
JAKARTA,- Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keberpihakan pada keadilan sosial melalui keputusan merehabilitasi dua guru asal Luwu Utara, Abdul Muis dan Rasnal. Rehabilitasi ini dinilai sebagai koreksi terhadap ketidakadilan yang sempat mereka alami. Keputusan tersebut dipandang publik sebagai langkah yang menegaskan bahwa profesi guru harus diberi perlindungan penuh oleh negara.
Sebagai Ketua Pemuda Aceh Jakarta, Wanda Assyura melihat masyarakat menilai kebijakan ini sebagai respons cepat terhadap persoalan yang menyangkut martabat guru. Banyak warga merasa langkah Presiden tidak hanya memulihkan status kepegawaian dua guru tersebut, tetapi juga memulihkan rasa percaya publik terhadap negara. Keputusan ini menghidupkan kembali optimisme di kalangan pendidik.
Banyak kelompok masyarakat menilai rehabilitasi tersebut sebagai tindakan yang memberi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak tinggal diam ketika tenaga pendidik menghadapi tekanan atau proses hukum yang tidak proporsional. Mereka menganggap keputusan ini menunjukkan penghargaan negara terhadap peran penting guru dalam membangun generasi bangsa. “Masyarakat melihat langkah ini sebagai wujud nyata penghormatan negara terhadap guru yang telah mengabdikan hidupnya demi pendidikan,” ujar Wanda kepada awak media, Jumat (14/11/2025).
Di berbagai daerah, saya menerima banyak masukan dari pendidik dan pemuda yang menyambut baik keputusan tersebut. Banyak dari mereka merasa lebih dihargai karena negara memberi ruang pemulihan yang layak bagi pendidik yang dirugikan. Rehabilitasi ini dinilai tidak hanya menyelesaikan kasus individual, tetapi juga memperkuat posisi moral guru sebagai pilar pendidikan nasional.
Langkah ini selaras dengan arah besar pemerintah dalam memperkuat sektor pendidikan. Anggaran pendidikan 2026 sebesar Rp757,8 triliun menjadi dasar penting untuk memperluas akses pembelajaran, memperbaiki sekolah, dan memperkuat transformasi digital. Masyarakat melihat dukungan anggaran tersebut sebagai komitmen nyata bahwa pendidikan menjadi prioritas utama pemerintah. “Masyarakat melihat langkah ini sebagai wujud nyata penghormatan negara terhadap guru yang telah mengabdikan hidupnya demi pendidikan,” ujar Wanda.
Selain dukungan anggaran, pemerintah juga mengalihkan dana sitaan mafia kebun sawit lebih dari Rp13 triliun untuk memperkuat beasiswa LPDP. Kebijakan ini dinilai progresif karena mengubah dana bermasalah menjadi kesempatan pendidikan bagi generasi muda. Banyak pelajar kini memiliki peluang lebih besar melanjutkan studi tanpa hambatan pembiayaan. Kebijakan ini disambut positif oleh publik.
Program-program pemerataan pendidikan seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, serta pembangunan kampus unggulan menunjukkan upaya konsisten pemerintah memperbaiki pendidikan dari hulu ke hilir. Program magang nasional juga memperluas kesempatan bagi lulusan baru memasuki dunia kerja dengan pengalaman yang relevan. “Masyarakat melihat langkah ini sebagai wujud nyata penghormatan negara terhadap guru yang telah mengabdikan hidupnya demi pendidikan,” terang Wanda Assyura.”
Dalam banyak diskusi publik, saya mendengar bahwa masyarakat memandang langkah Presiden sebagai bagian dari upaya komprehensif untuk menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur pendidikan, tetapi juga memulihkan martabat pihak yang berperan langsung dalam mencerdaskan bangsa. Hal ini memperkuat legitimasi moral pemerintah.
Pada akhirnya, rehabilitasi Abdul Muis dan Rasnal menjadi simbol bahwa negara menghargai pengabdian pendidik dan tidak membiarkan ketidakadilan berjalan. Masyarakat berharap langkah seperti ini terus diperluas untuk menjaga martabat profesi guru di seluruh Indonesia. “Masyarakat melihat langkah ini sebagai wujud nyata penghormatan negara terhadap guru yang telah mengabdikan hidupnya demi pendidikan,” pungkas Wanda Assyura.”





