Dua orang migran menyaksikan pejabat Australia memberikan uang ke awak kapal penyelundup manusia untuk membawa para penumpang kembali ke Indonesia.
Salah seorang migran, Ainun, dalam wawancara dengan wartawan, Rabu, mengatakan ia melihat lembaran-lembaran dolar AS yang dibungkus dengan plastik diserahkan kepada lebih kurang empat awak kapal oleh seorang pejabat Australia.
“Mereka tidak mau membantu kami. Mereka ingin awak kapal membawa kami kembali ke Indonesia dengan uang itu,” ujar pria asal Bangladesh tersebut.
Migran kedua, pria asal Sri Lanka, mengatakan perpindahan tangan uang itu dapat dilihat oleh semua orang di kapal.
“Mereka meminta para awak untuk membawa kami kembali ke Indonesia dengan uang itu,” katanya. “Jumlahnya tidak kecil, semua orang melihatnya.”
Indonesia Tempat Transit, Australia Tujuan Imigran Gelap Bangladesh
Kedua migran tersebut berbicara dalam bahasa Indonesia dengan tingkat kefasihan yang berbeda. Kebanyakan dari migran ini pernah tinggal di Malaysia atau Indonesia, sebelum berupaya mencapai Australia.
Sebelumnya, polisi di NTT melaporkan kapten dan lima awak kapal, yang ditahan di pulau Rote yang terpencil, memiliki $30.000 (sekitar Rp 400 juta) dalam bentuk tunai. Mereka mengaku dibayar untuk mengembalikan 65 migran di kapal mereka, setelah dicegat oleh kapal angkatan laut Australia tanggal 20 Mei.
Perdana Menteri Australia Tony Abbot telah mengelak menjawab berbagai pertanyaan mengenai insiden ini, tapi mengatakan bahwa pihak berwenang Australia “sangat kreatif” dalam merespon penyelundupan manusia.
Tuduhan pembayaran bagi penyelundup manusia ini menyebabkan ketegangan antara Indonesia dan Australia, yang memiliki kebijakan untuk memerintahkan migran yang tiba dengan kapal untuk berbalik arah. Banyak migran yang melarikan diri dari kemiskinan ataupun penindasan di negara asal mereka menggunakan Indonesia sebagai titik transit dalam perjalanan yang berbahaya, seringkali dengan kapal yang tidak layak berlayar, ke Australia.
Wakil Presiden Jusuf Kalla, Selasa, mengatakan jika Australia membayar para penyelundup manusia maka itu merupakan “penyuapan.” Ia mengatakan pemerintah Indonesia meminta klarifikasi dari Canberra.
Penanganan Australia terhadap kapal-kapal migran telah terbukti berhasil mengurangi jumlah migran yang mencoba mencapai daratan Australia dan menjadi sebuah kebijakan populer dari partai konservatif yang berkuasa. (Dion Pramana / AP)




