(GagasanIndonesia.com) Surabaya.- Bersamaan dengan diputarnya film Sang Guru Bangsa HOS. Tjokroaminoto diberbagai bioskop tanah air, Bibliopolis Book Review Surabaya menggelar diskusi buku ‘Islam dan Sosialisme’ karya tokoh kelahiran Madiun tersebut. Diskusi yang dihadiri oleh kalangan aktivis pergerakan ini disemangati oleh memudarnya semangat kalangan generasi muda untuk mengkaji kembali gagasan pendiri bangsa dari beberapa buku yang telah dituliskannya.
“Buku ini berisi pesan dakwah karena Tjokroaminoto kerap menyertakan ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an untuk memperkuat gagasannya tentang adanya nilai sosialisme dalam Islam.”kata Imam Junaidi pereview dalam diskusi. Dalam buku tersebut, Tjokroaminoto menyitir ayat yang berbunyi ‘Kaanan nasu ummatan wahidatan’, sebuah ayat yang mengandung arti tentang persaudaraan antar umat manusia. Bagi Tjokroaminoto, sosialisme dalam Islam bukan hanya sekedar persoalan teori belaka. Namun sudah termanifestasikan dalam bentuk konkrit berupa kegiatan-kegiatan ritual yang dilakukan setiap harinya.
“Pertunjukan sosialisme dalam Islam, menurut Tjokroaminoto dalam buku ini, bisa dilihat dari pelaksanaan sholat jum’at, sholat Idul Fitri dan Idul Adha serta prosesi ibadah haji dan ibadah lainnya dalam Islam. Lewat ibadah-ibadah itu, tak ada perbedaan bagi kelompok kaya dan miskin. Semuanya sama”ujar aktivis kelahiran Jember tersebut.
Sosialisme sendiri dalam pengertian Tjokroaminoto adalah peraturan yang lebih mengutamakan persahabatan atau pertemanan dibandingkan dengan individualisme. Sedangkan komunisme dalam pandangan Tjokroaminoto bermakna peraturan yang menyerang kepemilikan seseorang.
Menurut Abdul Kariem, salah satu peserta diskusi, sangat berbeda sekali sosialisme yang diusung oleh Tjokroaminoto dalam buku tersebut dengan sosialisme yang diusung oleh sekalangan kelompok.komunis selama ini.
“Bagi kelompok komunis, perubahan untuk meniadakan sistem kelas dan menyamaratakan status sosial harus dan wajib dilakukan dengan jalan revolusi. Sedangkan menurut Tjokroaminoto, untuk perubahan sosial penyamarataan kelas bisa dilakukan dengan jalan memberi shodakoh dan zakat. Jadi sangat kontras sekali sosialisme dalam Islam dan sosialisme komunis” tambah alumnus Aqidah Filsafat UIN Surabaya ini. (Romadhon).

