
Jakarta – PT Pertamina (Persero) melalui subholdingnya Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) telah resmi mengambil langkah strategis dengan akuisisi 20 persen saham Citicore Renewable Energy Corporation (CREC), perusahaan energi terbarukan terkemuka asal Filipina. Nilai transaksi diperkirakan mencapai US$120 juta (Rp 1,96 triliun) .
Citicore mengelola kapasitas pembangkit surya 287 MW dan menargetkan ekspansi hingga 5 GW dalam lima tahun ke depan. Akuisisi ini menunjukkan upaya serius Pertamina dalam mengokohkan posisi energi bersih dan memperluas ekosistem EBT-nya di luar negeri .
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menyatakan optimisme atas langkah tersebut. “Langkah ini bukan sekadar perluasan pasar, tapi simbol komitmen transisi energi regional. Kami mendorong agar tujuan akuisisi harus lebih dari investasi finansial—harus diiringi dengan kolaborasi teknologi dan penumbuhan kemampuan SDM nasional,” ujarnya di Jakarta, (19/6)
Menurut John Anis, Direktur Utama Pertamina NRE, selain memperluas portofolio energi hijau, kerja sama ini membuka peluang percepatan pembangunan PLTS dan transfer teknologi dalam negeri . Harapannya, kolaborasi ini akan mempercepat target 60 persen bauran energi terbarukan di Indonesia pada 2034.
Romadhon Jasn menambahkan bahwa akuisisi lintas negara ini seharusnya menjadi momentum untuk memaksimalkan potensi industri panel surya dalam negeri. “Dengan terobosan akuisisi ini, petani teknologi kita bisa melesatkan manufaktur—produk lokal seperti solar panel Cikarang harus dijadikan pemasok utama, bukan sekadar pelengkap,” tegasnya.
CREC dan Pertamina NRE juga berencana menjajaki pengembangan PLTS dan PLTB di Indonesia serta pengembangan kredit karbon—langkah yang dinilai penting dalam transisi energi global .
Romadhon berharap agar pemerintah dan Pertamina menjaga transparansi dalam proses ini. “Agar publik yakin bahwa strategi ini bukan permainan politik, tapi benar-benar bermanfaat untuk SDM, bangsa, dan ekosistem energi bersih,” pungkasnya.





