Oleh : Rahmad Nasir, M.Pd (Anggota HMI Kupang)
Minggu lalu, dari Alor saya berkunjung ke Kota Kupang yang berjulukan “Kota Karang” dan “Kota Kasih” sebagai kota yang meyimpan banyak kenangan perjuangan saya sebagai mahasiswa dan aktivis. Saat di Kota Kupang, tak lupa bersilaturahim ke beberapa senior HMI, teman-teman serta mengunjungi Sekretariat HMI Cabang Kupang yang terletak di Oepura persis bersampingan dengan kompleks pekuburan Islam Naikolan. Perjalanan sekretariat HMI memang bepindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Sejak masuk HMI di tahun 2006, sekretariat HMI posisinya berada di kompleks Masjid Raya yang kini menjadi pusat dakwah umat Islam NTT. Beberapa tahun para kader HMI berdialektika di tempat ini. Menurut informasi, sebelumnya sekretariat HMI posisinya terletak di kompleks Muhammadiyah Kupang di Walikota. Dalam perjalanan ber-HMI kami, saat itu saya sudah menempati struktural di HMI Cabang sebagai salah satu staf Ketua HMI dan sedang mengikuti kegiatan dari Kementrian Informatika di Aula LPMP NTT. Saya ditelpon seorang junior bahwa segera mengosongkan barang-barang di Sekretariat karena mau dibongkar/digusur. Sebagai kader HMI, hati begitu sedih demikian juga semua anggota HMI Kupang.
Saat ke sekretariat benar saja apa yang terjadi, sekretariat telah rata dengan tanah dan barang-barang HMI sementara diungsikan ke dalam masjid raya. Kami sempat berbesar hati karena ada isu bahwa akan dibangun ulang sekretariat HMI di tempat tersebut yang lebih megah lagi, akan tetapi harapan itu pupus seiring dengan tak ada tanda-tanda ditunaikan.
Peristiwa itu membuat seluruh komisariat menuntut kepada kami pengurus HMI Cabang Kupang untuk segera mencari sekretariat alternatif yang respresentatif sehingga selama sebulan dipindahkan ke perumahan dosen undana Blok D. 14 Penfui Kupang (area kampus Undana) secara diam-diam yang kebetulan dijaga oleh beberapa pengurus HMI karena penghuninya sedang melanjutkan pendidikan S3 di UGM Jogjakarta.
Kami mencari alternatif lainnya karena tidak kondusif lagi sehingga kami diberi kesempatan oleh salah satu sesepuh HMI Kupang (mantan anggota MPR RI/Ketum HMI Kupang yang ke-2) untuk menempati rumah kecil semacam kios di kampung Air Mata. Sekretariat di Air Mata pun tak bertahan lama sehingga harus berpindah ke Oepura yang letaknya persis di samping pekuburan Islam Naikolan. Ada guyonan jika HMI pindah di dekat area pekuburan, maka ada indikasi HMI akan mati terkubur dalam sejarah pergerakan mahasiswa. Sebenarnya rumah yang dijadikan sekretariat ini juga adalah milik salah satu senior HMI. Sampai dengan 2017 ini sekretariat HMI masih berlokasi di Oepura sambil menunggu rampungnya pembangunan Graha Insan Cita Flobamora (GICF) di Liliba yang sementara ini dalam tahap pembangunan.
Menanti Periode Graha Insan Cita Flobamorata
Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah GICF yang sementara di bangun di Liliba. Lokasi ini dahulunya hanya menjadi program kerja HMI Cabang untuk sekedar membersihkan dari tahun ke tahun. Sebelumnya sebenarnya sudah ada timwork pembangunan sekretariat HMI Kupang namun belum begitu maksimal. Baru kemudian para senior HMI NTT bersatu mengkonsolidasikan semua kekuatannya beserta adik-adik HMI Kupang bergerak bersama sehingga perlahan bangunan idaman itu perlahan menunjukkan batang hidungnya.
Para senior berlomba-lomba berkontribusi sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ada yang berprofesi sebagai pengusaha, politisi, praktisi pendidikan, kesehatan dan sebagainya, semua bahu-membahu memikirkan dan berkontribusi nyata bagi pembangunan bangunan besar yang diberi nama GICF itu.
Bangunan dua lantai itu meski belum rampung betul namun diprediksi akan menjadi sekretariat mahasiswa terbesar se-Nusa Tenggara Timur karena dilengkapi dengan Aula pelatihan/pertemuan, beberapa ruang/kamar serta semacam ruang bawah tanah. Gedung ini secara ukuran mengalahkan Gedung beberapa kantor Partai, Ormas dan LSM pada tingkatan propinsi maupun kabupaten/kota.
Jika anda berkunjung anda akan disuguhi pemandangan indah jika berada di puncak gedung karena hampir dapat melihat keseluruhan kota Kupang, apalagi kunjungannya menjelang magrib maka akan terlihat sunset sore yang indah. Kondisi ini sangat cocok untuk aktivitas organisasi mahasiswa seperti HMI.
Meski belum rampung dan mendapat berbagai kendala, namun komitmen dan semangat para senior HMI dan kader HMI secara umum memberikan indikasi kuat bahwa impian memiliki rumah perjuangan yang respresentatif sebentar lagi akan terwujud.
Target kebutuhan dana sekitar Rp. 2.565.000.000,- untuk rampungnya gedung ini secara perlahan sementara diusahakan. Sumbangan alumni dan anggota HMI mulai dari 50 ribu, 100 ribu hingga puluhan juta serta dalam bentuk barang/bahan bangunan seakan saling menguatkan apalagi ditambah lagi sumbangan jaringan, jenius pikiran/pendapat dan tenaga sehingga semakin membuat panitia dan seluruh kader percaya bahwa impian ini akan segera terwujud.
Pekerjaan masih banyak sehingga harapannya adalah semua anggota HMI dan alumni HMI (KAHMI, HIPKA, FORHATI) dan seluruh civitas hijau hitam harus dan tetap memberikan kontribusinya sesuai kemampuannya sehingga memperlancar tercapainya tujuan bersama kader HMI.
Tentunya ini dapat terwujud dengan baik dikarenakan komunikasi yang baik dan lancar diantara sesama alumni dan anggota HMI. Bagi yang ingin menyumbangkan sebagian rezekinya untuk pembangunan aset umat dan bangsa ini maka dapat melalui Bank BNI Cabang Kupang An. Panitia Pembangunan Graha Insan Cita Flobamorata (GICF) Nomor Rekening : 0461357842.
Saya yakin dari hampir 200-an HMI Cabang se-Indonesia tidak semua memiliki sekretariat yang respresentatif, banyak diantaranya yang masih kontrak dan terlunta-lunta sehingga ini akan menjadi contoh yang baik (role model) bagi komunitas HMI di daerah-daerah yang lain. Terutama dalam kerangka begitu pentingnya persatuan dalam mewujudkan alat perjuangan dan tentunya tujuan perjuangan sebagaimana termaktub dalam pasal 4 Anggarn Dasar HMI.
Inilah HMI Nusa Tenggara Timur yang meskipun berada di daerah minoritas, namun tetap konsisten dalam garis perjuangan. Selain itu, kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan GICF mendapat dukungan dari berbagai kalangan di NTT termasuk pemerintah terutama dalam pengurusan perizinan bangunan, listrik dan sebagainya.
Dukungan dari aktivis non Muslim juga menambah semangat dan saling menghargai antar komunitas di Flobamorata. Hal ini juga membuktikan bahwa toleransi antar umat beragama, suku, dan antar golongan di daerah NTT begitu dijunjung tinggi sehingga bisa juga menjadi contoh yang baik bagi Negara tercinta ini.
Saat ini sudah terpasang meteran listrik dan pengisian pulsa listrik pun dilakukan dengan metode patungan atau bergilir antara satu senior ke senior lain. Kini beberapa ruang juga sudah terpasang keramik sehingga sebentar lagi bisa dipakai oleh pengurus HMI. Oleh karena itu bagi saya ini merupakan buah dari perjuangan bersama, persatuan (ukwah), serta komunikasi yang baik antar civitas hijau hitan Nusa Tenggara Timur.
Pembangunan GICF bukan sekedar untuk kepentingan HMI semata namun lebih dari itu adalah untuk kepentingan bangsa dan umat sebagaimana komitmen awal berdirinya organisasi HMI. Aset bangsa karena dari rumah inilah akan lahir para pemimpin bangsa dan daerah, memperjuangkan kepentingan daerah Flobamora, mengadvokasi kepentingan rakyat kecil terutama dalam kerangka kebenaran dan keadilan. Menjadi aset umat karena banyak pemimpin umat juga lahir dari pendidikan di HMI, mengadvokasi kepentingan umat dalam skala daerah maupun nasional dan internasional.
Semoga niat baik semua yang telah berkontribusi dalam pembangunan GICF ini baik secara materil maupun moril mendapat penghargaan dari Allah SWT. Salam Perjuangan. Yakin Usaha Sampai. Amiiin.



