
Jakarta (VISIONER) – Perum Bulog mencatatkan kinerja keuangan yang membanggakan pada 2024 dengan pendapatan Rp 60,2 triliun dan laba Rp 66,12 miliar, sekaligus menjaga laporan keuangan wajar tanpa pengecualian. Direktur Gagas Nusantara Romadhon Jasn memuji capaian ini sebagai bukti ketangguhan Bulog dalam menjalankan mandat ketahanan pangan nasional.
Bulog berhasil menyerap 831.598 ton beras petani lokal, melampaui 138,6 persen dari target 600 ribu ton. Capaian ini menegaskan peran strategis Bulog dalam mendukung petani dan menjaga stabilitas pasokan beras di tengah tantangan iklim dan harga.
Namun, impor beras sebesar 3,8 juta ton masih menjadi sorotan. Romadhon menilai ketergantungan ini mencerminkan tantangan struktural dalam produksi beras domestik. “Kedaulatan pangan harus jadi prioritas. Bulog perlu didukung kebijakan yang memperkuat petani lokal,” ujarnya, Selasa (29/4/2025)
Di sisi distribusi, Bulog nyaris sempurna dengan menyalurkan 1,97 juta ton bantuan pangan, atau 99,44 persen dari target 1,98 juta ton. Keberhasilan ini menunjukkan komitmen Bulog memastikan akses pangan bagi masyarakat rentan di tengah tekanan inflasi global.
Stok beras premium dan komersial juga mencapai 1,96 juta ton, atau 163,55 persen dari target. Menurut Romadhon, ini membuktikan Bulog mampu menyeimbangkan tanggung jawab sosial dan daya saing pasar. Namun, ia menekankan perlunya strategi jangka panjang untuk mengurangi impor.
Gagas Nusantara mendorong investasi pada teknologi pertanian, seperti benih unggul dan digitalisasi rantai pasok, untuk meningkatkan produktivitas petani. Romadhon juga mengusulkan insentif harga kompetitif bagi petani dan pengembangan infrastruktur irigasi guna memperkuat produksi lokal.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Pemerintah, swasta, dan akademisi perlu bersinergi membangun ekosistem pertanian tangguh. “Bulog punya modal kuat dari kinerja 2024 untuk memimpin transformasi ini, tapi butuh dukungan kebijakan yang fokus pada kemandirian,” kata Romadhon.
Ia menambahkan, keberhasilan Bulog tidak boleh membuat lengah. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok, tetapi kemandirian produksi. Dengan kebijakan tepat, Indonesia bisa menekan impor dan membangun sistem pangan yang lebih mandiri.
Romadhon optimistis Bulog berada di jalur yang benar. “Capaian 2024 adalah langkah besar. Gagas Nusantara mendukung Bulog mempercepat upaya menuju kedaulatan pangan, demi kesejahteraan petani dan stabilitas ekonomi nasional,” tutupnya.





