
Jakarta – Sebuah langkah berani ditunjukkan dunia penerbangan nasional ketika pesawat Pelita Air untuk pertama kalinya terbang menggunakan campuran bahan bakar dari minyak jelantah. Uji coba ini bukan sekadar eksperimen teknis, melainkan simbol bahwa energi bersih bisa lahir dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sampah.
Dalam konteks transisi energi, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan bakar menjadi jawaban atas dua masalah sekaligus: pengelolaan limbah dan ketergantungan pada energi fosil. Di tengah isu krisis energi global, Indonesia menempatkan diri sebagai negara yang tidak hanya menunggu, tetapi berani berinovasi.
Fakta ini penting, sebab selama ini narasi energi baru dan terbarukan sering terjebak pada tataran wacana. Penerbangan Pelita Air dengan jelantah menjadi bukti konkret bahwa gagasan besar bisa diwujudkan secara nyata. Inilah titik di mana publik bisa melihat bahwa transisi energi bukan slogan kosong.
Namun, inovasi ini juga harus dipandang lebih dalam. Jangan sampai keberhasilan di udara hanya menjadi seremonial, tanpa menyentuh kebijakan distribusi dan keberlanjutan. “Tantangannya ada pada bagaimana minyak jelantah, yang berserakan di dapur-dapur rumah tangga dan restoran, bisa terintegrasi ke rantai pasokan energi nasional. Inilah catatan penting,” terang Romadhon Jasn, Direktur Gagas Nusantara, Kamis (21/8/2025).
Selain itu, inovasi berbasis minyak jelantah ini membuka percakapan tentang keadilan energi. Jangan sampai teknologi bersih hanya menjadi milik korporasi besar, sementara rakyat kecil tidak merasakan manfaatnya. Energi yang lahir dari dapur mestinya kembali ke rakyat dalam bentuk harga terjangkau dan akses yang merata. Hal ini juga ditekankan oleh Romadhon Jasn.
Lebih jauh lagi, eksperimen jelantah harus dikaitkan dengan visi besar Indonesia dalam peta energi dunia. Jika berhasil dikelola secara konsisten, negeri ini bisa menjadi pelopor, bukan sekadar pengikut. “Justru dari sini kita belajar bahwa keberanian untuk keluar dari logika lama adalah syarat utama kemajuan,” ungkapnya.
Maka, publik harus memahami bahwa transisi energi tidak boleh dimaknai sekadar pergantian teknologi, melainkan perubahan cara berpikir. Minyak jelantah hanyalah simbol bahwa sumber daya baru bisa ditemukan di tempat yang tak terduga.
Pada akhirnya, penerbangan dengan jelantah adalah permulaan dari jalan panjang. Publik berhak menaruh harapan, tetapi juga perlu menjaga akal sehat agar tidak terjebak pada euforia sesaat. Jika konsistensi dijaga, Indonesia bisa menulis sejarah baru energi dunia.





