“Setiap pengalaman yang tidak dinilai, baik oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain, akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain dari pada fondasi kehidupan. Maka belajarlah kamu menilai pengalamanmu sendiri (Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, II, 273).
Nah melalui tulisan ini, penulis berupaya untuk menerapkan apa yang dikatakan oleh sastrawan besar tanah air tersebut. Selain itu, penulis juga mencoba meniru apa yang dilakukan oleh Dahlan Iskan yang kerap menuliskan gagasannya, pengalamannya serta kegiatannya lewat kolom New Hope di koran Harian Jawa Pos. Nantinya mungkin setiap seminggu sekali, penulis akan menemui pembaca untuk berbagi pengetahuan yang didapat lewat hasil review buku Bibliopolis Book Review (BBR) Surabaya.
Oh ya, mungkin pembaca sekalian akan bertanya-tanya apa dan bagaimana BBR itu? Siapa saja peserta diskusinya? Lalu buku apa saja yang dikaji, direview untuk kemudian didiskusikannya?
Ide prihal digagasnya forum review buku ini sebenarnya bermula dari keresahan penulis saat melihat dan mengetahui dunia aktivis yang ternyata dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang kering akan informasi terkait gagasan para pendiri bangsa. Semenjana dengan itu, kalangan aktivis saat ini lebih kerap mengutip pemikiran-tokoh-tokoh yang berasal dari luar negeri. Marx, Hegel, Hasan Al-Banna, Che Guevara dan yang lainnya sering menjadi kata-kata ampuh untuk membius massa. Bukannya penulis anti pada tokoh-tokoh besar dunia tersebut. Bukan! Penulis juga kagum pada tokoh-tokoh itu yang mampu merubah dunia. Namun yang menjadi titik perhatian penulis adalah ketidaktahuan aktivis sekarang pada gagasan besar para pendiri Republik ini yang tak kalah haibatnya dengan para tokoh luar tersebut.
Tak jarang yang agak menggelikan adalah saat penulis pernah berjumpa dengan seorang aktivis yang mengenakan kaos bergambar tokoh revolusioner Che Guevara, kemudian penulis bertanya padanya apakah tahu dengan gagasan dan perjuangan tokoh tersebut?. Aktivis tersebut malah menggelengkan kepalanya. Lucu. Begitu pikir penulis saat itu. Bagaimana tidak. Kaos bergambar seorang tokoh besar dunia dikenakannya, tapi tak tahu akan gagasan besar dan perjuangannya. Inilah wajah paradoksal dunia aktvis kita saat ini.
Gambar-gambar tokoh besar itu dikenakannya saat aksi demonstrasi. Tapi ruh perjuangannya, api pemberontakan yang digelorakannya luput dari perhatiannya. Gambar hanya sekedar gambar yang tak menginspirasi para pemakainya, kecuali sekedar untuk ajang gagah-gagahan pemakainya saja. Inilah sindrom Fashionable Ideologi. Ideologi gagah-gagahan yang menyusup masuk dalam relung-relung kesadaran dan gaya hidup aktivis sekarang. Apalagi ideologi yang mereka usung dan bawa ke mana-mana tidak mempunyai akar dalam kesejarahan Republik. Itulah keresahan pertama yang membuat penulis untuk menggagas forum review buku Bibliopolis.
Keresahan kedua bermula dari minimnya minat aktivis saat ini dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Budaya oral melanda sebagian besar aktivis muda. Mereka lebih suka berorasi di tengah-tengah massa tapi sangat sedikit sekali, di antara mereka yang mencoba merangkai gagasan dalam bentuk tulisan di berbagai media massa.
Padahal tak bisa dipungkiri, tokoh-tokoh besar yang pernah lahir ke dunia, mereka tak hanya piawai dalam berorasi. Melainkan sangat ganas dalam menyemburkan kata lewat tulisan. Sabetan tulisan mereka bahkan mampu membuat sebuah rezim jatuh kemudian terkubur dalam kerak sejarah umat manusia. Sedikit mengutip apa yang pernah dituturkan oleh HOS.Tjokroaminoto, “Jika anda ingin menjadi pemimpin besar, menulislah ibarat wartawan, berbicaralah ibarat seorang orator”.
Lewat tuturan Tjokroaminoto itulah selayaknya aktvis saat ini mengambil semangat itu. Banyak sekali literature yang berbicara pada kita semua, bagaimana menggemparkannya pledoi Sukarno dalam ‘Indonesia Menggugat’-nya, Tan Malaka lewat ‘Naar de Republik’-nya, dan masih banyak lagi yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Ketiga, diadakannya forum review buku ini untuk mempersiapkan aktivis muda dalam menghadapi tantangan ke depan yang semakin berat dengan meningkatkan wacana intelektualitasnya. Begini maksudnya. Di Surabaya, terutama disekitaran Wonocolo, tempat Bibliopolis biasa mengadakan kegiatan diskusinya, ada sebuah komunitas diskusi bernama ‘Indonesia Belajar Institute’ yang digawangi oleh saudara Marlaf Sucipto. Nah penulis pernah pada suatu waktu menjadi pemateri dalam forum diskusi tersebut. Kami amati. Kami perhatikan. Ternyata pematerinya adalah orang-orang top yang sudah malang melintang dalam dunia aktivis dan pergerakan serta advokasi masyarakat. Melihat hal itu, penulis berpikiran bahwa kelak orang-orang top itu akan menghadapi masa senjanya. Nah kalau sudah demikian tentu harus ada generasi penerusnya yang mampu melanjutkan estafet perjuangan mereka. Dari sinilah kemudian penulis menggarap aktivis muda untuk kemudian memberikan mereka panggung belajar menyampaikan gagasannya di depan teman-teman aktivis lainnya.
Mereka kami sediakan buku para pendiri Republik yang harus dibaca kemudian dipresentasikan hasil bacaannya di hadapan yang lainnya. Tak hanya itu. Mereka kami minta juga untuk menuliskan hasil bacaannya yang kelak rencananya akan dibukukan saat hari kelahiran Bibliopolis Book Review di bulan Oktober nanti. Yah mungkin ini bukanlah keresahan yang menggelayuti pikiran penulis. Tapi sedikit upaya untuk mengkader dan mempersiapkan kaum muda Indonesia agar siap menggantikan generasi tua sebelum mereka. Terima kasih saya ucapkan pada saudara Marlaf Sucipto yang telah memberi inspirasi bagi saya untuk menggarap kaum muda yang belum tergarap. Mari bersama-sama membangun dan mempersiapkan generasi emas Indonesia kelak dari sini. Dari Surabaya ini.
Ada aura bahagia saat para aktivis muda ini mengetahui kisah hidup dan perjuangan Tjokroaminoto, Kartini, Tan Malaka, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Soe Hok Gie dan lainnya. Dasar inilah, identitas perjuangan para bapak bangsa inilah, yang coba kami perkenalkan pada mereka. Lewat karya-karya bapak bangsa, mereka akan tahu bagaimana beratnya perjuangan untuk meraih kemerdekaan yang bisa kita nikmati saat ini. “Jembatan emas. Di seberang jembatan emas inilah kita membangun generasi muda Indonesia untuk mengisi kemerdekaannya”. Begitu kata Sukarno dalam risalahnya.
Muhammad Shofa*
*Koordinator Bibliopolis Book Review Surabaya

