aspermigas) menyebut komponen utama dari tabung CNG 3 kg akan mendorong lonjakan harga 10 hingga 20 kali lipat dari tabung LPG 3 Kg yang berbahan dasar pelat baja biasa.

“Harga tabung carbon fiber itu bisa 10 hingga 20 kali lipat lebih mahal dari harga tabung LPG saat ini. Bayangkan berapa besar subsidi yang harus digelontorkan pemerintah hanya untuk pengadaan tabungnya saja?” kata Ketua Bidang Investasi dan Kerjasama Aspermigas Moshe Rizal saat dihubungi, Selasa (26/5/2026).

Menurut Moshe, tingginya tekanan CNG menuntut material tabung dan regulator yang sangat khusus. Jika menggunakan besi biasa, tabung harus dibuat sangat tebal sehingga bobot tabung akan jauh lebih berat daripada isi gasnya.

Walhasil, pilihan terbaik untuk tabung CNG adalah material yang ringan, tetapi tetap kuat seperti serat karbon. Namun, teknologi ini memiliki konsekuensi biaya produksi yang sangat mahal.

Secara volume energi, Moshe menjelaskan CNG membutuhkan ruang penyimpanan yang 2,5 kali lebih besar daripada LPG untuk menghasilkan jumlah kalori panas yang sama.

“Ketika gas tersebut dipaksa masuk ke dalam tabung portabel rumah tangga, tekanan harus dinaikkan hingga puluhan kali lipat dari LPG. Lonjakan tekanan inilah yang mengubah prasyarat material menjadi sangat mahal dalam hal ini carbon fiber,” jelasnya.

Adapun, berdasarkan data Ditjen Migas  Kementerian ESDM, CNG memiliki tekanan cukup tinggi; yakni sekitar 200 hingga 250 bar atau sekitar 3.000—3.600 psi.

LPG memiliki tekanan jauh lebih rendah, berkisar 5 hingga 10 bar (untuk tabung rumah tangga) hingga maksimal sekitar 18—24 bar. Lalu, LNG memiliki tekanan yang paling rendah, umumnya hanya sekitar 2 hingga 10 bar.

Previous Post

OJK Tuntaskan Penyidikan Kasus Dugaan Pidana di BPR Malang

Next Post

Geliat Ekonomi Menjelang Awal Masuk Sekolah

Related Posts

Antrean BBM Subsidi Warnai Momen HUT RI di Pangkalpinang
Daerah

Antrean BBM Subsidi Warnai Momen HUT RI di Pangkalpinang

Agustus 17, 2026
Orang Kaya Akan Dibatasi Beli Pertalite, Pertamina Tunggu Arahan Pemerintah
BUMN

Orang Kaya Akan Dibatasi Beli Pertalite, Pertamina Tunggu Arahan Pemerintah

Agustus 15, 2026
Harga BBM Pertamina Sabtu 8 Agustus 2026: Ada Perubahan? Begini Daftar Terbaru
BUMN

Harga BBM Pertamina Sabtu 8 Agustus 2026: Ada Perubahan? Begini Daftar Terbaru

Agustus 8, 2026
Sulap Sampah Jadi Energi Bersih, Pertamina Perkuat Transisi Energi
Daerah

Sulap Sampah Jadi Energi Bersih, Pertamina Perkuat Transisi Energi

Agustus 5, 2026
Kunjungi Tiga Fasilitas Strategis, Komut Pertamina Perkuat Sinergi One Pertamina
BUMN

Kunjungi Tiga Fasilitas Strategis, Komut Pertamina Perkuat Sinergi One Pertamina

Agustus 5, 2026
PLN Masuk ke Sekolah, Siswa Diajak Sulap Sampah Jadi Energi
Migas

PLN Masuk ke Sekolah, Siswa Diajak Sulap Sampah Jadi Energi

Agustus 4, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

21 Orang Bawa Flare dan Bom Molotov Diamankan Jelang Demo UI, JAN Apresiasi Langkah Cepat Polri

Mahasiswa Kepung HI Sehari Setelah 17 Agustus: “Kemerdekaan Macam Ini?”

Momen Kebersamaan Pasca Upacara HUT Ke-81 RI di Gedung BRP

Gandeng BUMN Peduli, Danantara Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Purbaya Siapkan Rp5 Triliun untuk Penanganan Gempa NTT

Momen Hangat Prabowo, Jokowi, dan Gibran Tampak Mesra

TERPOPULER

21 Orang Bawa Flare dan Bom Molotov Diamankan Jelang Demo UI, JAN Apresiasi Langkah Cepat Polri

Mahasiswa Kepung HI Sehari Setelah 17 Agustus: “Kemerdekaan Macam Ini?”

Momen Kebersamaan Pasca Upacara HUT Ke-81 RI di Gedung BRP

Gandeng BUMN Peduli, Danantara Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Purbaya Siapkan Rp5 Triliun untuk Penanganan Gempa NTT

Momen Hangat Prabowo, Jokowi, dan Gibran Tampak Mesra

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved