OLEH : VINILIKA YULIA ROSITA
Di era globalisasi saat ini pendidikan memiliki arti yang sangat penting bagi sebuah bangsa. Karena kualitas pendidikan yang menjadikan menjadi tolak ukur sebuah Negara bisa dikatakan maju atau berkembang. Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim dan terbesar di dunia, pendidikan kita sejak dulu memang tidak terlepas dari kandungan nilai-nilai islam yang terdapat di setiap kurikulum pedoman pendidikan.
Berbicara tentang konsep manajemen pendidikan Islam apabila hanya berkutat pada persoalan fundasional filosofis akan menjadi sangat idealis, karena kegiatan pendidikan sangat peduli terhadap persoalan-persoalan operasional, sehingga konsep pendidikan islam terlihat hanya kaya konsep tetapi miskin dimensi praktisnya ataupun kebalikannya kaya praktik tetapi lepas dari konsep fundasionalnya. Untuk mencari titik temu dari persoalan tersebut munculah gagasan Pendidikan Islam Terpadu, sebuah model pendidikan yang didesain dengan segala keterpaduan dari berbagai sisi dan aspek pendidikan yang meliputi visi, misi, kurikulum,pendidik, suasana pembelajaran dan lain sebagainya.
Konsep manajemen pendidikan terutama pendidikan islam akhir-akhir ini kalau kita perhatikan ada sebuah fenomena perubahan yang menarik dalam hal ini terkait dengan tren pendidikan islam di Indonesia. Dominasi lembaga pendidikan yang terdiri dari Pesantren, Madrasah, dan Sekolah yang dulu menjadi basic pendidikan di Indonesia mulai bergeser. Hal ini ditengarai oleh fenomena munculnya Sekolah Islam Terpadu di negeri ini. Pada masa sebelumnya, model lembaga pendidikan di Indonesia hanya mengenal tiga model lembaga pendidikan yakni pondok pesantren serta madrasah, dan sekolah (umum). Sekolah (umum) merupakan lembaga pendidikan di Indonesia warisan penjajah Belanda yang mengajarkan ilmu-ilmu umum yaitu ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora. Sedangkan, Pesantren dan madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional dengan ciri khas di dalamnya terdapat masjid, kyai,santri, dan pengajaran kitab kuning.
Konsep Sekolah Islam Terpadu merupakan sebuah konsep pendidikan yang banyak dilirik dan dikembangkan oleh pemikir dan pejuang islam saat ini. Akhir-akhir saya banyak memperhatikan berbagai SIT yang mulai berdiri dibeberapa daerah perkotaan, dan didaerah pedesaan. Berbeda dengan Sekolah Dasar Negeri milik pemerintah yang ditiap desa berdiri beberapa buah, SIT dalam sebuah tingkat kecamatan terkadang hanya ada satu buah, bahkan terkadang tidak ada bila sebuah kecamatan tersebut berada dipelosok pedesaan.
SIT begitu ketat dalam menerapkan kaidah dan ilmu agama, sebagai contoh siswa diwajibkan membaca dan menghafal doa sederhana, hadist, praktek shalat langsung dan pakaian yang mencerminkan sebagai seorang muslim yang baik, berbeda dengan penerapan ilmu agama dalam SDN yang hanya bersifat formalitas, mengacu pada nilai namun tidak dalam penerapan yang nyata.
Format Sekolah Islam haruslah memperhatikan konsekuensi logis dari perkembangan era global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan dan peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat serta harapan tentang masyarakat dunia masa depan. “Komisi Internasional Untuk Pendidikan Abad Dua Puluh Satu” dalam laporannya ke UNESCO, mengajukan rumusan tentang empat pilar pendidikan yaitu:
- Learning to live together: belajar untuk memahami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya.
- Learning to know: penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya learning to how.
- Learning to do: belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerjasama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi.
- Learning to be: belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.
Sekolah Islam yang ideal adalah sekolah yang melibatkan peran serta guru, orangtua dan masyarakat sesuai dengan proporsinya. Artinya, sekolah yang merupakan lembaga melairkan generasi yang berkualitas menjadi tanggung jawab bersama antara negara, sekolah, orangtua dan masyarakat. Pengelolaan sekolah yang efektif mestinya melibatkan peran serta keempat pihak tersebut, sesuai dengan peran dan fungsinya. Negara, dalam hal ini pemerintah, memberi dukungan, kemudahan dan perlindungan bagi terselenggaranya sekolah, Orangtua dapat memberi masukan, membantu memperkaya proses belajar, menjadi nara-sumber dan fasilitator dalam berbagai kegiatan sekolah. Masyarakat dapat membantu menyediakan sumber dan fasilitas belajar tambahan yang ada di luar sekolah. ekolah Islam yang ideal adalah sekolah yang melibatkan peran serta guru, orangtua dan masyarakat sesuai dengan proporsinya. Artinya, sekolah yang merupakan lembaga melairkan generasi yang berkualitas menjadi tanggung jawab bersama antara negara, sekolah, orangtua dan masyarakat. Pengelolaan sekolah yang efektif mestinya melibatkan peran serta keempat pihak tersebut, sesuai dengan peran dan fungsinya. Negara, dalam hal ini pemerintah, memberi dukungan, kemudahan dan perlindungan bagi terselenggaranya sekolah, Orangtua dapat memberi masukan, membantu memperkaya proses belajar, menjadi nara-sumber dan fasilitator dalam berbagai kegiatan sekolah. Masyarakat dapat membantu menyediakan sumber dan fasilitas belajar tambahan yang ada di luar sekolah.
Dari semua kelebihan sekolah islam terpadu juga terdapat beberapa kelemahan dari sekolah islam terpadu. Kesan sekolah islam terpadu hanya untuk kalangan menengah keatas menjadi sebuah rahasia umum dikalangan masyarakat. Berikut ini yang membuat biaya sekolah islam terpadu menjadi mahal antara lain karena faktor :
Pertama, biaya makan. Sekolah yang menyediakan makan sekolah, maka biaya makan siang ini jadi beban orang tua. Ada beberapa sekolah yang tidak menyediakan makan siangnya, tapi meminta siswanya membawa bekal dari rumah. Yang nantinya sekolah mewajibkan semua siswanya harus makan dari sekolah. Bila sekali makan Rp 10.000,- maka sebulan sudah dihitung Rp 200.000, Ini dengan catatan sekolah cuma 20 hari. (Biasanya Sabtu libur).
Kedua, ‘full day school’ menyebabkan guru-gurunya harus penuh mengajar di sekolah ini. Padahal biasanya dengan jam sekolah hanya setengah hari, guru-guru masih bisa mengajar di sekolah lain. Istilahnya ‘double job’. Karena para guru ini tidak bisa ‘double job’ atau full bekerja di sekolah ini, maka relatif gaji yang diberikan sekolah lebih banyak daripada sekolah yang setengah hari.
Ketiga, ini masih kaitannya dengan nomor 2 di atas. Pengalaman sekolah islam terpadu, setiap kelas disediakan 2 guru. Ini terjadi dari kelas 1 sampai kelas 4. Kelas 5 dan 6, baru menggunakan konsep guru pelajaran. Tentunya dengan tambahnya guru di kelas akan mengakibatkan biaya pada sekolah.
Keempat, fasilitas sekolah yang baik dan mewah. Biasanya untuk sekolah seperti ini fasilitas fisik dan non fisiknya bagus. Bangunan sekolah megah dan bertingkat. Perpustakaan luas, nyaman dan lengkap. Laboratorium komputer lengkap dengan komputer terbaru serta koneksi internet kencang. Bahkan ada wifi spot yang gratis. Kelas berAC dan proyektor yang tersedia tiap kelas. Kebersihan kamar mandi dan kelas terjaga, karena sudah ada petugas kebersihan sendiri. Bahkan untuk sekolah anak saya, petugas kebersihan ini di-outsource ke perusahaan lain.
Dengan keempat alasan di atas, bukan hal yang mustahil apabila iuran SPP di sekolah islam terpadu menjadi mahal dan sulit terjangkau untuk masyarakat golongan menengah kebawah. Padahal esensi pendidikan baik di dunia internasional dan di Indonesia sendiri pendidikan harus dinikmati semua golongan dan kalangan masyarakat tanpa terkecuali.
Kehadiran Sekolah Islam Terpadu telah memberi warna baru terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Gagasan Sekolah Islam Terpadu yang mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu umum merupakan sintesa atas kejumudan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan modernitas selama ini. Diharapkan kedepannya sekolah islam terpadu dapat dinikmati dan dijangkau oleh semua kalangan sehingga reislamisasi yang diharapkan dapat terwujud secara nyata. Dan setelah sekian lama mengalami kemunduran, pendidikan konsep islam terpadu diharapkan menjadi daya dorong kemajuan peradaban Islam di Indonesia di masa yang akan datang.
* Alumni S1 PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
* Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo


