Jakarta, 15 September 2026 – Dinamika politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 semakin menghangat. Sejumlah pengamat menilai duet Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjadi salah satu opsi paling realistis untuk menghadapi poros politik yang dikaitkan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai pasangan Prabowo-Pramono memiliki kombinasi yang kuat: Prabowo sebagai petahana dengan mesin politik besar, dan Pramono sebagai figur yang memiliki kedekatan dengan basis massa Jokowi namun tetap berada di jalur pemerintahan.
“Pramono adalah figur yang tidak terputus dari akar politik Jokowi, tetapi juga tidak sepenuhnya berada di bawah kendali poros tersebut. Ini kombinasi yang bisa memecah konsentrasi lawan,” ujar Iwan dalam diskusi publik di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Poros Jokowi yang Semakin Terlihat
Poros politik yang dikaitkan dengan Jokowi kian menunjukkan geliatnya. Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, sebelumnya menyatakan insting politiknya menduga Pemilu 2029 bisa dipercepat. Ia bahkan mengaku telah menyampaikan hal itu langsung kepada Jokowi dalam sebuah pertemuan relawan.
Selain itu, langkah Gibran Rakabuming Raka yang terus memperkuat basis relawan dan mendekatkan diri dengan jaringan Projo menjadi sinyal bahwa poros ini tengah menyiapkan diri. Gibran juga disebut-sebut sebagai kandidat utama yang akan diusung poros tersebut.
Mengapa Pramono?
Pramono Anung bukan nama baru dalam peta politik nasional. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Kabinet di era Jokowi selama dua periode, dan kini memimpin Jakarta sebagai gubernur. Posisinya sebagai gubernur Ibu Kota memberikan panggung yang strategis untuk membangun elektabilitas.
“Pramono punya kedekatan dengan Jokowi, tapi dia juga bagian dari pemerintahan saat ini. Ini posisi yang unik dan bisa dimanfaatkan untuk menarik suara dari kedua sisi,” jelas Iwan.
Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menambahkan bahwa Pramono adalah figur yang minim resistensi. “Dia tidak memiliki konflik terbuka dengan kekuatan politik mana pun. Ini modal penting dalam koalisi besar,” ujarnya.
Duet Prabowo-Pramono vs Poros Jokowi
Jika skenario ini terwujud, Pilpres 2029 berpotensi menjadi pertarungan antara dua kutub besar: poros Prabowo-Pramono di satu sisi, dan poros Jokowi-Gibran di sisi lain. Namun, hingga saat ini, baik Prabowo maupun Pramono belum memberikan pernyataan resmi terkait wacana tersebut.
“Yang jelas, peta politik masih sangat cair. Semua kemungkinan bisa terjadi, termasuk skenario duet Prabowo-Pramono ini,” pungkas Iwan.
















