Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang diduga menjadi aktor intelektual dibalik pembakaran masjid Baitul Muttaqin Tolikara, Papua rupanya memiliki hubungan dengan pendeta Israel, negara yang masih menjajah hingga saat ini. Saat ini dua orang yang diduga menjadi provokator pembakaran masjid itu telah diamankan polisi, namun suara masyarakat menghendaki agar aktor intelektualnya juga diungkap. Peristiwa pembakaran masjid apalagi saat umat Islam sedang melaksanakan sholat Idul Fitri di hari besarnya merupakan provokasi dan ancaman yang sangat intoleran.
Menurut informasi yang disadur melalui laman Republika, GIDI akan menarik denda dari warga yang rumahnya tidak memiliki gambar bendera Israel. “Kami didenda Rp 500 ribu jika tidak cat kios, itu kami punya kios,” jelas seorang pedagang di Tolikara, Agil Paweloi (34).
Warga di Tolikara diharusnya GIDI untuk mengecat rumahnya dengan warna putih biru yang menjadi warna dasar bendera negara yang menjajah Palestina itu. Pengecetan dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan misionaris pendeta Kristen yang datang dari Israel. Seperti diketahui sebelumnya bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Fitri, di Kaburaga, Tolikara, Papua juga sedang diadakan acara oleh GIDI yang dihadiri pendeta Israel, Benjamin Berger.
Semua Warga Wajib Cat Rumah Menyambut Pendeta Israel
Menurut sumber tersebut, masyarakat yang diharuskan mengecat rumah dengan bendera Israel dan warna negara putih biru, tidak hanya dari kalangan nasrani saja, tapi semua warga di Tolikara termasuk mereka yang beragama Islam. Sedangkan Islam dan Israel sudah jelas berseberangan, karena Israel menduduki dan mencaplok tanah Palestina yang mayoritas dihuni umat muslim. Israel telah melakukan penjajahan di daerah itu sejak tahun 60’an lalu, hingga saat ini malah daerah Israel jauh lebih besar dari Palestina.
Indonesia juga diketahui tidak memiliki hubungan diplomatik antar negara dengan Israel. Pemerintah Indonesia sendiri beberapa waktu lalu, baik di masa pemerintahan Jokowi maupun Susilo Bambang Yudhoyono dengan tegas menyuarakan kebebasan, kemerdekaan, dan pengakuan kedaulatan untuk Palestina di mata dunia internasional. “Saya ikut cat saja daripada harus bayar Rp 500 ribu,” kata pedangang asal Bone itu.




