
Jakarta, — Di usia yang ke-79, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berada pada titik penting sejarahnya. Di tengah terpaan dinamika politik, teknologi yang berubah cepat, serta ekspektasi publik yang semakin tinggi, Polri dituntut tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga pelindung rasa keadilan dan mitra dalam menjaga peradaban demokrasi.
Selama beberapa tahun terakhir, Polri telah menunjukkan langkah-langkah reformasi kelembagaan. Program Presisi yang digagas sejak 2021 menjadi fondasi bagi upaya modernisasi internal: pelayanan berbasis digital, edukasi publik, hingga kolaborasi pengawasan dengan masyarakat sipil. Namun, capaian ini juga dibarengi dengan sorotan tajam, khususnya terkait integritas, profesionalisme, dan akuntabilitas penanganan kasus besar.
Dalam berbagai survei nasional terbaru, tren kepuasan publik terhadap Polri menunjukkan peningkatan yang signifikan. Layanan berbasis teknologi seperti aplikasi pengaduan digital, pelaporan cepat, dan respons darurat kini lebih dirasakan manfaatnya oleh warga. Bahkan di desa-desa, kehadiran Bhabinkamtibmas menjadi jembatan penghubung antara negara dan rakyat.
Ketua Jaringan Aktivis Nusantara (JAN), Romadhon Jasn, menyatakan bahwa transformasi Polri saat ini patut diapresiasi. “Kami melihat semangat perbaikan terus tumbuh, tidak hanya pada level pusat, tetapi hingga ke struktur paling bawah. Ini indikasi kuat bahwa Polri ingin lebih hadir sebagai pelayan, bukan sekadar penegak hukum,” ujarnya kepada awak media, Senin (30/6/2025)
Momen Hari Bhayangkara kali ini juga memperlihatkan komitmen institusi dalam menjaga stabilitas dan demokrasi di era digital. Propaganda, hoaks, dan disinformasi yang marak di media sosial dihadapi dengan strategi lebih adaptif—tidak reaktif, tapi edukatif. Polri tak lagi ingin hanya hadir saat konflik, tapi juga sebagai penjaga ruang dialog dan literasi digital masyarakat.
JAN menilai bahwa kemajuan ini adalah hasil dari kombinasi antara reformasi struktural dan dorongan masyarakat sipil yang kritis namun konstruktif. “Polri bukan tanpa kekurangan, tapi langkah-langkah keberanian untuk berubah harus kita dukung dan kawal bersama,” pungkas Romadhon Jasn.
Berbagai inovasi juga terus didorong oleh institusi. Dari pembentukan satgas lintas bidang, penguatan pengawasan internal, hingga peluncuran platform seperti Policetube sebagai sarana transparansi informasi. Semua itu mencerminkan kesadaran akan pentingnya membangun kepercayaan publik secara terbuka dan akuntabel.
Bagi JAN, Polri di usia ke-79 bukan lagi soal merayakan hari jadi, tetapi momentum untuk memperkuat institusi sipil yang presisi, partisipatif, dan peduli rakyat. “Kami akan terus berdiri bersama Polri dalam menjaga Indonesia yang damai, adil, dan terbuka untuk semua,” tutup Romadhon Jasn.
Selamat Hari Bhayangkara ke-79. Untuk Polri yang semakin humanis, dan rakyat yang semakin percaya.





