Skandal korupsi yang menimpa federasi sepak bola dunia FIFA beberpa pekan ini membuat Mundurnya Sepp Blatter sebagai Presiden induk sepakbola dunia tersebut.Padahal ia baru menjabat sebagai orang nomor satu FIFA di periode kelimanya pada Jumat 29 Mei 2015.
Sepp Blatter yang telah menjabat sebagai Presiden FIFA sejak 1998 ini sebenarnya memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) dalam dua putaran. Itu juga lantaran pesaingnya, Prince Ali bin Hussein mengundurkan diri.
“Saya tidak akan berdiri di sini sebagai Presiden lagi. Saya sekarang bebas dari batasan-batasan pemilihan. Saya akan fokus pada reformasi yang lebih mendalam. Selama bertahun-tahun kami telah menyerukan reformasi. Tapi ini tidak cukup,” lanjutnya.
Mundurnya Sepp Blatter akan mencari suksesornya saat FIFA menggelar Kongres Luar Biasa, yang rencananya bakal dihelat akhir tahun ini. “Saya akan mengatur kongres luar biasa untuk pengganti saya sebagai presiden,”kata Blatter seperti dilansir Guardian, Rabu (3/6/2015).
Blatter membenarkan Kongres Luar Biasa oleh Domenico Scala, ketua audit dan komite kepatuan FIFA. Ia menganggap Pilpres tak akan lama untuk digelar, atau paling tidak selambat-lambatnya antara Desember 2015 atau Maret 2016.
“Sementara waktu akhirnya akan sampai ke komite eksekutif, waktu pilpres mungkin terjadi antara Desember dan Maret (2016),” terangnya.
Pengunduran diri Blatter tak lepas dari skandal korupsi yang menjerat tubuh FIFA. Setidaknya ada tujuh pejabat FIFA yang terlibat kejahatan korupsi, pemerasan dan pencucian uang yang berkaitan dengan berbagai program kerja federasi tertinggi sepakbola dunia itu.
Reaksi Akan Mundurnya Sepp Blatter
Mundurnya Sepp Blatter turut mengundang reaksi dari berbagai kalangan di dunia sepakbola, termasuk dua pemain legendaris Prancis dan Brasil, David Ginola dan Romario. Menurut Ginola, skandal korupsi FIFA membuat Blatter tertekan. Ia juga menegaskan kini saatnya FIFA memulai dari awal.
“Orang ini (Blatter) mungkin sedang berada dalam tekanan yang luar biasa, dan akhirnya ia harus menyudahi permainannya. Sekarang saatnya untuk FIFA memulai dari awal, dan hal inilah yang terpenting,” terang mantan pemain Paris Saint-Germain tersebut, mengutip ABC News, Rabu (3/6/2015).
Sedangkan Romario menuturkan kasus korupsi bagaikan gelombang tsunami yang menerjang Blatter. Pemain yang terkenal dengan duetnya bersama Hristo Stoickhov di Barcelona tersebut, juga menegaskan setiap orang yang korupsi harus mendekam di penjara.
“Dia jatuh seiring dengan tsunami yang menerjang setiap pimpinan yang melakukan korupsi di konfederasi. Kami mau setiap pelaku korupsi berada di penjara. Kami menginginkan kontribusi dari sosok idola, pemimpin olahraga yang baik, dan para pencinta sepakbola,” ujar striker legendaris Brasil itu.
( Baca : Empat Kandidat Ramaikan Bursa Presiden FIFA )


