
Jakarta, Sekretaris Jenderal Visioner Indonesia Akril Abdillah mendorong Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPB) untuk rutin melakukan deradikalisasi pada dunia kampus. Pasalnya dunia kampus sangat rentan disusupi paham radikalisme dan terorisme.
“BNPT harus melibatkan perguruan tinggi dalam upaya penanggulangan merebaknya paham radikalisme guna masifikasi aksi pencegahan tindakan terorisme”, ujar Akril melalui Media, Selasa, 24/05/2022.
Akril mengatakan bahwa berdasarkan penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan BIN pada 2017 silam di 15 provinsi terdapat 39 persen mahasiswa Indonesia terpapar radikalisme. Sebanyak 24 persen mahasiswa setuju melakukan jihad menegakan daulah islamiyah atau kilafah. Menurutnya paham radikal tidak selalu dilatarbelakangi pemikiran agama namun juga dengan pilihan politik.
“Radikalisme tidak semuanya dilatar belakangi oleh pemikiran agama namun juga pilihan politik”, ujarnya.
Lebih lanjut Akril mengatakan pemahaman terhadap teks agama menjadi bagian utama dari penyebab munculnya Radikalisme dikalangan mahasiswa, sehingga gerakan Deradikalisasi harus gencar disosialisasikan, bahkan harus menjadi program khusus penerapannya di sebuah Perguruan Tinggi.
“Derasikalisasi perlu terus di sosialisasikan bahkan harus menjadi program khusus penerapannya pada perguruan tunggi”, ucapnya.
Untuk diketahui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan adanya kelompok radikal yang diduga terafiliasi jaringan terorisme dengan latarbelakang kampus. Pihaknya menduga yang terlibat dalam kelompok tersebut termaksud dosen dan mahasiswa
Sehingga menurut Kepala BNPT kerja sama dengan pihak kampus akan membuat ketahanan masyarakat atas paham radikal terorisme semakin baik.
Akril mendukung adanya kerjasama BNPT dengan perguruan tinggi untuk melakukan sosialisasi dan deradikalisasi guna membuat ketahanan masyarakat atas paham radikal terorisme semakin baik.
“Kami mendukung adanya kerjasama BNPT dan kampus untuk melakukan deradikalisasi”, tutupnya.
