
Jakarta— PT Pertamina Patra Niaga dan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) meluncurkan program inovatif Redeem Point Kredit Karbon MyPertamina untuk mendorong penurunan emisi karbon. Langkah ini mendapat apresiasi dari Gagas Nusantara, yang menilai program tersebut sebagai wujud nyata komitmen Pertamina dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060. Namun, apakah program ini benar-benar dapat menjangkau masyarakat luas? Apakah sosialisasinya sudah cukup efektif?
Menurut Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, meskipun program ini inovatif, masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep kredit karbon dan manfaatnya. “Ini program yang sangat baik, tapi bagaimana masyarakat tahu manfaatnya jika tidak ada pendekatan yang lebih personal? Sosialisasi seperti apa yang dilakukan? Apakah masyarakat paham pentingnya peran mereka dalam dekarbonisasi?” ujar Romadhon, Minggu (15/12/2024).
Apa yang Sudah Dilakukan Pertamina?
Program Redeem Point Kredit Karbon MyPertamina memungkinkan pengguna aplikasi MyPertamina menukarkan 250 poin mereka dengan voucher kredit karbon senilai 250 kg CO2e. Sebagai apresiasi, pengguna juga menerima sertifikat kontribusi atas dukungan mereka terhadap keberlanjutan. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, menyebut langkah ini sebagai cara sederhana bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengurangan emisi karbon.
“Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengurangan jejak karbon. Melalui aplikasi MyPertamina, kami ingin memberikan akses mudah bagi pengguna untuk turut mendukung keberlanjutan,” ujar Riva dalam keterangannya, Sabtu (14/12/2024).
CEO Pertamina NRE, John Anis, menambahkan bahwa program ini juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat pasar kredit karbon di Indonesia. “Sebagai carbon market aggregator, kami berharap program ini dapat menjadi solusi nyata dalam mendukung dekarbonisasi dan keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Apa Tantangannya?
Romadhon Jasn dari Gagas Nusantara menyoroti bahwa program seperti ini memerlukan sosialisasi yang lebih masif dan tepat sasaran. “Kredit karbon mungkin belum menjadi istilah yang familiar bagi sebagian besar masyarakat. Sosialisasi yang hanya mengandalkan aplikasi atau kampanye digital mungkin tidak cukup. Pertamina perlu menggandeng elemen masyarakat yang lebih dekat dengan publik,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa program ini membutuhkan sinergi lebih luas. “Perlu melibatkan komunitas pemuda, influencer, dan organisasi lokal untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Tanpa ini, upaya baik seperti Redeem Point Kredit Karbon bisa jadi tidak maksimal,” tambah Romadhon.
Apa yang Harus Dilakukan?
Gagas Nusantara mengusulkan langkah strategis untuk memperkuat dampak program ini, seperti:
1. Libatkan Influencer dan Generasi Muda: Menggunakan media sosial secara kreatif melalui influencer dan kreator konten untuk menjangkau generasi muda.
2. Bekerja Sama dengan Komunitas Lokal: Mengadakan edukasi langsung di tingkat komunitas untuk menjelaskan manfaat kredit karbon.
3. Evaluasi dan Feedback: Setiap program harus dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya.
Apa Pesan untuk Pemerintah dan Masyarakat?
Romadhon menyerukan dukungan dari pemerintah untuk memperluas cakupan program seperti ini. “Pemerintah perlu memberikan insentif yang mendorong masyarakat menggunakan aplikasi seperti MyPertamina. Di sisi lain, masyarakat juga harus mulai sadar bahwa peran mereka sangat penting dalam mengurangi jejak karbon,” ujarnya.
Ia juga berharap Pertamina dapat terus berinovasi dan meningkatkan sinergi dalam program keberlanjutan. “Langkah seperti ini perlu terus dikembangkan, tetapi harus dibarengi dengan edukasi yang kuat agar masyarakat benar-benar merasa terlibat dalam mendukung keberlanjutan,” tutup Romadhon.
Dengan pendekatan yang lebih strategis dan melibatkan lebih banyak pihak, program Redeem Point Kredit Karbon MyPertamina dapat menjadi solusi nyata untuk mengurangi emisi karbon dan mendukung pencapaian target NZE 2060.





