Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Jangan Ajarkan Kami Bertoleransi

by Aulia Rachman Siregar
November 8, 2016
in Opini
Reading Time: 2min read
Jangan Ajarkan Kami Bertoleransi
0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Prof Jimly A Shidiqie

BIARKAN SEJARAH BICARA

Suatu Masa, Ketika Islam Menjadi Adidaya

Penyerahan kunci *Istana Al-Hambra oleh Sultan Muhammad As-Shaghir kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella* pada 2 January 1492 M menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol. Itu artinya, secara politik Islam sama sekali tidak memiliki hak terhadap Spanyol.

Namun berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol tidak serta merta mengakhiri kisah kaum muslimin di negeri itu, penyerahan kekuasaan justru merupakan awal dari sejarah kelam kaum muslimin di sana. *Piagam Granada yang menjanjikan kebebasan beragama bagi kaum muslimin* rupanya tidak berumur panjang.

Pada tahun 1502 umat Islam diberi dua opsi, mameluk Kristen atau pergi meninggalkan bumi Spanyol. Artinya, menetap di Spanyol dengan tetap memeluk agama Islam sama artinya dengan bunuh diri.

Banyak kaum muslimin yang memilih meninggalkan Spanyol, namun tidak sedikit yang memilih pindah agama secara dzohir, namun tetap beribadah secara Islami dengan sembunyi-sembunyi. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai *kaum Moriscos.*

Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan kaum Moriscos dianggap sebagai sebuah ancaman. Sehingga antara tahun 1508-1567 keluar sejumlah peraturan yang melarang segala hal yang bernuansa Islam, baik pakaian maupun nama. Penggunaan bahasa Arab juga dilarang. Anak-anak kaum muslimin dipaksa untuk menerima pendidikan dari para pendeta Kristen.

Puncaknya pada tahun 1609-1614 sebanyak 300.000 Moriscos diusir dari Spanyol oleh Raja Philip III. Benar-benar sebuah kenyataan sejarah yang pahit dan menyedihkan.

Dari Spanyol mari kita pindah ke belahan bumi yang lain, tepatnya ke Turky tempat dimana kekhalifahan Ottoman berpusat. Setelah mendengar penyiksaan yang dilakukan penguasa Spanyol terhadap kaum muslimin, Sultan Salim I marah besar, dia mengeluarkan Dekrit yang berisi perintah kepada seluruh penganut Yahudi dan Nasrani yang berada di bawah kekuasaannya untuk memilih satu dari dua opsi, tinggal menetap dengan catatan memeluk agama Islam atau pergi meninggalkan Tanah Kekhalifahan. Mendengar Dekrit tersebut, *Syaikh Ali Afandi At-Tirnabily selaku Mufti Ottoman* saat itu menyampaikan penolakannya terhadap Dekrit Sultan.

Mufti menjelaskan bahwa Dekrit tersebut tidak boleh dilaksanakan sekalipun kaum muslimin disembelih di negeri-negeri Salib. *Mufti juga menjelaskan bahwa selamanya tidak ada paksaan dalam beragama.*

Akhirnya Sultan Salim menarik keputusannya dan membiarkan penganut Yahudi dan Nashrani tinggal dengan aman dan damai di bawah pemerintahannya. Iya, mereka semua tinggal dengan aman dan damai, disaat pemerintah Spanyol menyembelih ratusan ribu kaum muslimin di negaranya.

Betapa agungnya Islam Dan Betapa agungnya peradaban Islam.

Sikap Sultan Salim yang tunduk pada rambu-rambu keislaman sudah cukup sebagai jawaban bahwa Islam bukan teroris, namun sebagai rahmatan lil ‘aalamin. Dimana bila Islam berkuasa, dia akan menjadi pengayom bagi semua.

Andai Islam intoleran seperti yang mereka tuduhkan, tentu tidak akan satu Yahudi atau satu Kristenpun yang tersisa di tanah Andalus, Turky, Mesir, Lebanon, Jordan dan sejumlah negara lainnya saat Islam berkuasa di sana.

Inilah sejarah kami…

*JADI TIDAK USAH MENGAJARI KAMI TENTANG TOLERANSI*

Sumber bacaan:

1. Tarikh Al-Muslimbiin Fi Al-Andalus. DR. Muhammad Suhail Thaqus. Penerbit: Daar A-Nafais_

2. Udzama’ Al Mi’ah. Jihad At-Turbany. Penerbit: Daar At-Taqwa

_________

Madinah 02-09-1436 H

 

Tags: jangan ajarkankami toleransiprof Jymli
Previous Post

Laba Pertamina naik meski harga minyak turun

Next Post

HMI Korkom Unesa Siap Kerahkan Massa Ke Jakarta

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Harga LPG Nonsubsidi 12 Kilogram Naik Rp16 Ribu per Tabung

MPR Puji Langkah Presiden Prabowo Prioritaskan MBG untuk Anak yang Membutuhkan

Ini Bukti Kapal Pertamina Lintasi Selat Hormuz

TNI Akan Bangun Batalyon Pembangunan di Seluruh Kabupaten

PDIP Kritik Pemerintah Soal Kenaikkan Harga BBM Non Subsidi

BNI Akan Kembalikan Dana Hilang Rp28 M Gereja Aek Nabara

TERPOPULER

Harga LPG Nonsubsidi 12 Kilogram Naik Rp16 Ribu per Tabung

MPR Puji Langkah Presiden Prabowo Prioritaskan MBG untuk Anak yang Membutuhkan

Ini Bukti Kapal Pertamina Lintasi Selat Hormuz

TNI Akan Bangun Batalyon Pembangunan di Seluruh Kabupaten

PDIP Kritik Pemerintah Soal Kenaikkan Harga BBM Non Subsidi

BNI Akan Kembalikan Dana Hilang Rp28 M Gereja Aek Nabara

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved