
Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menggenjot dua agenda penting: pelebaran Sungai Ciliwung untuk mengatasi banjir, serta revitalisasi kawasan Blok M sebagai pusat perdagangan dan ikon kota. Keduanya dinilai sebagai langkah strategis untuk menata ibu kota agar lebih modern dan tangguh.
Program pelebaran Ciliwung mendapat apresiasi karena menyasar masalah klasik Jakarta yang selalu muncul tiap musim hujan. Langkah ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang agar banjir tidak lagi menjadi langganan tahunan. Namun, penataan harus tetap menjunjung tinggi asas keadilan bagi warga yang terdampak langsung.
Ketua Umum Jaringan Masyarakat Madura Jakarta (JAMMA), Edi Homaidi, menyampaikan dukungannya atas upaya pengendalian banjir melalui pelebaran sungai. “Kami mendorong agar proyek ini berjalan transparan dan manusiawi. Warga yang direlokasi perlu mendapat ganti untung dan jaminan hidup lebih layak setelah pindah,” ujarnya, Rabu (3/9/2025)
Selain infrastruktur lingkungan, Pemprov DKI juga tengah menata sektor ekonomi rakyat melalui revitalisasi Blok M. Kawasan ini diharapkan menjadi destinasi belanja dan budaya yang bisa memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global. Namun, suara pedagang kecil perlu tetap menjadi perhatian utama.
“Blok M adalah simbol interaksi sosial dan ekonomi warga Jakarta. Jangan sampai pedagang kecil kehilangan tempat hanya karena sewa kios yang tidak terjangkau. Revitalisasi harus memberi ruang untuk UMKM agar wajah kota tetap hidup,” kata Edi Homaidi.
Sejumlah pakar menilai, jika kedua agenda ini berjalan dengan pendekatan partisipatif, maka Jakarta akan mampu menyeimbangkan pembangunan fisik dengan keadilan sosial. Masyarakat luas juga diharapkan bisa ikut menjaga keberlanjutan program, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara merata.
Edi menambahkan, penting bagi DPRD dan pemerintah daerah memperkuat fungsi pengawasan. “Pembangunan kota global jangan hanya menguntungkan kalangan atas. DPRD harus memastikan setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat kecil,” tegasnya.
JAMMA menilai momentum ini sebagai kesempatan untuk membangun Jakarta dengan prinsip kolaboratif. Aspirasi pedagang, warga bantaran sungai, hingga komunitas lokal perlu diakomodasi agar kota tumbuh dengan harmoni.
“Kami percaya Jakarta bisa maju tanpa meninggalkan rakyat kecil. Pelebaran Ciliwung dan revitalisasi Blok M harus menjadi bukti bahwa kota global berarti kota yang berkeadilan,” tutup Edi.





