Rektor Rosatom Central Institute for Continuing Education and Training (Rosatom CICE&T) Yuriy Seleznev mengatakan siap untuk sepenuhnya membagikan pengalaman luas dengan rekan-rekan di Indonesia di bidang pelatihan personil dan pengembangan dasar ilmiah industri nuklir seperti dilansir laman Kompas Jakarta, Minggu (28/6/2015).
Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan BUMN nuklir asal Rusia, Rosatom, menandatangani sebuah nota kesepahaman (MoU) akhir pekan lalu. MoU tersebut terkait dengan pengembangan pendidikan dan penelitian untuk membangun infrastruktur dan sistem nuklir yang berkesinambungan di Indonesia.
Menurut Yuriy, kesepakatan itu meliputi kerjasama di bidang penelitian, pendidikan, dan pelatihan ilmu pengetahuan nuklir dan teknologi. Implementasinya nanti bisa berupa pertukaran materi pembelajaran, pertukaran dosen, serta program pendidikan jarak jauh.
Saat ini kata dia, Rosatom dan Batan sedang merancang simposium, lokakarya, dan program magang. Rosatom CICE&T lanjut Yuriy, telah memiliki kerjasama dengan dengan Badan Energi Atom Dunia atau IAEA terkait kegiatan-kegiatan umum di bidang nuklir. Bahkan kata dia, program-program yang telah dikembangkan oleh Rosatom CICE&T juga telah diterapkan di beberapa negara baru yang memanfaatkan energi nuklir seperti Bangladesh dan Vietnam.
Sementara itu, Direktur Rosatom Asia Egor Simonov yang juga hadir dalam penandatanganan kesepahaman itu bilang pengambangan energi nuklir di mana pun membutuhkan tenaga yang terampil dan dasar ilmiah yang mapan.
Oleh karena itu menurut dia, sangat logis jika kerjasama pengembangan infrastruktur dan sistem nuklir yang berkesinambungan di Indonesia dimulai dengan kerjasama di bidang penelitian, pendidikan, dan pelatihan ilmu pengetahuan nuklir dan teknologi.
Sebelumnya, Batan dan Rosatom juga telah menandatangani kerja sama pengembangan energi nuklir dalam forum ATOMEXPO pada tanggal 2 Juni 2015 lalu.
Kepala Batan, Djarot Wisnubroto di Moskow mengatakan, kesepakatan itu menawarkan pengembangan infrastruktur, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengembangan kajian listrik untuk nuklir. (Moh. Yashril / AP)




