Jakarta, 4 Agustus 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 akan berada di kisaran 5,6 hingga 6 persen secara tahunan (year-on-year). Proyeksi ini disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8).
Purbaya menjelaskan bahwa proyeksi tersebut mempertimbangkan perlambatan ekonomi pada kuartal II-2026 akibat tekanan eksternal yang meningkat. “Ya kalau angka kita juga, kalau kita lihat prediksi semua empat lembaga kelihatannya di bawah 5,6% untuk triwulan kedua, tetapi mungkin gak jauh dari 5,4% juga,” ujarnya. Perlambatan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, volatilitas pasar keuangan global, hingga tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal.
Meski demikian, Purbaya meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026 akan lebih baik. Keyakinan ini didukung oleh koordinasi yang lebih erat antara pemerintah dan bank sentral untuk memastikan mesin pertumbuhan tetap berjalan. Berbagai langkah stimulus juga tengah disiapkan pemerintah, termasuk insentif untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang akan diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Hasil asesmen KSSK menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia selama kuartal II-2026 tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Ketahanan domestik tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid serta stabilitas sektor keuangan yang terjaga. Purbaya juga memastikan bahwa APBN akan terus dioptimalkan untuk menjaga konsumsi rumah tangga melalui perlindungan sosial, stabilitas harga pangan dan energi, serta stimulus ekonomi periode libur sekolah.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen pada 2029, dengan target antara 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027. Purbaya menilai target tersebut realistis seiring mulai bergeraknya sektor swasta dan meningkatnya aktivitas investasi. S&P Global Ratings juga mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, mencerminkan keyakinan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang solid berkat kebijakan fiskal dan moneter yang prudent.






