Jakarta, Indonesia Visioner – Antara Jam 3 sore sampai 7 malam, waktu dimana hampir semua pekerja kantoran sedang berhamburan keluar untuk memacetkan jalanan ibu kota Negara.
Dalam Kamus Besar .Bahasa Indonesia v1.1, macet didefinisikan sebagai tidak dapat berfungsi dengan baik. Dalam hal ber-lalu lintas, maka macet berarti terhentinya pergerakan kendaraan karena suatu keadaan yang tidak biasa. Sederhananya macet adalah terhentinya atau tidak berjalannya suatu proses sebagaimana keadaan yang semestinya.
Kenapa tiba-tiba saya tulis tentang macet? Karena macet orang bisa terlambat masuk kuliah, lebih parahnya sebahagian besar orang tidak melaksanakan sholat magrib tepat pada waktunya. Dan masih banyak hal-hal lain yang terhambat akibat macet.
Katanya, macet itu bertanda kota itu maju, karena banyak kenderaannya. Sederhananya Macet itu, karena Ruas jalan yang Semakin kecil, Volume kendaraan yang semakin bertambah. Jadi kesimpulannya, akibat macet adalah semakin bertambahnya kenderaan yang tidak berbanding lurus dengan ketersediaan jalan raya.
Pada tahun 1978 ada seorang pendeta dari Inggris bernama Thomas Robert Malthus mengeluarkan sebuah buku dengan judul An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society. Inti pemikiran Malthus menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk cenderung melampui pertumbuhan persediaan makanan. Pernyataan Thomas ini kemudian disambut pemerintahan Indonesia dengan mengeluarkan sebuah kebijakan di Jaman Orba bernama Keluarga Berencana (KB), dengan pesan yang agak berbau ancaman ” dua anak sudah cukup ” menghantarkan Soeharto ke New York untuk menerima penghargaan bidang kependudukan dari Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 1988.
Salah satu cara mengurai macet jakarta, mesti meniru gaya kebijakan Orba tentang Keluarga Berencana “dua kenderaan saja sudah cukup”, siapa tahu Jokowi sebagai presiden dan Ahok sebagai Gubernur diberi penghargaan lebih oleh masyarakat Jakarta, minimal terpilih kembali adi Presiden dan Gubernur. Sebenarnya Macet itu ada baiknya. Akibat macet orang tidak ketiduran, kelupaan, kelalaian,. Bila ada yang mengalami “tiga ke” diatas pasti dia akan mendapatkan ke-Macetan dijalan. Sebagai orang yang datang dari desa ke-macetan adalah penguji ke-sabaran dan ke-tabahan.
Sore tadi saya terkena dampak dari “tiga ke”, saya terlambat masuk kelas dan menjamaq sohot magrib. Diam-diam dalam hati, timbul sebuah pertanyaan yang agak “nakal”, apakah perlu ada dekonstruksi ulang fiqih tentang alasan menjamaq sholat. Sebab kalau tidak ada, bisa dipastikan sekian ribu pengendara akan meninggalkan magrib akibat terjebak macetnya jakarta.
Itulah macet, cenderung paradoks. Di satu sisi membuat orang bisa dipecat dari pekerjaannya dan terlambat beribadah, disisi yang lain dia sedang memberikan pelajaran berharaga tentang kesabaran dan ketabahan.
(Penulis adalah Oumo Abdul Syukur Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Nasional, Magister Komunikasi Politik)


