INDONESIA VISIONER – SIDOARJO, Lapindo Brantas Inc kembali menemukan bukti keandalan casing pada sumur-sumur minyak dan gasnya. Bukti kali ini diperoleh dari keberhasilan mengangkat packer 7 inci dalam proses Work-over sumur Wunut 19.
Packer 7 inci yang berhimpitan dengan casing ini bisa diangkat dalam posisi utuh. Hal ini memperkuat bukti-bukti sebelumnya bahwa kondisi di bawah permukaan lapangan Wunut yang hanya berjarak 1,5 KM dari pusat semburan aman dari dampak semburan lumpur.
“Jika benar ada penurunan tanah apalagi patahan, pastilah Packer ini tidak akan bisa diangkat dalam proses Work-over. Ternyata, Packer-nya bukan hanya bisa diangkat, tetapi kondisi benar-benar sangat bagus. Ini menjadi bukti tidak ada penurunan tanah atau patahan,” tegas Vice President Corporate Communication Lapindo Brantas Inc, Hesti Armiwulan didampingi Vice President Operations Lapindo Brantas, Harsa Harjana kepada wartawan, setelah acara buka bersama yang di hadiri bupati beserta forum pimpinan daerah, Selasa (21/06/2016).
Keberhasilan mengangkat Packer yang berukuran 7 inci ini, lanjut Hesti, memperkuat bukti-bukti yang pernah disampaikan Lapindo Brantas pada Dewan Riset Daerah (DRD) Jatim tentang integritas atau keandalan casing pada sumur-sumur yang ada di lapangan Wunut dan Tanggulangin.
“Sumur Wunut 19 ini sudah pernah di-Work-over pada tahun 2013. Sekarang di tahun 2016 dilakukan Work-over lagi. Hasilnya, Packer-nya bisa dicabut dengan aman, peralatan bisa menyentuh dasar sumur. Ini membuktikan kondisi casing di sumur-sumur itu tidak ada yang bengkok,” kata Hesti Armiwulan.
“Dari hasil workover ini akan kami upayakan warga sekitar sumur yang telah terinstalasi jargas akan segera teraliri gas. Kami akan koordinasi dengan SKK Migas selaku regulator, Pertagas sebagai pengelola jargas, dan pihak terkait, untuk mengupayakan hal tersebut,” imbuh Hesti.
Vice President Public Relation LBI, Hesti Armiwulan, menambahkan pihaknya akan segera memenuhi permintaan gas untuk bisa mengaliri 3.500 jaringan gas (jargas) di Tanggulangin dan sekitarnya. Jargas tersebut mangkrak selama beberapa tahun karena hasil lifting yang minim.
Hesty mengklaim hasil kajian workover mendapati fakta bahwa SW 19 yang lokasinya paling dekat dengan pusat semburan lumpur tak memiliki pengaruh.
Hal ini akan ia jadikan dasar ilmiah untuk rasionalisasi pengeboran pengembangan di Sumur Tanggulangin( ST) Desa Kedungbanteng.
“Tapi tetap harus sesuai izin SKK Migas dan juga pihak-pihak terkait lainnya. Saat ini, kami sedang fokus untuk sosialisasi ke masyarakat yang dibantu pihak Pemkab terkait rencana ini,” paparnya.
Data integritas casing di atas, lanjutnya, membuktikan sumur-sumur gas Lapindo Brantas yang dibor pada kedalaman 3.000 kaki atau sekitar 1.000 meter tidak terimbas semburan lumpur panas.
“Total ada 21 sumur di Wunut dan 5 Sumur di Tanggulangin, termasuk 3 sumur yang ada di Desa Kedungbanteng. Semua sumur itu tidak ada yang terimbas semburan lumpur atau pun deformasi yang sering dibicarakan. Hasil Work-over di Tahun 2016 ini memperkuat bukti itu,” kata Harsa.
Ditambahkannya, selama ini ada asumsi bahwa ada semburan lumpur telah mengakibatkan penurunan tanah. Alasan itulah yang dipakai untuk mengatakan bahwa rencana pengeboran sumur pengembangan Tanggulangin 10 dan Tanggulangin 6 berbahaya.
“Namun faktanya kegiatan Work-over sejak Tahun 2013 selalu berjalan aman. Kalau terimbas semburan lumpur panas, penurunan tanah apalagi patahan pasti casingnya akan bengkok dan kegiatan Work-over tidak bisa dilakukan. Namun, buktinya alat yang dimasukkan ke casing dengan ukuran 6 1/9 inci bisa masuk hingga ke dasar sumur,”paparnya. (SKM-VIS)






