Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

ISRAEL – NABI DAUD DAN KHILAFAH

by Aulia Rachman Siregar
Agustus 10, 2017
in Artikel
Reading Time: 6min read
ISRAEL – NABI DAUD DAN KHILAFAH
0
SHARES
137
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Gozaly Wulakada

Barangkali di antara kalian menyinyiri saya, dikarenakan berulangkali tulisan saya terus mengulas tentang khilafah. Setiap momentum kebangsaan selalu saja ada benang merahnya dengan khilafah, karena memang demikian lah khilafah, yang merupakan satu konsep dan gagasan kebangsaan universal bagi umat manusia.

Hanya orang-orang yang kehilangan aqidah lah yang menafikan semangat kekhilafahan dalam kejama’ahannya sebagai umat manusia. Ada kalanya kita sadar diri sebagai pribadi yang khalif; namun ada kalanya kita juga harus sadar diri sebagai pribadi yang khilaf. Khilaf dan khalif itu kesatuan sistem hidup yang melingkari manusia, merupakan keniscayaan universal tanpa terkecuali bagi umat yang beragama Islam.

Catatan pemikiran ini barangkali dipandang aneh oleh sebagian penteori dan pengkaji Islam, tetapi fakta penciptaan ini tidak lah bisa dihindari:

(a) Allah menciptakan alam semesta terdiri dari 6 tahap, lalu tahap ke–7 nya adalah Arsya. Sebagian ulama menyimbolisasikan arsya sebagai singgasana, padahal sesungguhnya arsya itu adalah zat yang bernama air. Maka air lah yang menjadi esensi dari alam jagat semesta (jawahirul kawni).

(b) Allah menciptakan manusia terdiri dari 6 tahap, lalu tahap ke–7 adalah ruh (Allah memberikan ruh setelah terbentuk unsur jasmani). Maka ruh lah yang menjadi esensi manusia (qalbu insan).

(c) Allah menciptakan peradaban (pergumulan manusia pada alam dan manusia) terdiri dari 6 tahap, lalu tahap ke-7 adalah khilafah. Maka khilafah lah yang menjadi esensi peradaban manusia (jawahir hadrah).

Proses dan mekanisme penciptaan manusia dan alam teruji dengan valid dalam ilmu pengetahuan sebagaimana pula terlebih dahulu sudah difirmankan oleh Allah dalam Al Qur’an (QS. Al-Mu’minun: 12-14). Proses dan mekanisme penciptaan alam semesta sudah difirmankan oleh Allah dalam Al Qur’an (QS. As-Sajdah: 4).

Sementara itu proses mekanisme hubungan alam dan manusia tidak terdikte secara nyata dalam firman. Tiga ayat dalam Al-Qur’an tentang khilafah (Al-Baqarah: 20, Sad: 26, An-Nur: 55).

Pendekatan tafsir terhadap ketiga ayat ini berujung pada apa dan bagaimana khilafah itu. Terdapat beberapa unsur penting dalam khilafah pada ketiga ayat tersebut:

(a) bumi di mana terdiri dari manusia dan alam, (b) Kerusakan dan perilaku yang merusak, (c) Hukum keteraturan, (d) Penjagaan terhadap bumi – agar tidak rusak – dengan cara menegakan hukum keteraturan – melalui kekuasaan.

Pendekatan model ini menjadi kerangka fikir bahwa kehidupan di bumi akan baik atau tidak rusak hanya jika diberlakukan hukum Tuhan melalui kekuasaan. Jika ada orang yang meragukan konsep khilafah dengan mengatakan bahwa tidak pernah ada sejarah yang membuktikan keberadaan khilafah, maka orang itu bohong dan/atau tidak mengerti.

Lihat lah bagaimana Allah memfirmankan dengan jelas kekhilafahan pada Daud As. (dalam Shad: 26). Saran saya fokus pengkajian khilafah itu tidak hanya terhenti pada konsep madaniah yang dibangun oleh nabi Muhammad, tetapi terus ke belakang melihat kenyataan sosial dan kenegaraan yang terbangun di masa kenabian Daud As. Mengapa harus Daud As? Karena satu-satunya Nabi yang diabadikan kekhilafahannya oleh Allah adalah Daud As.

Nabi Daud As (bahasa Arab: داوود atau داود Dāwūd) (sekitar 1041-971 SM) adalah nabi dan rasul Allah yang diberi kitab Zabur. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1010 SM.
Genealogi: Daud bin Aisya (Eeshia) bin Awid dari keturunan Yahuda bin Ya’qub. Ia merupakan keturunan ke-13 dari Ibrahim As. melalui Ishaq As. Daud As. juga disebut oleh kaumnya dengan sebutan raja, karena sepanjang hidupnya Daud As. adalah sang raja yang merupakan ahli perang, adil dalam menegakan hukum serta menjamin hak-hak kepublikan rakyatnya. Hampir semua ayat tentang Daud As. dalam Al Qur’an mengulas masalah perang perlawanan terhadap penguasa-penguasa dzalim, penegakan hukum berkeadilan dan perilaku kekuasaan yang bermartabat.

Sebenarnya ajaran kekhilafahan itu merupakan warisan samawi yang bermula dari ummat yahudi, selanjutnya dilanjutkan dalam khazanah kepublikan Islam. Demikian pula ajaran-ajaran hukum yahudi lainnya yang banyak dilanjutkan oleh hukum Islam. Sudah menjadi tabiat yahudi sejak dari dulu di mana mereka lah yang mendesain semua perlawanan dan atau pembangkangan terhadap hukum Allah. Mereka mengkampanyekan fitnah pada dunia tentang kejelekan hukum Allah serta kebaikan fikiran mereka sendiri.

Bagaimana kah Nabi Muhammad melanjutkan konsep kekhilafahan di masanya? Kebanyakan liberalis membantah konsep khilafah karena Nabi Muhammad tidak pernah memberikan contoh kekhilafahan baik dalam pernyataan atau dokumentarial.

Nabi Muhammad juga tidak pernah dikenal atau digelar sebagai seorang khilafah kepemimpinannya di Madinah hingga fathul Mekkah. Gelar khilafah justru diberikan pada kepemimpinan para sahabat pasca Nabi Muhammad yang hidup di negeri arab dan menata masyarakat arab.

Dengan demikian para liberalis bertahan pada argumentasi bahwa khilafah merupakan bentuk kekuasaan masyarakat arab bukan masyarakat Indonesia dan atau di luar arab. Belakangan baru kita tahu bahwa saudi arabia dan sejumlah negara timur tengah berlaku sistem kerajaan dan juga demokrasi, alias bukan khilafah. Lalu kita bertanya-tanya tentang bagaimana Nabi memberikan ushwa kekhilafahan dalam Islam sebagai penerus dan penyempurna ajaran kekuasaan Nabi Daud As.

Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa khilafah adalah inti dari peradaban. Setiap yang inti itu berbentuk abstrak tidak terkasat tetapi terlahir sebagai energi yang merasuk pada semua unsur dan perilaku. Karenanya tidak akan bisa didapat statemen wajib ber-khilafah dan dokumen mewajibkan ber-khilafah dari Nabi Muhammad.

Sama halnya dengan anda tidak akan menemukan ruh dalam jazad manusia dan menemukan titik air yang terpisah dari setiap bentuk benda dan organisme. Nabi Muhammad menjalani dengan sangat benar sistematika dan metodologi pembentukan peradaban manusia sesungguhnya yang di kemudian hari menjadi inspirasi bagi banyak manusia di dalam mengurus negara dan masyarakat. Nabi Muhammad melewati 6 tahap membangun peradaban manusia dan yang ke – 7 adalah khilafah. Jumlah ini sebagaimana fase penciptaan alam dan manusia:

(1) Fase Iqra: Iqra sebagaimana diterjemahkan “membaca” itu sesungguhnya bermakna “mindset” atau cara pandang. Mindset adalah pola pikir yang mempengaruhi pola kerja. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh pola pikirnya. Seseorang melakukan sesuatu karena didorong dan digerakkan oleh pola pikirnya. Jadi, kalau kita mau merubah perilaku seseorang maka pola pikirnya dulu yang harus dirubah.

Pola pikir berubah, perilaku pasti berubah. Pola pikir yang dibangun dan dibentuk oleh Allah atas Nabi Muhammad dan ummatnya Nabi Muhammad adalah pola pikir khalaqiyah (penciptaan); iqra bi ismi rabbika alladzi khalaq. Pola pikir yang didasarkan pada kesadaran dan keyakinan bahwa Allah lah segala dan seutuhnya. Mindset itu dibangun bukan dibentuk, sejatinya potensinya sudah ada dalam setiap manusia lalu dibangun dengan pola dan pendekatan ilahiyah.

Elemen pembentuknya adalah keluarga, sekolah dan lingkungan sosial yang memberikan pembelajaran tentang Allah sebagai pencipta, penjaga dan pemelihara. Itulah sebabnya dalam setiap ayat tentang penciptaan diakhiri oleh Allah dengan statemen yang mengingatkan manusia berupa tafakkaru wa tadabbaru.

(2) Fase Syiir: syiir artinya sembunyi-sembunyi atau pendekatan inter personal untuk mentelaahkan kebesaran Allah (yatlu alaihim ayati), mensucikan dan meluruskan niat (wayuzakkihim), mengajarkan kitab (yuallimuhul kitab), dan menyampaikan sunnah Nabi (hikmah). Face syiir merupakan face penguatan mindset kepada pribadi-pribadi muslim untuk mengkiblatkan hati, fikiran dan perbuatan semata-mata untuk beribadah kepada Allah.

(3) Fase Dzahir: Dzahir berarti jelas, jelas bukan berarti terang-terangan atau berbicara secara terbuka di hadapan umum atau siapapun. Namun dzahir dalam hal ini bermakna konseptualitas. Pada fase dakwah, Nabi Muhammad menyampaikan kepada publik tentang konsep hidup bersama dalam Islam. Ajaran Islam tentang sosial politik dan ekonomi ditawarkan kepada publik, sembari setiap individu melakukan dan mempraktikannya dalam dukungan keyakinan yang wala’a kepada Allah. Fase dzahir mengkonsolidasikan kesadaran satu orang dengan orang lain dalam bingkai kepentingan yang sama sehingga terlahirlah keselarasan dan keharmonisan.

(4) Fase Hijrah: Hijrah adalah peralihan kapasitas, dari yang lemah menjadi kuat, dari tak berdaya menjadi berdaya guna, dari yang tidak diperhitungan menjadi diperhitungkan, dari yang tidak memiliki kewenangan menjadi memiliki kewenangan. Namun hijrah dalam pengertian ini tidak dinisbatkan kepada personal yang akhirnya menyebabkan kediktatoran atau totaliteranis. Karenanya hijrah di dalam Islam memiliki spektrum sosial bukan individual. Fase hijrah dilakukan melalui gerakan sosial secara besar-besaran karena adanya gelombang kesadaran masal dari masyarakat. Hijrah dalam Islam dinisbatkan pada hukum yang disepakati bersama oleh sekumpulan manusia yang memiliki kesamaan faham dan pandangan serta saling menghargai.

Gerakan kesadaran tersebut terwadahi oleh hukum. Hukum merupakan ruh dari sosial dan lembaga kekuasaan. Sosial tanpa hukum akan melahirkan tirani dan kekuasaan tanpa hukum akan melahirkan kediktatoran.

(5) Fase Qital: Qital adalah perang, merupakan keniscayaan dalam hidup bahwa kebenaran dan kebaikan hukum senantiasa mendapatkan perlawanan dari keburukan dan kebatilan. Pada hakikatnya qital hanya bisa dilakukan atas dasar hukum yang sah oleh negara. Inti dari qital adalah perlawanan, bentuk perlawanan mencakup dua ruang lingkup; perlawanan yang bersifat hukum dan perlawanan yang bersifat jihadiyah.

(6) Fase Fathun: Fathun adalah kemerdekaan atau prestasi kemenangan. Pada fase ini tersimpulkan bahwa negara yang merdeka itu adalah negara yang (1) Setiap orang memiliki kesadaran atas dasar keimanan. Di sinilah terealisasi makna sila pertama Ketuhanan yang maha Esa. (2) Setiap orang bertindak sebagai bagian dari orang lain untuk memberikan kemanfaatan hidup. Inilah makna Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. (3) Pemerintah memiliki asas dan konsep untuk menjalankan pemerintah demi mencapai harapan dan cita-cita ideal hidup rakyatnya. Inilah makna Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemeliharaan konsep tersebut terselenggara melalui penegakan hukum yang adil dan perilaku politik kekuasaan yang bermartabat, (4) Keberanian pemerintah dalam menindak berbagai bentuk kejahatan serta ancaman terhadap negara dan kemanusiaan.

Di dalam Islam, ke-6 fase tersebut tidak bisa berjalan mencapai nilai idealnya apabila tidak dibangun dalam kerangka kekhilafahan (fase ke-7). Inilah posisi khilafah sebagai ruh dari rangka peradaban manusia. Manusia memerlukan kekuasaan untuk mengendalikan tugasnya sebagai khalifah fil ardhi. Pengejawantahan kekhilafahan itu adalah meluruskan niat dan orientasi berkehidupan–bersosial dan bernegara untuk menjaga kehormatan nilai ilahiyah–menjaga alamiah dan mengelola manusia dengan ilmiah.

Ketiga nilai khilafah tersebut dibahasakan berdasarkan pada struktur sejarah dan sosial masing-masing suku dan bangsa. Bagi Indonesia, Pancasila adalah dasar perwujudan nilai-nilai kekhilafahan, di dalam Pancasila telah terurai ketiga prinsip-prinsip kekhilafahan tersebut yang wajib mengayomi semua mindset dan berperilaku masyarakat Indonesia dalam posisinya sebagai warga, anggota sosial, warga negara Indonesia dan masyarakat dunia. Demikian pula pemerintah sebagai pengawal nilai wajib menjaga kewibawaan nilai itu agar menjadi negara yang tayyibatun warabbul ghafur.

Sebentar lagi Indonesia merayakan hari kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus. Kenyataannya kita baru saja berada di pintu gerbang kemerdekaan, selanjutnya dengan ini menyatakan kemerdekaan. Namun sekarang saya ingin mengatakan pula bahwa dengan ini kita telah mengkhianati kemerdekaan itu dengan segala perilaku kita yang sangat tidak berkhilafah di dalam diri, sosial masyarakat dan bernegara. Apakah pada perayaan kali ini kita akan menjadi fathun sebagaimana Nabi menghantarkan Mekkah bagi umat se-dunia. Rasanya sulit bagi Indonesia dengan kondisi yang serba komplikatif seperti ini.

Selamat Ulang Tahun Kemerdekaan -Merdeka.

Previous Post

NTT (SUKU) – VIKTOR dan KHILAFAH

Next Post

RADIKALISME NU

Related Posts

BGN Kaji Efesiensi Anggaran
Artikel

Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

April 23, 2026
Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Artikel

Operasi Besar Polri dan Ricuh Bandung: Mengantisipasi Bola Liar Gerakan Mahasiswa

September 2, 2025
Artikel

BPS jangan bahayakan Ekonomi dengan data yang Unreliable

Agustus 9, 2025
Artikel

KP3 POLRI Dorong Wakapolri Baru Penuhi Kriteria “MAMPU” untuk Transformasi Polri

Juni 16, 2025
AI Turun Tangan, Pengangguran Berhamburan
Artikel

AI Turun Tangan, Pengangguran Berhamburan

Juli 15, 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Sikat Sarang Narkoba! Bareskrim Apresiasi Langkah Tegas Pemprov Jakarta Cabut Izin White Rabbit

Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani

Waspada Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Jangan Tergiur

Alasan Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi & Syifa Hadju

Kalender Ekonomi: Inflasi Meningkat, Pertumbuhan Melambat

Harga Emas Antam dan Buyback Hari Ini Kompak Turun Rp16.000

TERPOPULER

Sikat Sarang Narkoba! Bareskrim Apresiasi Langkah Tegas Pemprov Jakarta Cabut Izin White Rabbit

Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani

Waspada Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Jangan Tergiur

Alasan Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi & Syifa Hadju

Kalender Ekonomi: Inflasi Meningkat, Pertumbuhan Melambat

Harga Emas Antam dan Buyback Hari Ini Kompak Turun Rp16.000

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved