Oleh: Zulkifli Naesaku (Kader HMI Cabang Kupang)
“Mereka orang-orang cerdas ketika mahasiswa. Kalau HMI minimal LK I, tapi ketika menjadi pejabat mereka korup dan sangat jahat.”
Mulutmu harimaumu, mungkin itulah peribahasa yang tepat menggambarkan nasibmu saat ini yah pak saud? Maklum, yang engkau hadapi saat ini bukanlah sebuah kekuatan yang baru tumbuh melainkan sebuah kekuatan yang telah berakar menghujam kuat di dalam tanah. Sebuah kekuatan yang bisa menyeret anda keluar dari jalur kedudukan anda saat ini. Tidakkah engkau tahu bahwa dahulu, dengan bermodalkan minim kader, mereka dapat memberikan kontribusi menggulingkan kebringasan PKI saat itu? Apalagi saat ini kader-kader mereka tersebar ke seluruh pelosok negri. Sekali mereka mengaung engkau pastinya akan belingsatan.
Ah, tapi saya tidak ingin terlalu mengambil pusing dengan pernyataan anda sebagai sebuah celaan yang serius terhadap HMI. Saya menganggapnya sebagai pemompa jantung kekritisan kader-kader HMI yang seolah kian mati suri.
Saya tersenyum saat branda facebook, dan broadcast bbm penuh dengan pernyataan kader-kader HMI yang mengecam sikapmu. Bagi saya ini adalah momentum penyadaran diri kader HMI dalam melihat realitas social, politik, dan ekonomi bangsa hari ini.
Menurut saya kalaupun Ayahanda kami, kakanda Lafran Pane masih hidup, beliau tidak akan menyerang pernyataan anda. Malah kamilah yang pastinya dimarahi oleh beliau. Beliau pastinya akan menganggap positif pernyataan anda, karena beliau bukanlah orang yang fanatic simbolik. Dia akan melihat sisi kebaikan yang terkandung dalam pernyataan anda sebagai bahan intropeksi bagi organisasi yang Ia dirikan.
Eits, tapa anda jangan senang dulu pak komisaris! Walaupun demikian, sebagai seorang pejabat Negara tidaklah pantas pernyataan yang sifatnya men-generalisasi-kan suatu perkara. Apalagi bapak sebagi seorang yang kerjanya mengusut perkara demi tegaknya keadilan.
Tahu tidak wahai pak komisaris yang terhormat, bahwa di dalam ilmu logika ada satu istilah yang disebut Fallacy Of Dramatic Instance? Itu adalah penggunaan satu-dua kasus untuk mendukung argument yang bersifat general atau umum. Argument yang overgeneralized ini biasanya agak sulit dipatahkan. Karena satu-dua kasus rujukan itu seringkali diambil dari pengalaman atau kejadian pribadi atau beberapa orang saja (individual’s personal experience). Namun bukan berarti tidak bisa dipatahkan argument-argument seperti ini.
Sebagaimana pernyataan anda yang men-general-kan kader-kader HMI sebagai para koruptor ketika menjabat di kancah public, tahukah anda bahwa walaupun yang anda saksikan atau temukan adalah 99 orang dari 100 kader HMI tersandung kasus korupsi bukan berarti anda bisa seenaknya men-general-kan kader-kader HMI sebagai pelaku-pelaku tindak korupsi. Apalagi fakta membuktikan tidak semua kader-kader HMI tersandung kasus korupsi, maka jelas pernyataan anda adalah sebuah kesalahan.
Sebagai pejabat public apalagi sebagai pihak yang mengambil porsi dalam memberantas tindak korupsi, kesalahan berfikir dalam menyimpulkan sebuah perkara atau data-data adalah sebuah keniscayaan yang harus dihindari sebagai bentuk objektifitas dalam mengambil sebuah keputusan!
Sebuah kesalahan besar ketika orang tuanya Anton yang melakukan korupsi lalu anton juga anda tuduh sebagai koruptor dan kemudian memenjarakan Anton bersama orang tuanya. Semoga ini menjadi bahan pembelajaran bagi anda, agar kedepannya ketika mengambil sebuah keputusan dalam menetapkan pelaku korupsi, jangan ada proses generalisasi lagi seperti anda men-generalisasi-kan kader-kader HMI sebagai para koruptor.
Ah, cukuplah itu sedikit ocehan dari saya. Kuangkat cangkir kopi ini sebagai tanda terimahkasih karena telah membangunkan macan yang sudah lama tertidur dan dengarlah aungannya serta bersiaplah ketika ia marah! Lalu ku letakan kembali cangkir kopi ini sebagai tanda kurang simpatiku terhadap kesalahan berpikirmu itu.

