INDONESIA VISIONER, SIDOARJO – Untuk mendapatkan kepastian bagi hasil eksplorasi Minyak dan Gas (Migas) sejumlah aktivis peduli Sidoarjo menggelar Dialog Publik Migas untuk Kesejahteraan Rakyat. Dialog yang diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, organisasi masyarakat, lembaga dan pejabat berkepentingan yang dilaksanakan di Ale Kafe, Pondok Jati, Sidoarjo itu berlangsung dinamis.
Hasilnya dalam dialog yang dihadiri LSM, aktivis mahasiswa, organisasi kepmudaan, Ormas, perwakilan Dinas Koperasi Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM Pemkab Sidoarjo, PD Aneka Usaha, serta perwakilan Lapindo Brantas Inc dan SKK Migas itu juga mencari solusi Migas potensi bawah tanah di Sidoarjo bisa bermanfaat bagi masyarakat Sidoarjo. Selain itu, eksplorasi yang dilaksanakan operator PT. Lapindo Brantas Inc berjalan aman dan lancar serta nilai bagi hasil pendapatan untuk daerah.
“Bagi hasil pendapatan untuk daerah penghasil Migas seperti Sidoarjo, Gresik, Tuban, Bojonegoro itu sudah diatur undang-undang dan departemen keuangan. Semua dilaksanakan secara transparan,” terang Kabid ESDM, Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan ESDM Pemkab Sidoarjo, Agus Darsono, Sabtu (04/06/2016).
Oleh karenanya, pihaknya bakal menghitung sejumlah sumur di Wunut, Kecamatan Porong dan Tanggulangin yang diekplorasi PT. Lapindo Brantas Inc. Kendati hasil prosesntasenya sudah jelas antara pemerintah pusat, propinsi, pemerintah kabupaten dan operator pelaksana ekplorasi.
“Ini agar diketahui jelas manfaatnya bagi warga Sidoarjo,” imbuhnya.
Sementara Vice President Public Relation PT. Lapindo Brantas Inc, Hesty Armiwulan menjelaskan selama ini Sidoarjo memiliki potensi migas besar. Akan tetapi hasilnya tak diekplorasi secara maksimal. Padahal, ekplorasi akan membantu tercapainya pembangunan nasional dan daerah.
“Lapindo Brantas Inc hanya dapat mandat melakukan ekplorasi migas. Harga dan produksi dikelolah negara melalui SKK Migas. Kami hanya operator atau penyewa rumah dapat mandat dari SKK Migas. Sebagai operator kami dapat 15 persen,” tegasnya.
Dalam eksplorasi di Sidoarjo, kata Hesty mengeksplorasi minyak yang bisa disimpan. Akan tetapi, eksplorasi gas yang diutamakan. Potensi gas hanya terbaca tak bisa diangkat tanpa ada buktinya negara belum dapat uang sebelum diekplorasi.
“Kami berproduksi bukan semata-mata mencari keuntungan perusahaan, tapi untuk masyarakat Indonesia. Apalagi, sekarang masyarata tak bergantung minyak tanah tapi ke minyak dan gas (migas). Gas yang diproduksi Lapindo gas yang aman lingkungan dengan metan 96 persen dan tak berbahaya. Karena beratnya lebih ringan dari udara. Kalau ada buble ke udara naik akan hilang ke udara,” ungkapnya.
Disamping itu, kata Hesty, PT. Lapindo Brantas Inc hingga kini mengaku belum akan melakukan aktivitas dan rencana pengeboran sumur pengembangan. Ini sesuai dengan yang disampaikan Gubernur Jawa Timur, Lapindo diminta menyelesaikan permasalahan sosial dan menunggu keputusan dari SKK Migas.
“Kami belum melakukan aktivitas apapun sebelum ada “lampu hijau” dari SKK Migas. Sampai bulan Juni ini, kami belum melakukan aktivitas apapun. Menunggu green light dari SKK Migas,” paparnya.
Sementara mengenai sejumlah protes dari masyarakat, Hesty mewakili PT. Lapindo Brantas Inc berharap masyarakat bisa memposisikan diri secara adil dan tidak terkesan mendiskreditkan Lapindo.
“Yang jelas kami mengapresiasi apa yang disampaikan teman-teman. Tetapi harus dalam konteks duduk bersama dan tidak ada yang saling menyalahkan demi kebaikan bersama mengelolah potensi Migas di Sidoarjo,” pungkasnya. (SKM/VIS)






