Oleh : Gozaly Wulakada
Jika ditanya, organisasi sosial Islam yang paling moderat di Indonesia itu apa, maka kebanyakan orang menjawab “Nahdlatul Ulama (NU)”. Radikal itu antonim dari moderat, artinya NU itu ormas Islam yang anti-radikal.
Tiba-tiba saya ingin menghantam persepsi itu dengan mengatakan secara terbuka bahwa NU radikal dan sebagian dari jemaatnya berstatus radikalis. Saya termasuk dalam golongan penganut sosial statis, yang percaya bahwa karakter dari suatu kelompok sosial tertentu tidak berlaku abadi.
Pada suatu masa tertentu akan mengalami degradasi atau penurunan nilai. Jangankan NU, karakter muslimin yang dibentuk oleh Nabi Muhammad saja pada akhirnya menjadi mahjubul lil Islam, apalagi dengan NU. Jadi kalau NU menjadi radikal itu wajar-wajar saja, biasa-biasa saja, ojo nggumun.
Semua kekacauan yang diakibatkan oleh perilaku orang berlabelkan Islam, selalu terpenetrasi oleh yang namanya NU. Karena NU memiliki sikap setia terhadap apapun yang direncanakan pemerintah, kendati dalam beberapa hal tidak memiliki dasar yang benar.
Sejak orde baru hingga saat ini, NU selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pemerintah. Jadi saya perkirakan, pemerintah akan sulit mengatakan radikalisme kepada NU, sekalipun ada sejumlah jamaah NU melakukan tindakan yang radikal.
Dua tahun terakhir banyak kejadian dan peristiwa, dimana warga Nahdliyyin melakukan penyerangan kepada kelompok Islam yang berseberangan dengan NU. Di sisi lain, ada juga sekelompok ormas non NU melakukan penyerangan kepada warga Syi’ah dan Ahmadiyah.
Mereka yang menyerang Ahmadiyah dan Syi’ah disebut sebagai radikalis sedangkan NU yang menyerang muslim lainnya tidak disebut radikal.
Lihat saja, bagaimana warga NU melakukan penyerangan terhadap kegiatan keagaman di MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an), Hizbutahrir Indonesia (HTI) dan sejumlah pengajian Islam kelompok salafi.
Sepertinya NU ini satu-satunya ormas Islam yang memiliki negara Indonesia, hanya NU saja yang meneteskan darah demi kemerdekaan Indonesia, atau NU saja yang memiliki sejarah terhadap Islam di Indonesia. Tetapi bukan karena itu, saya fikir karena NU sebagai anak tiri dari kekuasaan yang tengah berlangsung.
Tradisionalisme NU itu satu sisi bisa menjembatani pencapaian moderatisme, tetapi di sisi lain bisa menjadi radikalisme. Tradisionalisme NU itu bisa dimanfaatkan oleh tokoh struktur dan politik NU yang mengalami deesksitensi.
Bahkan ketika kiyai NU diam saja terhadap kenakalan warganya ke sesama muslim, maka bisa jadi kiyai itu juga sedang meradang akibat kehilangan peran keagamaannya di masyarakat. Kalau saya melihat dari pendekatan metode fenomenalogi, maka tradisionalisme NU itu berpotensi menjadi radikalisme yang dimanfaatkan oleh negara (pemerintah).
Sisi fenomenalnya seputar taklid, bid’ah dan khurafat. TBK itu dosa besar bagi sejumlah ormas non NU. Kelompok tradisional itu identik dengan pikiran pendek, selalu menyimpulkan kebenaran dari melihat fenomena. Kelompok yang tradisional tidak pernah mau melakukan atau memberikan sikap identis hingga transendential terhadap obyek.
Misalnya begini, ketika melihat air di kolam renang itu tampak berwarna biru. Tetapi ketika diambil satu gelas air dari kolam renang dengan menggunakan gelas kaca bening maka air itu tampak bening, atau tidak lagi berwarna biru. Maka sebenarnya warna biru itu merupakan fenomena.
Kalangan masyarakat radikalis hanya melihat sesuatu lantaran fenomenalitas bukan transendensial. Jadi fenomena TBK itu hingga kini menjadi peluruh penghancuran komitmen kebhinekaan Indonesia, tetapi tidak pernah ada upaya elit keagamaan untuk menjembatani proses identitis terhadap fenomena itu.
Lama-lama negeri ini kembali ke struktur sosial di zaman Belanda. Untuk melangsungkan dan melancarkan kepentingan politik dagangnya maka dia harus mengadu-domba unsur-unsur di masyarakat.
Nah’ni NU sedang dijadikan anak tiri, semua ajaran NU digeneralisasi sebagai ajaran inti Islam Indonesia melalui gagasan Islam Nusantara. Karenanya semua ajaran Islam yang berbeda haluan dengan NU akan dianggap bukan Islam Indonesia, alias Islam import dari Timur Tengah.
Gejala ini lambat laun menjadi ledakan besar persatuan dan kesatuan Indonesia. Kita mengampanyekan kebhinekaan, tetapi di saat yang bersamaan kita mencincang-cincang kebhinekaan itu sendiri.
Pemerintah ini sudah serupa penjajah. Kalau dia bukan penjajah maka rakyat miskin dan pengangguran berkurang, hak ekonomi dan layanan publik terbagi rata, hutang negara semakin berkurang. Lah ini malah terbalik, pengangguran meningkat, kemiskinan bertambah, ketidak-adilan menguat dan hutangnya kian berjubel.
Artinya, pemerintah kita ini penjajah atau tepatnya sebagai tangan panjang para penjajah. Para penjajah itu adalah nafsu ketakutan dan ketidak-beraniannya sendiri. Ironisnya, NU jusru menikmati keadaan ini untuk menguatkam eksistensinya yang kian nisbi itu.
Jika yang dilakukan terus begini dan/atau dibiarkan maka saya fikir sebentar lagi kita akan melihat kerusakan sosial yang kian menjadi-jadi. Hantaman horizontal akan seringkali terjadi di antara umat Islam, karena elit agama Islam saling menjadikan agama sebagai rumah eksistensi diri dan keluarga.
Kiyai NU harusnya turun gurung menjalin silaturahim dengan non NU sembari mengkonsolidasikan silaturahim antar warganya dengan jamaah muslimin yang lain. Bukan menunggu ada keberuntungan dari perseteruan yang tengah terjadi. Kiyai yang membiarkan seperti ini, bagi saya, dialah radikalis terselubung.



