
JAKARTA,- PT Pertamina (Persero) kembali menunjukkan bahwa ia bukan hanya tulang punggung energi, tetapi juga penopang fiskal negara. Laporan kinerja 2025 yang dipaparkan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri di hadapan Komisi XII DPR RI memperlihatkan stabilitas operasional dan keuangan yang jarang dimiliki perusahaan energi di tengah gejolak global.
Pendapatan tembus USD 68 miliar, laba bersih diproyeksikan USD 3,3 miliar, dan kontribusi ke negara mencapai Rp 262 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi bukti bahwa Pertamina bekerja dalam tekanan ekonomi global yang sulit dan tetap berhasil menjaga energi tetap mengalir ke seluruh wilayah Indonesia.
Simon menegaskan komitmen Pertamina menjalankan visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) energi ini sebagai soko guru nasional. Dengan strategi Dual Growth Strategy, Pertamina memperkuat bisnis migas tradisional sekaligus mempercepat langkah menuju energi rendah karbon.
“Pertamina sedang berada di fase penting sejarahnya. Kinerja keuangan kuat, operasi stabil, tetapi masa depan energi tidak hanya ditentukan oleh hari ini. Transparansi, regulasi, dan komitmen pada keberlanjutan adalah ujian sebenarnya,” ujar Romadhon Jasn, Direktur Gagas Nusantara, Rabu (19/11/2025)
Dari sisi operasional, Pertamina menunjukkan hasil mengesankan: produksi migas stabil di atas 1 juta BOEPD, yield kilang mencapai rekor 83%, penjualan BBM menembus 100 juta KL, dan bisnis pelayaran PIS tumbuh. Semua capaian ini memperlihatkan bahwa transformasi korporasi tidak hanya berhenti pada jargon.
Namun di balik kekuatan itu, ada pekerjaan rumah strategis yang tidak boleh terabaikan. Pertamina harus memperkuat literasi energi, meningkatkan transparansi operasional, dan memastikan harga energi tetap adil bagi masyarakat. Di tengah isu energi global, kepercayaan publik menjadi aset yang sama pentingnya dengan cadangan migas.
“RUU Migas adalah momentum besar. Jika tepat, ia akan mempercepat swasembada energi. Jika keliru, ia hanya menciptakan aturan baru tanpa perubahan sistemik,” tegas Romadhon Jasn.
Ia menekankan bahwa keberhasilan regulasi baru harus diukur dari tiga hal: kepastian hukum bagi investor, perlindungan kepentingan publik, dan percepatan transisi menuju energi bersih yang terjangkau. Tanpa ketiga pilar itu, hilirisasi energi bisa kehilangan arah.
Selain itu, Romadhon menegaskan pentingnya governance. “Setiap tetes energi harus kembali untuk rakyat. Kinerja boleh tinggi, tetapi integritas adalah fondasi,” katanya.
Pertamina saat ini berada pada fase emas untuk melakukan lompatan besar. Dengan kinerja yang kokoh, dukungan politik yang kuat, dan momentum reformasi regulasi, perusahaan ini bisa menjadi penentu arah masa depan energi Indonesia. Tetapi seperti ditegaskan Romadhon, “Energi bukan hanya soal produksi, tetapi soal keputusan moral: apakah kita membangun masa depan yang berdaulat, adil, dan berkelanjutan?”





