
Jakarta,- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan rencana mengkaji pembukaan taman kota selama 24 jam di seluruh wilayah Jakarta. Gagasan ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya antusiasme publik terhadap ruang terbuka yang kini menjadi kebutuhan hidup warga perkotaan.
“Taman bukan hanya tempat rekreasi, tapi ruang hidup sosial warga. Kami sedang mengkaji kemungkinan membuka taman-taman utama di setiap wilayah Jakarta selama 24 jam, tentu dengan pertimbangan keamanan dan partisipasi warga,” ujar Pramono dalam keterangannya.
Inisiatif ini mendapat sorotan positif dari banyak pihak karena mencerminkan arah kota yang semakin terbuka, manusiawi, dan berpihak pada keseimbangan mental dan fisik warganya. Sejumlah taman seperti Tebet Eco Park, Taman Lapangan Banteng, dan Taman Suropati telah terbukti menjadi magnet interaksi sosial yang produktif.
Namun demikian, sejumlah catatan pun muncul dari kalangan masyarakat sipil dan komunitas warga. Mereka mendukung ide tersebut, namun menekankan pentingnya aspek keamanan, pengawasan berbasis komunitas, fasilitas penerangan, dan desain inklusif bagi lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Jaringan Masyarakat Madura Jakarta (JAMMA), yang selama ini aktif mendorong ruang publik terbuka, mengapresiasi rencana tersebut. Ketua Umum JAMMA, Edi Homaidi, menyampaikan bahwa taman 24 jam adalah simbol kemajuan, tetapi pelaksanaannya tidak bisa dipaksakan seragam di semua wilayah. “Setiap lingkungan punya tantangan sosial sendiri. Yang utama adalah: warga harus diajak bicara lebih dulu,” katanya, Rabu (2/7/2025) di Jakarta.
JAMMA mengusulkan agar Pemprov DKI menggelar forum dengar pendapat warga per kelurahan atau RW untuk memetakan kesiapan sosial, titik rawan, serta potensi kolaborasi warga setempat dalam merawat dan menjaga taman malam hari. “Kebijakan ini akan berhasil jika ada rasa memiliki, bukan hanya rasa takut,” tambah Edi.
Selain itu, JAMMA menekankan perlunya penambahan personel satpol PP ramah warga, kamera pengawas, serta pelibatan pengurus RT/RW dan karang taruna sebagai mitra pemeliharaan taman malam hari. “Taman 24 jam bukan hanya tentang waktu buka, tapi bagaimana ruang itu tetap aman dan hangat sepanjang malam,” ujarnya.
Dukungan publik terhadap taman terbuka di Jakarta memang terus meningkat. Dalam survei Jakarta Urban Watch bulan Mei 2025, 68% warga menyatakan menginginkan ruang hijau yang bisa diakses hingga malam, terutama oleh pekerja yang hanya punya waktu luang di luar jam kantor. Namun 72% dari mereka juga meminta agar fasilitas keamanan dan pencahayaan menjadi prioritas.
Rencana ini menunjukkan bahwa Pemprov DKI tak hanya membangun ruang, tetapi juga membuka kanal dialog. Jika dijalankan dengan prinsip partisipatif dan responsif, taman 24 jam bisa menjadi bukan hanya simbol kota modern, tapi cerminan Jakarta yang mendengar, merawat, dan tumbuh bersama warganya.





