
Bogor, — Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri kembali menunjukkan ketegasannya dalam upaya pemberantasan terorisme. Seorang terduga teroris berinisial Y ditangkap dalam operasi senyap di Desa Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jumat dini hari. Penangkapan ini kembali membuktikan bahwa jaringan radikal masih bergerak secara laten di sejumlah wilayah.
Operasi yang berlangsung pukul 05.04 WIB itu dilakukan dengan cepat dan minim sorotan, sesuai dengan karakteristik operasi intelijen. Lokasi penangkapan yang berada di kawasan semi-perdesaan menjadi indikasi bahwa strategi persembunyian kelompok teror kini semakin canggih, memanfaatkan celah geografis yang sulit terdeteksi.
Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa Y memiliki peran strategis sebagai fasilitator logistik dan komunikasi internal jaringan. Peran seperti ini kerap luput dari perhatian publik, padahal krusial dalam menjaga keberlanjutan gerak kelompok teror.
Penangkapan ini menunjukkan bahwa kerja aparat tidak boleh berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat luas. Perlu sinergi antara negara dan rakyat dalam membangun pertahanan terhadap paham radikal yang mengancam persatuan, tegas Romadhon Jasn, Ketua Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) dalam rilisnya, Senin (21/7/2025)
Barang bukti yang diamankan meliputi ponsel, dokumen identitas, sepeda motor, dan uang tunai. Temuan tersebut akan digunakan untuk melacak koneksi lebih luas dan mengurai struktur jaringan yang melibatkan Y. Densus 88 masih menelusuri apakah Y berperan dalam aktivitas perekrutan atau pendanaan.
Kasus ini juga menjadi alarm bahwa upaya kontra-radikalisasi harus ditanamkan sejak dini. Tidak cukup hanya dengan penindakan, negara harus aktif membangun narasi damai, moderat, dan mendorong pendidikan anti-ekstremisme di semua lapisan, pungkas Romadhon Jasn.
Kampanye literasi digital dan penyaringan informasi berbasis masyarakat sipil perlu diperkuat. Terutama mengingat banyak propaganda kekerasan menyebar melalui platform media sosial yang sulit diawasi. Negara perlu melibatkan komunitas lokal untuk memutus rantai penyebaran doktrin radikal.
Langkah Densus 88 di Bogor ini patut diapresiasi sebagai bentuk nyata negara hadir melindungi warganya dari ancaman dalam negeri. Operasi ini bukan sekadar penangkapan, tetapi bagian dari strategi jangka panjang menjaga stabilitas nasional, ujar Romadhon Jasn.
Penangkapan ini menambah daftar keberhasilan Polri dalam mengungkap sel-sel teror. Namun di balik itu, pekerjaan besar masih menanti—memastikan bahwa benih radikalisme tidak tumbuh kembali di ruang-ruang yang longgar oleh ketidakadilan sosial, diskriminasi, atau ketimpangan akses informasi.





