
JAKARTA, – Perum Bulog menemukan praktik penjualan karung kosong beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) secara masif di platform daring. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius akan potensi penipuan konsumen dan pengoplosan beras, mendorong Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani untuk mengambil tindakan cepat dan tegas demi menjaga integritas pasokan pangan nasional.
Rizal Ramdhani mengungkapkan bahwa pihaknya mendapati karung-karung beras SPHP bekas yang dijual bebas di berbagai toko daring. “Saya kaget begitu melihat sendiri penjualan karung-karung SPHP kosong di e-commerce seperti Tokopedia. Ini jelas ancaman yang harus segera diatasi,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (28/7). Potensi penyalahgunaan karung-karung tersebut untuk mengemas beras berkualitas rendah atau campuran, lalu dijual sebagai beras Bulog asli, menjadi perhatian utama.
Menyikapi temuan ini, Rizal Ramdhani tak membuang waktu. Ia segera menginstruksikan direktur pengadaan Bulog untuk menelusuri sumber penjualan karung-karung tersebut dan berkoordinasi dengan pihak platform daring guna menghentikan praktik ilegal ini. Langkah cepat ini menunjukkan komitmen Bulog dalam melindungi masyarakat dari praktik curang yang merugikan.
Sebagai respons jangka panjang, Bulog kini tengah merancang sistem identifikasi baru pada kemasan beras SPHP. Rencananya, setiap karung akan dilengkapi dengan hologram, kode unik (unique ID), atau label keamanan lainnya. Inovasi ini diharapkan mampu membantu konsumen membedakan produk asli Bulog dari produk palsu, sehingga meminimalisasi ruang gerak para penipu. “Langkah Bulog untuk memperkuat identifikasi produk ini adalah terobosan penting. Ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk melindungi konsumen dari praktik culas yang merusak kepercayaan pasar,” kata Direktur Gagasan Nusantara, Romadhon Jasn.
Tak berhenti di situ, Bulog juga berencana melibatkan koperasi pemerintahan, seperti koperasi Polri dan koperasi kementerian, dalam jaringan distribusi beras SPHP. Langkah ini diambil dengan pertimbangan bahwa lembaga pemerintah memiliki pengawasan internal yang lebih ketat dibandingkan dengan pasar umum. “Dengan melibatkan koperasi pemerintah, kami berharap jalur distribusi beras SPHP bisa lebih aman dan terkontrol, mengurangi risiko kebocoran dan penyalahgunaan,” jelas Rizal.
Praktik pengoplosan beras dengan menggunakan kemasan Bulog bukan isapan jempol. Belum lama ini, kasus serupa terungkap di Pekanbaru, Riau. Seorang tersangka ditangkap karena mengemas campuran beras berkualitas rendah dan beras afkir ke dalam karung SPHP kosong, lalu menjualnya seolah-olah beras Bulog asli. “Beras yang dioplos itu sama sekali bukan dari gudang kami. Ini murni pemalsuan kemasan,” tegas Rizal, menyoroti pentingnya edukasi publik agar tidak mudah tertipu.
Tersangka di Pekanbaru diketahui merupakan mantan mitra Bulog yang kontraknya telah diputus karena terbukti menjual beras di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Kasus ini menggarisbawahi tantangan Bulog dalam mengawasi seluruh rantai distribusi, terutama di pasar tradisional dan toko ritel yang dinilai lebih rentan terhadap peredaran beras palsu karena pengawasan yang kurang ketat.
“Masih ada celah yang dimanfaatkan oknum nakal di pasar. Penguatan pengawasan di tingkat ritel dan edukasi ke pedagang perlu terus digalakkan,” tambah Romadhon.
Untuk memperkuat pengawasan, Bulog terus mempererat kerja sama dengan Satgas Pangan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Tim pengawas internal Bulog juga telah diterjunkan ke seluruh wilayah guna mengontrol kondisi di lapangan dan menindaklanjuti setiap laporan penyimpangan. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan efek gentar bagi para pelaku kejahatan pangan.
Langkah Bulog ini patut diapresiasi sebagai upaya konkret pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan dan melindungi daya beli masyarakat dari praktik-praktik ilegal yang dapat memicu kenaikan harga dan ketidakstabilan pasokan.
“Inisiatif Bulog ini adalah bentuk kehadiran negara dalam melindungi hajat hidup orang banyak. Dukungan penuh dari publik sangat dibutuhkan agar program ini berjalan optimal,” tegas Romadhon.
Bulog menegaskan, ketersediaan beras SPHP yang terjamin kualitas dan keasliannya adalah prioritas utama. Masyarakat diimbau untuk lebih teliti saat membeli beras, serta melaporkan jika menemukan indikasi penjualan karung kosong SPHP atau beras oplosan kepada pihak berwenang atau Bulog langsung.
“Masyarakat adalah garda terdepan pengawasan. Mari kita kawal bersama langkah Bulog ini agar tujuan menjaga ketahanan pangan nasional tercapai sepenuhnya,” pungkas Romadhon.





