
Jakarta tak hanya jadi tuan rumah lomba lari berskala dunia. Melalui Jakarta International Marathon (JAKIM) 2025, kota ini membuktikan bahwa event olahraga bisa menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat sekaligus ruang diplomasi budaya global.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, saat membuka ajang lari tersebut, menyebut JAKIM sebagai bagian dari langkah menjadikan Jakarta sebagai kota global yang hidup, ramah, dan inklusif. “Kota ini harus berdenyut, bukan sekadar berdiri. JAKIM menjadi ruang warga, pelari, UMKM, dan budaya bisa berpadu,” kata Pramono.
JAKIM tahun ini mencetak rekor: 31.000 peserta, termasuk 631 pelari asing dari 51 negara. Ribuan warga memadati rute lari dari Monas hingga Bundaran HI, tidak hanya menonton, tapi juga berbelanja di lapak kuliner, menikmati pertunjukan seni jalanan, dan ikut merayakan wajah baru Jakarta yang terbuka.
Transportasi publik menjadi tulang punggung kelancaran acara. Rute TransJakarta diperpanjang, MRT dan LRT diberlakukan tarif gratis untuk peserta dan pendukung lomba, serta jalur pedestrian disulap menjadi koridor budaya. Ini sekaligus jadi simulasi awal untuk mendukung rencana Electronic Road Pricing (ERP) dan Jakarta ramah pejalan kaki.
Jaringan Masyarakat Madura Jakarta (JAMMA), menyambut ajang ini sebagai momen penting. “UMKM dari komunitas Madura, mulai dari soto khas, camilan, sampai minuman tradisional, ikut meramaikan. Ekonomi rakyat tak hanya hidup, tapi bangkit,” ujar Ketua Umum JAMMA, Edi Homaidi, Minggu (29/6) di Jakarta.
Edi juga menyampaikan bahwa JAMMA menurunkan 60 relawan untuk membantu pengelolaan lapak komunitas serta sosialisasi zona bebas sampah dan kawasan bebas rokok di sekitar area lomba. “Kami tak sekadar mendukung, tapi ikut mengawal nilai-nilai yang dibawa Jakarta baru: sehat, terbuka, ramah lingkungan.”
Selain ekonomi, JAKIM 2025 turut menjadi panggung budaya. Penari Betawi, perkusi Madura, dan mural jalanan menghiasi titik-titik pitstop peserta. Inilah wajah Jakarta yang plural, di mana olahraga bukan hanya ajang kompetisi, tapi juga integrasi sosial dan ekspresi budaya bersama.
Pemprov DKI menyebut JAKIM berdampak pada kenaikan omzet UMKM 2–3 kali lipat di wilayah Monas, Tanah Abang, dan Menteng. Hotel-hotel sekitar mencatat tingkat keterisian lebih dari 90 %. Gubernur Pramono menegaskan, “Kami ingin JAKIM tidak berhenti sebagai event tahunan, tapi menjadi fondasi kota global yang melibatkan warganya.”
JAMMA mendorong agar Pemprov menginstitusikan kalender event tahunan berbasis budaya dan komunitas. “Setiap bulan harus ada ruang untuk warga tampil, berdagang, berlari, atau berpentas. Jakarta jangan hanya ramai saat acara, tapi hidup setiap harinya,” tegas Edi.
Langkah Jakarta menjadi kota global bukan soal label internasional. Ia dibangun dari warung kaki lima yang tak tutup, warga yang bisa jalan kaki dengan aman, pelari yang merasa disambut, dan komunitas yang merasa terlibat. Dari JAKIM 2025, Pramono telah menyalakan harapan itu—tinggal kita jaga agar apinya tetap menyala.





