VISIONER -Langkah Markas Besar TNI menghidupkan kembali jabatan Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 84 Tahun 2025 menjadi diskursus hangat di awal tahun 2026. Jabatan yang sempat dihapus selama 25 tahun sejak fajar Reformasi ini kini resmi diaktifkan kembali melalui keputusan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto pada Maret 2026. Penunjukan Letjen Bambang Trisnohadi sebagai Kaster TNI pertama di era baru ini menandai babak krusial dalam adaptasi organisasi militer Indonesia.
Di balik langkah strategis ini, riak kritik muncul sebagai bentuk kesehatan demokrasi yang patut disyukuri. Nama-nama seperti Al Araf (Peneliti Senior Imparsial) dan Gufron Mabruri (Direktur Imparsial) secara konsisten mengingatkan agar penguatan fungsi teritorial tidak mencederai supremasi sipil. Sementara itu, Dimas Bagus Arya dari KontraS serta para aktivis di YLBHI dan SETARA Institute menyoroti potensi tumpang tindih kewenangan dengan pemerintah sipil di daerah yang telah tertata sejak 1998.
Kritik-kritik tersebut, jika dipandang dengan kedewasaan bernegara, sejatinya adalah “vitamin” yang menjaga agar institusi TNI tetap berada pada koridor profesionalisme. TNI tidak perlu alergi terhadap masukan tersebut, sebab di sinilah letak checks and balances yang membuat pertahanan kita semakin akuntabel dan dicintai rakyat.
“Masyarakat sipil tidak perlu khawatir secara berlebihan karena reaktivasi ini masih dalam koridor yang sangat terukur dan semata-mata demi kepentingan bangsa. Kritik itu boleh, bahkan perlu sebagai vitamin bagi institusi, tapi tidak boleh terjebak dalam fitnah atau upaya adu domba yang justru memecah belah soliditas internal kita di saat kondisi geopolitik dunia sedang sangat tinggi tensinya,” ujar Romadhon, Minggu (15/3/2026) seorang aktivis Nusantara yang dikenal vokal namun tetap mengedepankan solusi kebangsaan.
Romadhon menekankan bahwa dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, sinergi antara militer dan rakyat adalah aset terbesar. Pengaktifan Kaster TNI melalui landasan hukum yang sah, yakni Perpres 84/2025 merupakan upaya untuk merespons tantangan non-tradisional seperti krisis pangan, bencana alam, hingga ancaman siber secara lebih terstruktur dan masif melalui pemberdayaan wilayah pertahanan.
Menurut Romadhon, transparansi dalam implementasi tugas Kaster adalah kunci untuk membungkam keraguan publik. “Jika TNI mampu menunjukkan bahwa fungsi teritorial ini mempercepat kesejahteraan di pelosok melalui program kemanusiaan, maka rakyatlah yang paling pertama akan tersenyum bangga. Kita harus menjaga agar kritik tetap berbasis data, bukan narasi yang melemahkan moril prajurit yang sedang bekerja tulus di lapangan,” tambahnya.
Secara organisatoris, posisi Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI kini melebur menjadi Wakil Kaster TNI yang dijabat oleh Mayjen Suhardi. Validasi ini menunjukkan efisiensi komando agar fungsi pembinaan teritorial benar-benar memiliki daya dorong yang kuat dari level pusat hingga ke tingkat Babinsa, tanpa harus kehilangan marwah sebagai institusi pertahanan yang humanis dan modern.
Romadhon mengingatkan bahwa menjaga keutuhan bangsa adalah tugas kolektif yang menuntut kebesaran hati. “Di tengah tarikan kepentingan global, kita butuh TNI yang kuat dan rakyat yang percaya sepenuhnya. Mari kita beri ruang bagi struktur baru ini untuk membuktikan janji adaptivitasnya. Selama niatnya adalah pengabdian murni, maka sinergi sipil-militer akan menjadi energi luar biasa yang membuat bangsa ini disegani di kancah internasional,” terangnya.
Pada akhirnya, kehadiran Kaster TNI diharapkan bukan sekadar rotasi jabatan bagi para perwira tinggi, melainkan simbol hadirnya negara di tengah masyarakat melalui tangan-tangan profesional prajurit. Dengan tetap menjunjung tinggi supremasi sipil dan etika demokrasi, langkah ini bisa menjadi tonggak baru menuju Indonesia yang lebih tangguh, adaptif, dan bersatu padu.
Sebagai penutup, Romadhon mengajak publik untuk tetap kritis namun tetap menjaga etika berbangsa. “Kritik itu membangun, fitnah itu meruntuhkan. Mari kita kawal kebijakan ini dengan hati dingin dan kepala tegak. Jika TNI kuat dan rakyat percaya, tidak ada kekuatan luar yang mampu menggoyang stabilitas nasional kita. Inilah saatnya kita bersatu demi merah putih,” pungkasnya






