
JAKARTA – Langkah sigap Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Edi, dalam memimpin Apel Siaga Kamtibmas bertema “Jaga Jakarta untuk Indonesia” mendapat sambutan positif dari berbagai lapisan masyarakat. Kehadiran 10.000 personel gabungan dan elemen sipil yang disiagakan di Lapangan Presisi Ditlantas dipandang sebagai bukti keseriusan Polri dalam menjaga keamanan selama Ramadan 1447 H.
Pelibatan berbagai unsur, mulai dari organisasi kemasyarakatan, serikat buruh, hingga komunitas ojek online, dinilai sebagai strategi cerdas untuk memperkuat sinergi di lapangan. Dengan pengawasan sejak dini, masyarakat semakin optimistis potensi gangguan keamanan seperti tawuran, kriminalitas jalanan, dan konflik sosial dapat ditekan secara efektif.
Ketua Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) menegaskan bahwa kesiapan aparat di bawah komando Kapolda Metro Jaya merupakan jawaban konkret atas harapan publik. “Kami memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi besar ini. Apel siaga 10.000 personel adalah bentuk tanggung jawab moral Polri agar rakyat bisa beribadah dengan tenang tanpa bayang-bayang gangguan Kamtibmas,” ujar Romadhon Jasn, kepada wartawan, Sabtu (14/2) di Jakarta.
Kapolda Metro Jaya sendiri menekankan bahwa tema “Jaga Jakarta untuk Indonesia” merupakan komitmen menjaga stabilitas ibu kota di tengah meningkatnya aktivitas sosial dan keagamaan. Sinergi lintas unsur ini memastikan penanganan persoalan di lapangan, mulai dari kemacetan jelang buka puasa hingga keamanan lingkungan saat sahur, dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur.
Dukungan juga mengalir dari elemen pelajar, buruh, serta komunitas masyarakat yang turut hadir dalam apel tersebut. Kepastian hukum dan stabilitas keamanan yang dijaga Polda Metro Jaya dinilai turut menjaga kondusivitas hubungan sosial dan ekonomi, sehingga aktivitas warga selama Ramadan dapat berlangsung lebih tertib dan nyaman.
Menurut Romadhon Jasn, soliditas Polri dan masyarakat tidak boleh terganggu oleh opini-opini yang tidak berdasar. “Dukungan publik sangat kuat karena masyarakat melihat tindakan nyata di lapangan. Fokus pengamanan Ramadan ini tidak boleh terganggu oleh narasi negatif yang hanya ingin memperkeruh suasana,” tegasnya.
Partisipasi aktif berbagai komunitas, termasuk relawan, nelayan pesisir, hingga Saka Bhayangkara, menunjukkan bahwa menjaga kesucian Ramadan adalah tanggung jawab bersama. Imbauan Kapolda agar masyarakat bijak menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi menjadi kunci utama dalam menjaga toleransi dan keharmonisan di kota metropolitan.
Sebagai penutup, Romadhon Jasn kembali menyuarakan dukungan penuh terhadap gerakan “Jaga Jakarta untuk Indonesia”. “JAN berdiri bersama Polri untuk mengawal keamanan ibu kota. Keberhasilan menjaga kekhusyukan Ramadan adalah fondasi stabilitas sosial dan demokrasi. Kami yakin Polda Metro Jaya mampu menjalankan amanah ini dengan sangat baik,” pungkasnya.





