Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Bahlil Mau Stop Impor, Pakar Waswas BBM SPBU Swasta Langka Lagi

by Visioner Indonesia
Januari 13, 2026
in Ekonomi
Reading Time: 4min read
0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta – Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) mengingatkan agar kebijakan penghentian kuota impor untuk gasoil atau solar ataupun gasoline atau bensin bagi operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta tidak sampai memicu kelangkaan pasokan di dalam negeri.

Kebijakan tersebut juga diharapkan tidak sampai mengganggu iklim usaha sektor hilir migas.

Peringatan ini disampaikan menyusul pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebut pemerintah tidak akan memberikan kuota impor solar bagi SPBU swasta pada tahun ini.

Bahlil juga berambisi, ke depannya, kuota impor bensin juga tidak akan diberikan kepada badan usaha (BU) hilir migas swasta.

Praktisi migas sekaligus Sekretaris Jenderal IATMI Hadi Ismoyo menilai kebijakan tidak memberikan kuota impor BBM kepada SPBU swasta  perlu diiringi dengan komunikasi dan kesepakatan bisnis yang jelas.

“Menurut keyakinan saya, sebelum membuat kebijakan tidak memberi kuota impor kepada SPBU swsata, para pihak dalam hal ini KPI [Kilang Pertamina Internasional] dan SPBU swasta [perlu] untuk berdialog dan berdiskusi secara B2B [business to business]. Di mana KPI diharapkan bisa menyediakan base BBM yg dibutuhkan SPBU swasta,” kata Hadi saat dihubungi, Selasa (13/1/2026).

“Sepanjang secara B2B menyangkut spesifikasi dan harga cocok, kenapa tidak SPBU swasta untuk memenuhi base BBM-nya dari KPI?” sambungnya. 

Namun, Hadi menegaskan apabila dalam praktiknya tidak tercapai kesepakatan terkait dengan spesifikasi maupun harga, pemerintah semestinya tetap membuka opsi impor sesuai ketentuan yang berlaku. 

“Karena sesuai Undang-Undang Migas, kita menganut sistem terbuka dan memungkinkan dibuka sektor hilir untuk SPBU sswasta, maka hal tersebut harus dipatuhi,” jelasnya.

Meski demikian, kata Hadi, sejauh kebijakan pengetatan kuota impor untuk SPBU swasta lebih difokuskan pada BBM jenis solar saja, maka pasokan BBM di dalam negeri akan baik-baik saja. 

Penyebabnya, ketersediaan solar relatif aman seiring mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dikombinasikan dengan implementasi program biodiesel B40 dan B50.

“Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan ini, cadangan BBM solar cukup. Apalagi dikombinasikan dengan program B40 dan B50,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan memiliki ambisi untuk turut menyetop impor bensin yang dilakukan operator SPBU swasta, setelah menyetop impor solar bagi badan usaha (BU) hilir migas swasta mulai awal tahun ini.

“Saya ke depan itu bermimpi, ya nanti sebentar saya akan lapor ke Bapak Presiden, bahwa RON 92, RON 95, RON 98, itu harus diproduksi dalam negeri. Itu sesuai dengan peraturan menteri dan perpres sejak 2005 bahwa kita harus memprioritaskan produk dalam negeri,” ujar Bahlil ditemui awak media, di kawasan RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, (Senin 12/1/2026).

Bahlil menjelaskan setelah beroperasinya RDMP di Kilang Balikpapan, maka terdapat tambahan produksi bensin sekitar 5,8 juta kiloliter (kl).

Dengan begitu, Bahlil mengklaim produksi bensin Tanah Air akan mendekati level 20 juta kl dari sebelumnya sekitar 14 juta kl.

Apabila dibandingkan dengan konsumsi bensin dalam negeri yakni sekitar 40 juta kl, maka sisa impor bensin Indonesia masih terpaut sekitar 20 juta kl.

“Dengan penambahan 5,8 maka total produksi dalam negeri kita itu mencapai hampir 20 juta kl. Jadi sisa impor kita itu kurang lebih sekitar tinggal 18—19 juta kl,” tegas Bahlil.

Dalam kesempatan itu, Bahlil turut menyampaikan Kementerian ESDM tak memberikan kuota impor solar bagi operator SPBU swasta untuk gasoil atau solar dengan angka setana atau cetane number (CN) 48.

Adapun, solar berkualitas tinggi atau CN51, Bahlil menyatakan akan turut menyetop impor komoditas migas tersebut pada semester II-2026.

“CN 48 sama CN 51. Untuk CN 48 sama sekali sudah stop impor. CN 51-nya semester dua tidak kita impor lagi. Semester dua tahun ini,” ujar Bahlil.

Sekadar catatan, tahun lalu pemerintah mempersingkat durasi izin impor BBM oleh badan usaha swasta menjadi 6 bulan dari biasanya 1 tahunan.

Dalam durasi yang singkat tersebut, SPBU swasta diberi kuota impor periode 2025 sebanyak 10% lebih banyak dari realisasi tahun lalu.

Dalam perkembangannya, saat realisasi impor telah terpenuhi lebih cepat akibat tingginya permintaan BBM di SPBU swasta, Kementerian ESDM menolak untuk memberikan tambahan rekomendasi kuota impor, sehingga menyebabkan gangguan pasok di hampir seluruh jaringan SPBU swasta.

Sebagai jalan tengah, Bahlil mengambil kebijakan agar pemenuhan kebutuhan BBM untuk SPBU swasta akan dilakukan oleh Pertamina melalui impor dalam format base fuel, atau BBM dasaran tanpa ada campuran bahan aditif.

Previous Post

Menjemput Kejayaan dari Pesisir: Mampukah Kampung Nelayan Merah Putih Mengguncang Pasar Dunia?

Next Post

Tak Hanya Solar, Bahlil Berencana Stop Impor Bensin SPBU Swasta

Related Posts

Tetangga Naik, BBM RI Tetap Stabil: Apa Rahasianya?
Ekonomi

Tetangga Naik, BBM RI Tetap Stabil: Apa Rahasianya?

Maret 30, 2026
Lapor ke Prabowo Soal Anggaran, Purbaya Pastikan APBN Aman
Ekonomi

Lapor ke Prabowo Soal Anggaran, Purbaya Pastikan APBN Aman

Maret 20, 2026
Setahun Danantara, Mandiri Dukung Pendidikan Nasional
Ekonomi

Setahun Danantara, Mandiri Dukung Pendidikan Nasional

Maret 18, 2026
BGN Kaji Efesiensi Anggaran
Ekonomi

BGN Kaji Efesiensi Anggaran

Maret 18, 2026
Menata Ulang Tata Kelola Gizi Nasional: BGN Bersih-Bersih, Kepercayaan Publik Kembali Pulih
Ekonomi

Menata Ulang Tata Kelola Gizi Nasional: BGN Bersih-Bersih, Kepercayaan Publik Kembali Pulih

Maret 18, 2026
Ujian Integritas di Balik Target 500 Ribu PMI: Atase Jadi Kunci Transformasi Martabat?
Ekonomi

Ujian Integritas di Balik Target 500 Ribu PMI: Atase Jadi Kunci Transformasi Martabat?

Maret 16, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Langkah Polda Metro Jaya Limpahkan Kasus ke Puspom Dinilai Tepat.

1 April 2026 Tidak Ada Perubahan Harga BBM di SPBU Pertamina

Silaturahmi Eks Pengurus Besar HMI dengan Kapolres Situbondo

Tetangga Naik, BBM RI Tetap Stabil: Apa Rahasianya?

Bandara Soekarno-Hatta Tembus 10 Besar Dunia, Pemuda Muslimin Jakarta Utara Apresiasi Terobosan Kemenimipas

Lapor ke Prabowo Soal Anggaran, Purbaya Pastikan APBN Aman

TERPOPULER

Langkah Polda Metro Jaya Limpahkan Kasus ke Puspom Dinilai Tepat.

1 April 2026 Tidak Ada Perubahan Harga BBM di SPBU Pertamina

Silaturahmi Eks Pengurus Besar HMI dengan Kapolres Situbondo

Tetangga Naik, BBM RI Tetap Stabil: Apa Rahasianya?

Bandara Soekarno-Hatta Tembus 10 Besar Dunia, Pemuda Muslimin Jakarta Utara Apresiasi Terobosan Kemenimipas

Lapor ke Prabowo Soal Anggaran, Purbaya Pastikan APBN Aman

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved