JATIM – Kondisi kebangsaan Indonesia beberapa bulan ini menghadapi tantangan yang cukup berat. Proses-proses domokratisasi (Pemilu) menuju negara demokrasi yang matang di guncang oleh situasi politik yang jauh dari kesantuan dan adab mulia.
Proxy war yang dilakukan dengan menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial akan mengadu domba antar kelompok warga negara dapat membuat negara Indonesia terpecah bela.
Di tambah lagi isu-isu hoax yang dimainkan sebelum Pilpres seperti PKI bangkit kembali, Indonesia sudah dikuasai cina, diskriminasi terhadap ulama dan Indonesia menjadi Negara Khilafa.
Akhirnya muncul kelompok yang mengganggap paling pancasilais dan yang paling agamais, yang membela ulama dan tidak membela ulama, sampai yang paling beriman dan yang kafir.
Hal ini menjadikan kondisi kebangsaan Indoensia menghadapi tantangan yang begitu berat, dengan kondisi negara pasca pemilu 2019, yang tidak kondusif dengan ada kelompok yang menolak hasil perhitungan KPU, akhirnya melakukan aksi di depan kantor Bawaslu. Aksi yang terjadi pada tanggal 22 mei itu, menggambarkan kita masyarakat Indonesia sudah kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Melihat kondisi kebangsaan seperti ini, Organisasi Kepemudaan Generasi Muda Mathlaul Anwar Jawa Timur merasa prihatin dengan kondisi kebangsaan sekarang ini. GEMA MA Jawa Timur megajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama Pemerintah menjaga kesatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Generasi Muda Mathlaul Anwar Jawa Timur, Fahmi Ismail mengajak segenap tokoh politik, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda, untuk bisa duduk bersama dalam upaya rekonsiliasi agar kondisi ini segera membaik.
“Kami Juga berharap kepada segenap warga masyarakat untuk tetap menjaga kesatuan dan persatuan, sama-sama kita dukung upaya Polisi Republik Indonesia (POLRI) dalam upaya menangkap dalang Kerusuhan 22 Mei 2019 dan Sidang MK ini harus berjalan sesuai koridor Hukum yang berlaku, dan menuntaskan proses penyelesaiannya, agar tidak mengakibatkan kondisi sosial yang semakin buruk dan Insyah Allah semua persoalan tersebut kami akan bahas bersama POLRI, Tokoh Politik dan Tokoh Masyarakat Jawa Timur sebagai Upaya dalam memetakan semua kondisi yang ada pada Rapat Pimpinan Daerah tanggal 27 Juni nanti”, tegas Fahmi. (adt).






