Jakarta – Penangkapan Kasat Narkoba Polres Tangerang Selatan, AKP Pardiman, oleh Dittipidnarkoba Bareskrim menjadi titik balik penting bagi penegakan hukum internal kepolisian. Bukan operasi biasa, ini pernyataan lugas: tak ada kekebalan bagi siapa pun, termasuk aparat sendiri.
AKP Pardiman bersama enam personel Polres Tangsel dan satu anggota Polda Aceh diduga terlibat dalam peredaran gelap, penyalahgunaan narkoba, serta penyalahgunaan wewenang dalam penanganan perkara. Inilah ironi terbesar: mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan, justru terjerat pusaran kejahatan serupa.
Namun di balik kepahitan itu, ada secercah asa. Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir menegaskan pimpinan menjamin proses hukum tanpa pandang bulu bagi personel yang terbukti bersalah. Bahkan, standar pemeriksaan diperketat demi menjaga kewibawaan lembaga.
“Pimpinan Polri sudah tegas menjamin tidak ada impunitas bagi personel yang terlibat jaringan narkotika. Kami menerapkan standar pemeriksaan lebih ketat guna menjaga marwah institusi,” ujar Johnny.
Penanganan kasus berlangsung dua jalur paralel: aspek pidana ditangani Dittipidnarkoba, sementara pelanggaran kode etik diproses Bidpropam Polda Metro Jaya. Ini menunjukkan kesungguhan membersihkan institusi dari dalam.
Langkah ini menuai apresiasi. Kompolnas menyebutnya sebagai peringatan keras bagi seluruh anggota agar tak menyalahgunakan kewenangan. Dukungan juga mengalir dari Jaringan Aktivis Nusantara (JAN). Ketua JAN, Romadhon Jasn, menilai ini momen krusial.
“Kami melihat ini sebagai peristiwa penting. Polri tidak sekadar bicara, tapi bertindak. Menindak oknum sendiri adalah keberanian yang layak diapresiasi. Ini bukan hanya penegakan hukum, melainkan penegakan kepercayaan,” ujar Romadhon, dalam peryataannya, Selasa (28/7/2026).
Kasus ini menjadi preseden bahwa komitmen “Polri Untuk Masyarakat” berlaku universal, termasuk internal. Pengungkapan semacam ini jarang terjadi dan kini menjadi contoh nyata bahwa tak ada yang istimewa di mata hukum.
Publik mulai meyakini keseriusan Polri berbenah. Tindakan tegas ini menjadi bukti autentik bahwa institusi tidak melindungi anggotanya yang bermasalah.
Harapan masyarakat tinggi. Peristiwa ini diharapkan menjadi tonggak perubahan menuju korps yang lebih bersih dan profesional. Komitmen memberantas narkoba hingga ke internal patut diapresiasi. Konsistensi adalah kunci, jangan sampai berhenti di satu kasus saja. Itu yang akan menjaga kepercayaan publik,” pungkas Romadhon.






